Pertunjukkan Gamut (Gamelan Mulut) mampu menjadi daya tari bagi warga Jepang. Kelucuan, gerak tingkah, unik, berenergi dan pesan-pesan pertunjukan yang sangat memikat hati dengan suara khas topeng Man Kenyung.
Gamut yang diciptakan oleh I Made Wardana adalah karya seni baru yang menyuarakan gamelan Bali menggunakan Mulut dengan bantuan alat perekam Looper. Gamut menampilkan dua topeng khas yaitu Man Kenyung dan Bli Gamut. Kedua karakter topeng ini sangat populer pada masa Pandemi Covid-19.
Baca Juga: Pedagang Pasar Rakyat Tematik Wisata Semarapura Digratiskan Retribusi hingga Akhir Tahun 2023
Dalam sebuah wawancara dengan Yukako Yoshida associate Professor dari Tokyo University of Foreign Studies sebagai sponsor utama kegiatan ini menyatakan pihaknya telah melakukan penelitian terhadap pengaruh pandemi dengan seni pertunjukkan di berbagai daerah, namun Gamut masih sangat popular di Bali meski dalam situasi Pandemi.
“Gamut populer di Bali selama pandemi dan saya pikir itu adalah salah satu bukti bahwa seni pertunjukan Bali masih kreatif selama pandemi. Itu sebabnya saya mengundang Bli Ciaaattt ( I Made Wardana ) ke universitas (TUFS) agar warga Jepang tahu tentang seni pertunjukan yang menarik ini,” jelasnya.
Gamut adalah musik dengan potensi besar yang bisa dilakukan di mana saja dan berkolaborasi dengan berbagai jenis musik dan seni lainnya.
“Tokoh Man Kenyung pemalu, jadi menurutku dia agak mirip orang Jepang,” ujar Yukako.
Kegiatan Gamut di Jepang atau Gamut Japan Tour ini dilangsungkan dari tanggal 22 November - 5 Desember 2023 dengan beberapa kegiatan seperti Workshop Gamut di Ogawamachi, pengenalan budaya Bali di Nihon University, workshop Gamut Kecak di TUFS, pelatihan gamelan gong kebyar dengan Grup Otonimori dan pertunjukan drama tari janger bersama grup geguntangan Mametangan pimpinan Ako Mashino dari Tokyo Jepang.
Sementara itu, penciptan Gamut I Made Wardana menyebut pertunjukan drama tari Janger yang berkolaborasi dengan 2 tokoh Gamut sangat mengesankan bagi penonton.
“Penampilan gamut memikat dan menggoda. Interaktif ritmis gamut bersama penonton berlangsung seru. Kemudian drama tari janger dengan sentuhan komedi berbahasa campur Jepang, Bali, Indonesia, Inggris berhasil mencuri hati penonton. Penonton yang terdiri dari mahasisiwa, dosen, masyarakat Jepang sangat menikmati pertunjukan ini,” ujarnya.
“Ini adalah anugrah besar bagi saya sebagai seniman Gamut. Ketika masa sulit yang kita alami pada masa pandemi membuahkan karya seni yang tak terduga sebelumnya. Mungkin ini sudah menjadi jalannya sendiri. Berkarya dengan apa adanya, mengambil kisah nyata dan diminati banyak orang,” pungkas I Made Wardana.
Editor : Wiwin Meliana