Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Geger Dalem Pamutih (1); Pujaan Pejabat hingga Orang Berobat

I Putu Suyatra • Minggu, 25 Februari 2018 | 21:53 WIB
Pura  Geger Dalem Pamutih (1); Pujaan Pejabat hingga Orang Berobat
Pura Geger Dalem Pamutih (1); Pujaan Pejabat hingga Orang Berobat

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Pura Geger atau yang memiliki nama lengkap Pura Geger Dalem Pamutih adalah salah satu Pura Dang Kahyangan yang terdapat di Desa Adat Peminge, Kuta Selatan, Badung. Pura ini terkenal karena 'taksu'nya serta sejumlah kasus terkait pembangunan akomodasi pariwisata di dekatnya. Seperti apa sebenarnya keberadaan pura ini?


Angin laut berdesir, menerpa Pura Geger Dalem Pamutih yang terletak di pinggir tebing batu karang, wilayah Desa Adat Peminge, Kuta Selatan, Badung, Bali. Meski angin seolah berusaha menawarkan kesejukan, namun sinar mentari seperti enggan mengalah. Jadilah hawa sedikit panas yang mendera jro mangku serta pamedek (umat) yang tangkil bertepatan dengan rahina Tilem sasih Jyestha (11), Kamis (25/5/2017). Namun lama-lama hawa panas berkurang karena mentari mulai condong ke barat.


Di bawah Pura Geger, tepatnya di sebelah timurnya, laut biru menghampar. Sejumlah pemancing tampak sibuk memainkan jorannya, mencoba peruntungan di air yang mulai surut. Sedangkan sejumlah wisatawan domestik maupun mancanegara terlihat menikmati suasana pantai yang berhias batu karang. Mereka terlihat tak lupa mengabadikan indahnya pantai berpasir putih itu dengan kamera.


"Mulanya yang berstana di sini adalah Ratu Dalem Segara yang juga bernama Dalem Pamutih," tutur Jro Mangku Nyoman Repot yang bertugas melayani umat yang sembahyang ke pura Geger Dalem Pamutih.


Diceritakannya, suatu ketika, datanglah Dang Hyang Dwijendra atau Dang Hyang Nirartha ke pura tersebut. Sang Maharsi kemudian bersemedi di bawah pohon sawo kecik di sebelah selatan pura. Sekian lama Dang Hyang Nirartha bersemedi, akhirnya Beliau mendapat anugerah atau wahyu. Sebagai ungkapan kekaguman dan rasa syukur, Beliau kemudian memberikan nama Pura Geger.


Lalu apa sebenarnya makna Geger itu sendiri? Jro Mangku berusia 66 tahun tersebut mengatakan, pura tersebut berhubungan dengan taksu atau kekuatan yang melindungi warga sekitar atau setiap pamedek yang tangkil dari segala macam mara bahaya. Oleh karena itu, lanjut Jro Mangku, pujawali atau piodalan di pura tersebut yang dilaksanakan setiap tilem sasih kanem (keenam) disertai ritual nangluk merana atau penolak bala.


"Jadi saat pujawali juga dilaksanakan nangluk merana," jelasnya.


Belakangan, dikatakannya, PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Kabupaten Badung juga rutin melaksanakan ritual pacaruan segara (penetralisiran laut) di pura tersebut.


Jro Mangku yang masih terlihat lincah tersebut dengan semangat melanjutkan ceritanya. Ida Ratu Dalem Pamutih selaku penguasa di wilayah tersebut tidak sendirian. Layaknya penguasa, Beliau memiliki dua abdi setia, yakni Ida Sedahan dengan istrinya, Ida Gobleh. Hanya saja, keduanya berstana di beji atau yang disebut Taman. Letaknya sekitar 100 meter, persis di sela batu karang, pinggir pantai sebelah barat daya pura.


Pun keduanya memiliki lokasi berlainan, namun masih satu areal. "Selain itu, di pura ini juga ada rai (adik) dari sugra pakulun Ratu Gede Dalem Ped atau Ratu Gede Macaling, yang bernama Ida Ratu Manik Mancawarna. Bentuknya adalah rangda," terangnya.


Lalu apa saja biasanya permintaan umat yang tangkil ke Pura Geger Dalem Pemutih? Ditanya begitu, Jro Mangku Nyoman Repot mengatakan beragam. Namun yang paling banyak, seingatnya ada tiga. Pertama, kata dia, mohon taksu balian, matatamban (berobat), serta taksu kepemimpinan. Ada pula umat yang sembahyang sekadar mengucapkan terima kasih atau mohon kesucian. Oleh karena itu, pamedek yang tangkil biasanya diarahkan malukat ke Taman dahulu, khususnya yang matatamban. Setelah itu, barulah yang bersangkutan sembahyang di bawah pohon sawo kecik, lanjut ke jeroan pura.


Berkaitan dengan taksu kepemimpinan, Jro Mangku mengaku banyak pejabat yang tangkil ke pura tersebut, khususnya orang-orang yang memegang tampuk kepemimpinan di 'Gumi Keris' alias Badung. "Hampir setiap Bupati Badung pernah tangkil ke sini," ujar Jro Mangku yang 'ngayah' semenjak tahun 2003 silam tersebut.


Mengenai larangan sesajen atau haturan yang dipersembahkan di pura, Jro Mangku mengatakan tidak ada pengharusan atau pembatasan. Ia menyerahkan kepada umat yang bersangkutan sesuai kemampuannya. "Jadi tidak ada larangan. Seperti daging babi misalnya, itu diperbolehkan. Jadi sakasidan pamedek (semampu umat)," jelasnya.


Pura Dang Kahyangan yang katanya sudah masuk catatan PHDI Provinsi Bal itu, lanjut Jro Mangku Repot pernah dipugar sekitar tahun 1989 berdasarkan bantuan perusahaan swasta. Dengan demikian, pura yang semula sangat sederhana dan didominasi oleh susunan batu, kini telah terdesain cukup modern dengan batuan warna putih serta memiliki kori agung dari beton. (bersambung)

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura #badung