Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

'Tiga Serangkai' Korban Pandemi Bangun Jurassic Pork dan Cocorn

Nyoman Suarna • Jumat, 21 Agustus 2020 | 01:03 WIB
caption

Pandemi Covid-19 tak membuat 'keder' semangat I Made Adi Purna Jaya, I Kadek Adiputra, dan I Made Suardana. Tiga serangkai berbeda latar belakang ini sepakat membangun usaha demi bertahan di tengah gejolak ekonomi. Pilihan jatuh pada usaha kuliner dengan nama Jurassic Pork dan Cocorn.


BAGI I Made Adi Purna Jaya, efek pandemi Covid-19 berdampak ke pekerjaan yang digelutinya. Ia yang sebelumnya menjadi marketing dealer mobil di bilangan Kediri, Tabanan pun sementara harus banting setir. "Jadi kami berupaya menyinkronkan diri di tengah situasi ini. Lalu melakukan 'perlawanan' untuk tetap bisa bertahan," ungkapnya bersemangat saat ditemui, Selasa (18/8).


Nah, ia pun memiliki teman I Kadek Adiputra, dan I Made Suardana yang ternyata sudah lebih dulu dirumahkan. Baik Adiputra dan Suardana, sebelumnya merupakan bartender di kawasan Seminyak, Kuta, Badung. "Jadi mereka sudah lebih dulu jualan. Sekitar sebulan lalu. Saya pun tertarik, dan akhirnya kami bergabung," ujar Adi Purna yang berasal dari Penebel, Tabanan.


Adiputra dan Suardana yang masing-masing asal Gerokgak Tengah, Tabanan dan Bebandem, Karangasem awalnya berjualan sate babi dan ayam. Kemudian kehadiran Adi Purna menambah menu berupa es kelapa muda dan jagung bakar. Dari sinilah nama Jurassic Pork dan Cocorn diambil. "Jurassic itu singkatan jujur dan asyik. Sedangkan pork, babi," ujar Adiputra menimpali.


Disinggung nama Jurassic Pork berikut logo mirip dengan film karya barat, Adiputra hanya tersenyum. "Rasanya cocok saja kedengarannya Jurassic Pork. Enak didengar saja sih," katanya.


Sementara Cocorn, merupakan singkatan coconut and corn, yakni kelapa dan jagung. "Jadi itu singkatan, karena saya tambahkan menu es kelapa dan jagung bakar," imbuh Adi Purna.


Menu ini dipilih, lantaran akrab dengan lidah masyarakat, khususnya anak muda. Cita rasa yang mantap serta harga yang bersahabat menjadi nilai tawar yang disajikan. Sehingga tempat jualan mereka yang berlokasi di Jalan Tanah Lot, tepatnya Banjar Batanpoh, Pandak Gede, Tabanan bisa jadi tempat berkumpul alias nongkrong. "Kami buka dari jam 3 sore sampai 10 malam," ujar Adi Purna yang merupakan alumni IHDN Denpasar.


Tidakkah canggung berjualan seperti ini? Adi Purna pun menjawab cepat. "Tentu saja awalnya kagok. Tapi kita sama-sama belajar dan mulai terbiasa," tandasnya.

Editor : Nyoman Suarna
#tabanan