BALI EXPRESS, DENPASAR - Bali akan memilih pemimpin baru. Bagi I Gede Ngurah Wididana alias Pak Oles, masyarakat mesti cerdas menentukan pilihan. Baginya Bali membutuhkan pemimpin yang santun dan cerdas. Bali butuh pemimpin yang Yama Niyama Brata.
Menurut Ketua Bapilu DPD Demokrat Bali ini masyarakat yang bisa cerdas menentukan pemimpin, memilih pemipin akan menghasilkan pemimpin yang cerdas. “Masyarakat mesti cerdas menentukan dan memilih pemimpin. Untuk bisa mendapatkan pemimpin yang cerdas,” jelas Pak Oles.
Politisi asal Bengkel, Buleleng ini mengatakan Bali membutuhkan pemimpin ibarat bintang, ibarat kartika. Yang bisa menjadi contoh dan panutan masyarakat. “Apa yang dipikirkan, itu yang dikatakan dan itu yang dilaksanakan. Bisa menjadi panutan ibarat bintang atau kartika,” ujar Mantan Ketua DPD Hanura Bali ini.
Dia mengatakan, karakteristik Bali yang mesti tetap nyaman dan damai. Tidak penuh gejolak dan tetap menjadi daerah yang ramah, memerlukan pemimpin yang santun. Baginya santun itu bukan kalem, tidak bicara namun bertutur kata dengan etika, bekerja dengan tanggungjawab, menghargai orang lain dan tanpa pamrih.
Kemudian santun itu, juga bisa menjadi nanti sosok pemimpin yang tidak memanfaatkan kekuasaan untuk segala tujuan. “Tidak mencari kesempatan untuk diri sendiri. Namun santun juga sosok jujur dan mampu memberikan perubahan,” tambah Mantan Calon Wakil Gubernur Bali ini.
Ketika sosok santun didapatkan, mesti juga mendapatkan sosok cerdas. Cerdas dalam pemikiran, kata – kata dan perbuatan. Memiliki keberanian namun tetap dilandasi etika dan santun. “Sosok santun dan cerdas yang utama. Nantinya ketika sosok cerdas memiliki kemampuan yang luar biasa dalam ide – ide dan perubahan, tetap akan mengedepankan etika dan sopan satun,” urai Mantan Anggota DPRD Bali dua periode ini.
Selain itu Bali mestinya bisa memiliki pemimpin yang Yama Niyama Brata. Dia mengatakan, Yama berarti pengendalian diri atau pengekangan diri, Niyama artinya kewajiban atau sumpah, dan brata berarti perbuatan suci seperti berpuasa atau bertapa. “Pengendalian diri atau usaha-usaha untuk mengatur diri sendiri dengan lebih cermat guna mengendalikan nafsu indria dan berpantang melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama,” jelasnya. “Sedangkan Niyama Brata berarti sumpah atau janji kepada diri sendiri agar mampu berbuat, mampu mengatur diri dengan lebih ketat dan sekaligus berpantang terhadap larangan agama,” sambungnya.
Bagi Pak Oles, dengan konsep Yama Niyama Brata ini pemimpin mesti bisa mengekang diri, rendah hati, setia, tidak menggunakan kekarasan. “Kata – katanya menyejukan, bukan malah memicu pertikaian,” pungkas alumnus Faculty Of Agriculture Universitas Of The Ryukyus Jepang ini.
Editor : I Putu Suyatra