BALIEXPRESS.ID- Wakil Bupati (wabup) Jembrana Gede Ngurah Patriana Krisna yang akrab disapa Ipat memantapkan langkah politiknya dengan bergabung sebagai kader PDIP.
Dengan demikian, keterikatan Ipat sebagai kader Partai Golkar dinyatakan telah berakhir.
Namun, perpindahan Ipat ini ternyata belum diketahui secara resmi oleh pengurus Partai Golkar.
Sekretaris DPD II Partai Golkar Jembrana I Nyoman Birawan mengaku mengetahui informasi tersebut justru dari pemberitaan media.
“Saya juga mau konfirmasi (kepada Ipat). Karena disebut sudah ber-KTA PDIP,” ujarnya.
Birawan menambahkan, hingga saat ini belum ada pernyataan lisan maupun tertulis dari Ipat mengenai pengunduran diri dari Partai Golkar.
Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Golkar milik Ipat pun belum dikembalikan.
Meski demikian, ia tidak mempermasalahkan keputusan Ipat tersebut karena hal itu merupakan hak politik setiap individu.
“Kembali kepada beliau sendiri, senangnya dimana. Beliau yang memutuskan,” ucapnya.
Senada disampaikan Ketua DPD II Partai Golkar Jembrana I Made Suardana.
Ia mengatakan, secara struktural, hubungan Ipat dengan Partai Golkar sejatinya sudah berakhir sejak masa pendaftaran Pilkada Jembrana lalu.
Saat itu, Ipat tidak mengikuti arahan partai dan justru mencalonkan diri melalui partai lain, sehingga diberhentikan dari kepengurusan Golkar.
“Terkait dengan Pak Ipat sudah selesai pada pendaftaran Pilkada,” tegas Suardana.
Terkait kepindahan Ipat ke PDIP, Suardana menilai hal itu adalah hak pribadi yang tidak bisa diintervensi.
Dikonfirmasi secara terpisah, Ipat membenarkan bahwa dirinya kini telah resmi menjadi kader PDIP dan sudah memiliki KTA partai tersebut.
Soal pengembalian KTA Partai Golkar, ia mengaku tidak menemukannya.
“Saya sudah mengembalikan kemarin, tapi (KTA) tidak ketemu. Apa yang mau dikembalikan,” katanya. “Saya sebenarnya masih Golkar atau nggak ya?” ucapnya heran.
Menurut Ipat, seharusnya jika dirinya dianggap sebagai kader Golkar, partai tersebut mendukungnya saat maju sebagai calon wakil bupati.
Namun nyatanya, ia tidak mendapatkan dukungan dari partai berlambang pohon beringin itu.
“Saya tidak dipecat atau tidak (dari Golkar), saya nggak ngerti juga. Saya merasa penggabengan kalau di Golkar, gara-gara itu (pencalonan),” ungkapnya.
Dengan alasan itu, Ipat memilih bergabung dengan PDIP. Ia merasa lebih cocok dengan ideologi dan suasana kekeluargaan yang kental dalam tubuh PDIP. (*)
Editor : I Made Mertawan