Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

45 Desa/Kelurahan di Bali Tak Gelar Bulan Bahasa, Koster Segera Ajak Dialog

Rika Riyanti • Minggu, 1 Maret 2026 | 14:40 WIB

AMAN: Gubernur Bali Wayan Koster
AMAN: Gubernur Bali Wayan Koster

 

BALIEXPRESS.ID - Gubernur Bali Wayan Koster berencana mengundang kepala desa dan lurah yang dilaporkan tidak menyelenggarakan kegiatan dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2026.

Langkah ini diambil setelah ia menerima laporan masih adanya wilayah administratif yang belum berpartisipasi dalam agenda tahunan tersebut.

“Saya dapat laporan ada desa/kelurahan yang belum melaksanakan Bulan Bahasa Bali, Pak Kadis PMD tolong catat nanti saya undang jangan lah dibilang panggil, ini untuk diajak ngobrol kenapa mereka tidak menyelenggarakan,” katanya di Denpasar, Sabtu (28/2).

Berdasarkan laporan yang diterimanya setelah pelaksanaan selama Februari 2026, tercatat masih ada 45 desa/kelurahan yang sama sekali tidak menggelar kegiatan.

Baca Juga: Serangan Israel ke Iran Picu Penutupan Ruang Udara, Sejumlah Penerbangan dari Bandara Ngurah Rai Terdampak

Selain itu, sejumlah desa adat dan lembaga pendidikan juga disebut belum ikut berpartisipasi.

Sejak pertama kali digelar pada 2019, Pemerintah Provinsi Bali mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Koster menilai kegiatan ini menjadi ruang regenerasi bagi generasi muda.

“Apa yang kita dapat, pertama anak-anak kita dari SD sampai perguruan tinggi ikut, berarti kegiatan ini wahana melakukan regenerasi, jadi seperti yang nyurat lontar dengan aksara Bali tidak hanya orang tua tapi anak-anak,” jelasnya.

Baca Juga: Koster Bakal Undang Desa Absen Kegiatan Bulan Bahasa Bali, Paling Banyak Bangli-Buleleng 

Menurutnya, generasi penerus sudah selayaknya berkomitmen melestarikan warisan budaya tersebut agar tetap hidup sepanjang Bali berdiri sebagai provinsi.

Untuk desa adat, Koster menyebut terdapat 12 desa adat yang belum menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali.

Namun ia memaklumi kondisi tersebut karena sebagian terkendala persoalan administratif dan belum menerima bantuan anggaran.

“Dari 1.500 desa adat ada beberapa yang tidak menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali, tapi kata Pak Sekda yang tidak karena ada masalah sehingga tidak dapat bantuan APBD untuk desa adat, jadi saya minta Kadis PMA segera selesaikan supaya 2027 bisa mengikuti pola yang dijalankan semua desa adat,” terang Koster.

Sikap tegas juga ditujukan kepada lembaga pendidikan.

Ditemukan masih ada SMA/SMK yang belum menggelar kegiatan, sementara seluruh SLB di Bali tercatat menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali.

Baca Juga: Banyak Peluang Terbuang, Bali United Harus Berbagi Poin dengan Persijap

Kepala Dinas Kebudayaan Bali Ida Bagus Alit Suryana memaparkan, selama 1–28 Februari 2026, Pemprov Bali menggelar 12 jenis kegiatan.

Pembukaan diawali dengan sesolahan, dilanjutkan utsawa nyurat aksara Bali di berbagai media yang diikuti 200 siswa SD, SMP, SMA/SMK, serta praktisi.

Selain itu, terdapat 17 lomba atau wimbakara yang melibatkan perwakilan kabupaten/kota dan masyarakat umum.

Kegiatan tersebut juga diikuti peserta daring dari luar Bali, seperti Lombok, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Yogyakarta, hingga Sulawesi, dengan total 1.168 peserta.

Baca Juga: Tak Perlu Antre Panjang, Klaim Bisa Dilakukan Online Dengan Aplikasi JMO

Dua kali widyatula atau seminar yang membahas lontar diikuti 958 peserta.

Kriyaloka atau lokakarya dihadiri 516 peserta, serta diskusi sastra yang melibatkan 183 peserta.

“Diadakan juga sasolahan atau panggung apresiasi sastra Bali berisi pertunjukan oleh 12 sanggar, lalu ruang belajar ramah anak oleh 525 siswa SD, reka aksara atau pameran pemajuan bahasa Bali dengan 1.429 pengunjung,” kata Bagus Alit.

Kegiatan lain meliputi festival mengetik aksara Bali menggunakan keyboard aksara yang diikuti 150 siswa SMA/SMK, konservasi 1.500 lontar, hingga penganugerahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama.

Baca Juga: Tak Perlu Antre Panjang, Klaim Bisa Dilakukan Online Dengan Aplikasi JMO

Dari total 1.500 desa adat di Bali, sebanyak 1.488 telah menyelenggarakan kegiatan, sementara 12 desa adat belum melaksanakan, masing-masing tersebar di Buleleng (dua desa), Badung (satu), Klungkung (tiga), Bangli (tiga), dan Gianyar (tiga).

Sementara itu, dari 716 desa/kelurahan di Bali, 671 sudah berpartisipasi dan 45 belum, terdiri atas sembilan desa/kelurahan di Badung, tujuh di Jembrana, 11 di Bangli, 11 di Buleleng, enam di Gianyar, dan satu di Klungkung.

“Yang tidak melaksanakan ada yang karena keterbatasan anggaran dan ada desa adat yang baru terbentuk dan ada yang masih melakukan upacara agama,” katanya.

Untuk lembaga pendidikan, sebanyak 498 SMA/SMK telah menggelar kegiatan, sementara tiga sekolah belum melaksanakan.

Adapun 16 SLB di Bali seluruhnya tercatat mengikuti Bulan Bahasa Bali 2026.(***)

Editor : Rika Riyanti
#wayan koster #bulan bahasa bali #denpasar #desa