Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Aci Tabuh Rah Pengangon Desa Adat Kapal Kembali Digelar, Terhitung Terlaksana 1.687 Kali

Putu Resa Kertawedangga • Selasa, 7 Oktober 2025 | 01:24 WIB

Pelaksanaan tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon di depan Pura Desa Lan Puseh, Desa Adat Kapal, Mengwi, Senin (6/10).
Pelaksanaan tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon di depan Pura Desa Lan Puseh, Desa Adat Kapal, Mengwi, Senin (6/10).

BALIEXPRESS.ID - Bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat, Senin (6/10) Desa Adat Kapal kembali menggelar tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon atau siat tipat bantal.

Tradisi ini dilaksanakan secara rutin, hingga tahun 2025 ini telah berjalan sebanyak 1.687 kali.

Aci Tabuh Rah Pengangon ini digelar untuk memohon kesuburan, lantaran awal pelaksanananya wilayah Kapal sempat mengalami paceklik.

Baca Juga: Kuta Rock City Festival 2025 Dapat Apresiasi dari Bupati Adi Arnawa

Sebelum Aci Tabuh Rah Pengangon dilaksanakan, dilakukan peed pamendak tirta Pura Purusada Desa Adat Kapal menuju Pura Desa lan Puseh Desa Adat Kapal.

Setelah itu dilakukan persembahyangan bersama yang diakhirinya pelaksanaan Aci Tabuh Rah Pengangon di area Pura Desa lan Puseh Desa Adat Kapal.

Namun lantaran tingginya antusias warga dalam pelaksanaan tradisi ini, siat tipat bantal kembali dilakanakan di depan pura dengan melibatkan ribuan masyarakat dari 18 Banjar.

Baca Juga: Disabilitas Rungu Wicara Jadi Korban Rudapaksa Tetangga Lansia

Berberda dengan tahun sebelumnya, Aci Tabuh Rah Pengangon kali ini dimeriahkan dengan lomba penjor hias, lomba membuat cane atau gebogan bungan, membuat tipat, dan lomba membuat lawar.

Bendesa Adat Kapal, Ketut Sudarsana mengatakan, siat tipat bantal atau Aci Tabuh Rah Pengangon telah dilaksanakan dari tahun 1338 Masehi.

Sehingga pada tahun 2025 ini kegiatan Aci Tabuh Rah Pengangon sudah dilaksanakan ke 1.687 kali.

Baca Juga: BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob di Sejumlah Pesisir Bali 7–11 Oktober 2025

“Tradisi, ini memang dilakukan setiap tahun secara turun temurun. Pelaksanaan upacara ini tak lain bertujuan untuk memohon kesejahteraan bagi seluruh krama Desa Adat Kapal,” ujar Sudarsana.

Pihaknya menyebutkan, awal mula adanya tradisi ini, pada waktu jagat Bali dipimpin oleh raja Ida Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

Sang raja saat itu mengutus patihnya bernama Ki Kebo Taruna atau Kebo Iwa datang memperbaiki Pura Purusada di Kapal.

Namun saat Kebo Iwa datang, warga Desa Kapal terserang musibah dan musim paceklik.

Saat itulah, Kebo Iwa memohon kepada Ida Bhatara yang berstana di Pura Purusada.

Kemudian dia mendapat petunjuk agar dilaksanakan upacara sebagai persembahan kepada Sang Hyang Siwa.

“Persembahan tersebut diwujudkan dengan mempertemukan Purusa dan Predana disimbolkan Tipat dan Bantal sehingga lahirlah tradisi aci tabuh rah pengangon. Jadi pertemuan antara purusa dan predana akan melahirkan kehidupan baru,” terangnya.

Pihaknya mengaku tradisi siat tipat bantal sangat ditunggu-tunggu masyarakat Badung maupun wisatawan.

Penamaan perang siat tipat bantal karena senjata yang digunakan warga adalah ketupat (ketupat dari beras) dan bantal (ketupat dari beras ketan).

“Pada intinya ini saya ibaratkan seperti wanita bertemu dengan seorang laki-laki yang akan menghasilkan kehidupan baru," paparnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#pura desa #desa adat #Aci Tabuh Rah Pengangon #tradisi #kapal