SINGARAJA, BALI EXPRESS - Langit Singaraja masih menyisakan warna pucat ketika Aqila sudah berdiri di Taman Kota. Embun belum sepenuhnya pergi, udara masih segar, dan sebagian orang mungkin masih terlelap. Tapi tidak dengan Aqila. Siswi itu justru tampak paling siap pagi itu—seragam rapi, wajah cerah, dan mata berbinar.
Ia datang bersama teman-teman sekelas dan guru pendampingnya. Ia ingin bertemu langsung dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti yang dijadwalkan hadir dalam kegiatan senam bersama ratusan siswa di Taman Kota Singaraja.
Aqila mengaku bangun lebih awal dari biasanya. Jam 4 pagi ia sudah terjaga. Bukan karena disuruh, bukan pula karena takut dimarahi guru. Ia punya misi pribadi.
“Supaya dapat barisan paling depan. Biar kelihatan. Mau salaman sama Pak Menteri juga,” ujarnya malu-malu sambil tersenyum.
Semangat itu terlihat dari gerakannya yang lincah. Ia tak menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Padahal, bagi anak seusianya, bangun sepagi itu bukan hal mudah. Namun pagi itu terasa berbeda. Ada rasa penasaran, ada kebanggaan, dan ada sedikit harap yang ia simpan.
Tak lama kemudian, rombongan Menteri tiba. Suasana yang tadinya santai mendadak berubah lebih riuh. Para siswa yang sebelumnya duduk santai langsung diarahkan ke lapangan untuk membentuk barisan. Guru-guru sibuk merapikan posisi muridnya. Panitia memberi aba-aba.
Baca Juga: Krisis 1.056 Guru di Buleleng: Distribusi Timpang, Pusat Janjikan Skema Komprehensif
Aqila bergerak cepat. Ia memastikan posisinya tepat di depan. Dan benar saja, ia mendapatkan barisan paling depan. Bahkan ia berdiri sejajar dengan Menteri. Wajahnya sempat menegang, campuran antara gugup dan bahagia.
Musik senam mulai diputar. Irama energik mengalun memenuhi taman kota. Sekitar 650 siswa bergerak serempak mengikuti instruktur. Di antara ratusan gerakan itu, Aqila terlihat begitu bersemangat. Tangannya terangkat tinggi, kakinya melangkah mantap mengikuti hitungan.
Sesekali ia melirik ke samping, memastikan bahwa ia benar-benar berada di dekat sosok yang sejak tadi ingin ditemuinya. Di sebelahnya, Abdul Mu’ti pun mengikuti gerakan senam dengan santai. Kehadirannya tak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar menyatu dalam aktivitas pagi itu.
Bagi banyak siswa, mungkin ini hanya kegiatan senam bersama. Namun bagi Aqila, ini lebih dari sekadar olahraga. Ini adalah momen yang akan ia ceritakan berulang kali di rumah nanti.
Senam pagi berlangsung tidak terlalu lama. Namun energi yang tercipta terasa hangat dan penuh antusiasme. Tepuk tangan terdengar ketika musik dihentikan. Keringat bercampur tawa, napas terengah berubah menjadi cerita yang saling dibagikan.
Begitu acara inti selesai, suasana kembali berubah. Kali ini bukan barisan rapi, melainkan kerumunan penuh semangat. Para siswa langsung mendekat ke arah Menteri. Ada yang membawa buku untuk ditandatangani, ada yang mengulurkan tangan untuk bersalaman, ada pula yang hanya ingin berfoto bersama.
Aqila tentu tak mau ketinggalan. Ia ikut mendekat, berusaha menjaga sopan santun di tengah antusiasme teman-temannya. Tangannya sempat terulur, lalu ia berhasil bersalaman. Wajahnya sumringah. Momen singkat itu terasa sangat berharga.
Tak hanya bersalaman dan berfoto, beberapa siswa bahkan sempat bernyanyi bersama. Suasana menjadi cair, jauh dari kesan formal. Menteri pun melayani dengan ramah, menyapa, tersenyum, dan berbincang ringan.
Di sudut taman kota, guru-guru tampak memperhatikan dengan bangga. Mereka melihat bagaimana kehadiran seorang pejabat negara bisa menjadi pengalaman berkesan bagi murid-muridnya. ***
Editor : Dian Suryantini