Penyusun Kalender Bali Gede Marayana membeberkan, dari tumpek Kuningan ke Tumpek Krulut berjarak 35 hari. Selanjutnya, dari Tumpek Krulut ke Tumpek Uye berjarak 35 hari. Dari Tumpek Uye ke Tumpek Wayang berjarak 35 hari. Dari Tumpek Wayang kembali ke siklus tumpek landep berjarak 35 hari.
“Dari sini dapat dikatakan, kalau kita ingin menghitung jumlah hari dari satu tumpek lalu kembali ke tumpek tersebut berjarak 210 hari (6 bulan Bali). Dengan demikian, praktis umat Hindu merayakan suatu jenis tumpek (misalnya, Tumpek Wayang) setiap 6 bulan sekali,” katanya.
Dikatakan Marayana, dewa yang menjadi ista dewata saat perayaan tumpek pun berbeda-beda. Sebut saja saat Tumpek Landep Ista Dewatanya adalah Ida Bhatara Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu.
Saat Tumpek Wariga maka yang dipuja adalah Sang Hyang Sangkara atau dewanya tumbuh-tumbuhan. Sedangkan saat Tumpek Kuningan yang dipuja adalah Dewa (Bhatara) dan leluhur (Pitara).
Kemudian saat Tumpek Krulut ista dewatanya adalah Dewa Iswara. Mereka memiliki keyakinan bahwa suara cantik yang muncul dari gambelan adalah representasi dari Dewa Iswara.
Selanjutnya Tumpek Uye yang dipuja adalah Sang Hyang Siwa Pasupati yang disebut Rare Angon. “Kalau Tumpek Wayang yang dipuja adalah Sang Hyang Iswara. Nah karena konsepnya nemu gelang, inilah yang membuat tumpek itu sangat disakralkan dan menjadi momentum melakukan pemujaan,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya