BALIEXPRESS.ID- Dalam rangka memperingati HUT ke-20, SMPN 6 Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, menggelar turnamen tenis meja tunggal putra dan putri tingkat SMP se-Bali. Event ini berlangsung pada 25-26 April 2025.
Kepala SMPN 6 Kintamani I Wayan Mustapayasa mengatakan turnamen ini disambut positif oleh sekolah-sekolah SMP di seluruh Bali.
Hal itu terlihat dari jumlah peserta yang mencapai 44 orang, terdiri atas 19 putra dan 25 putri. Mereka berasal dari SMP di tujuh kabupaten/kota di Bali.
“Hanya Kabupaten Jembrana dan Tabanan yang tidak mengirimkan perwakilan,” ujar Mustapayasa pada Minggu (27/4/2025).
Pada kategori putra, gelar juara I diraih I Made Satria Adi Wiguna dari SMPN 1 Sukawati.
Juara II diraih I Kadek Aryajuna Mulyawan dari SMPN 2 Ubud. Sedangkan juara III bersama diraih I Gede Windhu Suda Pratama (SMPN 6 Kintamani) dan I Dewa Gede Agung Sedana Putra (SMPN 3 Abiansemal).
Sementara itu, di kategori tunggal putri, juara I diraih Ni Kadek Nindy Dwi Jayanti dari SMPN 1 Singaraja.
Juara II diraih Putu Putri Indah Cahyani dari SMPN 3 Abiansemal. Adapun juara III bersama masing-masing diraih Putu Arwen Regina Putri (SMPN 6 Kintamani) dan Ni Made Randini Dwi Kirana (SMPN 5 Mengwi).
Mustapayasa menambahkan, kegiatan yang mengusung tema “Melalui Olahraga Kita Kuatkan Karakter Siswa” ini tidak hanya bertujuan untuk mengejar prestasi.
Turnamen ini sekaligus menjadi ajang berbagi program pembinaan atlet tenis meja antar-sekolah.
Sesuai arahan Ketua KONI Bangli I Wayan Diar, lanjut Mustapayasa, setiap sekolah di Bangli diharapkan memiliki minimal satu prestasi di bidang olahraga.
SMPN 6 Kintamani yang berlokasi di Desa Bayunggede memilih fokus pada cabang tenis meja dan atletik.
“Kebetulan kami punya atlet tenis meja yang sekarang sudah mau lulus, jadi kami harus mencari bibit atlet baru,” ujarnya.
Ia memastikan, turnamen tenis meja ini akan menjadi agenda rutin dua tahunan di sekolahnya.
Menurutnya, event seperti ini sangat penting untuk mengasah kemampuan siswa, mengingat turnamen tenis meja di Bangli masih tergolong jarang.
“Kalau hanya latihan saja, anak-anak bisa bosan,” tutur kepala sekolah asal Kayang, Desa Kayubuhi, Bangli ini. (*)
Editor : I Made Mertawan