Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tragis! Santri Meninggal Usai Dilempar Kayu Berpaku oleh Ustadnya

I Made Mertawan • Minggu, 29 September 2024 | 14:08 WIB
Para santri beraktivitas di halaman pondok pesantren yang diduga tempat peristiwa kasus ustad lempar kayu ke anak didiknya.
Para santri beraktivitas di halaman pondok pesantren yang diduga tempat peristiwa kasus ustad lempar kayu ke anak didiknya.

BALIEXPRESS.ID- Seorang santri harus kehilangan nyawa setelah diduga mengalami tindakan kekerasan  di pondok pesantren wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Santri yang masih di bawah umur itu meninggal dunia diduga setelah dilempar kayu berpaku oleh ustadnya.

Peristiwa tragis santri tersebut terjadi pada Minggu (15/9/2024) sekitar pukul 06.00 WIB di lingkungan ponpes, di luar jam sekolah.

Berdasarkan keterangan yang diterima, saat itu korban bersama temannya diminta oleh sang ustad untuk mandi dan melaksanakan salat Duha.

Namun, korban tidak menghiraukan arahan tersebut, yang diduga membuat ustad terpancing emosi.

“Ustad itu melempar kayu ke arah santri dan tidak sengaja mengenai bagian kepala anak didiknya itu. Tak disangka, ternyata pada kayu itu tertancap paku yang diduga mengenai kepala belakang korban,” ujar Plt Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kemenag Kabupaten Blitar, Syaikhul Munib pada Jumat (27/9/2024).

Akibat kejadian itu, korban langsung tak sadarkan diri. Ia segera dilarikan ke RSUD Srengat untuk mendapatkan pertolongan medis.

Namun pihak ponpes merasa penanganan di rumah sakit tersebut kurang memadai.

Korban kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Kabupaten Kediri (RSKK) untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Sayangnya, upaya medis di rumah sakit tersebut tak mampu menyelamatkan nyawa korban.

Setelah dua hari menjalani perawatan, korban dinyatakan meninggal dunia pada Selasa (17/9/2024).

“Tindakan ustad atau pengajar melempar kayu kepada santri itu tidak dibenarkan. Kami harap kejadian ini tidak terjadi lagi. Kami terus berkomunikasi dengan pihak ponpes untuk penanganan yang terbaik, karena peristiwa ini menghilangkan nyawa anak-anak,” ungkapnya.

Munib menambahkan bahwa Kemenag Kabupaten Blitar akan semakin intensif dalam melakukan pembinaan kepada lembaga pendidikan agar tercipta lingkungan belajar yang aman dan ramah anak.

Pihak kepolisian kini sedang melakukan penyelidikan terkait insiden ini. Beberapa saksi telah dimintai keterangan, termasuk dari pihak ponpes dan keluarga korban.

Pihak ponpes dilaporkan bersedia untuk bersikap kooperatif selama proses penyelidikan berlangsung.

Kasi Humas Polres Blitar Kota, Iptu Samsul Anwar menjelaskan bahwa tim medis di RSKK tidak dapat melakukan tindakan operasi karena kepala korban mengalami pendarahan.

Polres Blitar Kota telah melakukan penyelidikan terhadap kasus ini dengan menerbitkan surat perintah pemeriksaan.

Sejumlah pihak terkait telah dimintai keterangan, termasuk ustad yang diduga terlibat, guru madrasah, pemilik ponpes, serta pihak rumah sakit.

Namun, proses hukum ini terkendala karena pihak keluarga korban belum dapat dimintai keterangan.

“Kami sudah berusaha untuk memanggil keluarga korban. Namun tidak kunjung menghadiri undangan kami. Korban hanya tinggal dengan neneknya, karena bapak dan ibunya bekerja di luar negeri dan tidak bisa dihubungi,” pungkasnya. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
#Satri #blitar