BULELENG, BALI EXPRESS -Dalam pelaksanaan upacara agama Hindu, sarana api banyak digunakan, seperti dhupa, dipa, api, takep hingga pasepan.
Api sakral ini merupakan api yang suci yang diperoleh melalui pemujaan dengan mantra-mantra.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan, untuk di Bali, api takep merupakan salah satu sarana yang acap kali digunakan dalam berbagai upacara agama.
Api takep adalah api sebagai sarana upacara dengan nyala bara menggunakan kulit kelapa yang sudah kering atau sabut.
Sabut kelapa yang dicakupkan posisinya menyilang dan berbentuk tapak dara yang merupakan inti dari swastika.
Api takep ini berfungsi sebagai pengharmonis, pembersihan dan pemurnian lingkungan.
Dikatakan Nyoman Suardika, api takep dalam caru sasih fungsinya sebagai salah satu upaya niskala yang sangat penting dilakukan agar terhindar dari pengaruh kala.
Selain itu, api takep dapat difungsikan sebagai perlengkapan sesuwuk yang ditaruh di lebuh atau depan rumah.
Tujuannya untuk menetralkan kekuatan- kekuatan jahat agar menjadi suatu kekuatan yang baik.
Saat kajeng kliwon enyitan, api takep dari dua buah sabut kelapa tersebut biasanya disertai dengan segehan, beras dan tetabuhan berupa air, tuak, arak serta berem.
“Ini berfungsi untuk menetralisasi dan menghilangkan pengaruh negatif sekitar rumah,” imbuhnya.
Sarana selanjutnya yang juga tidak ketinggalan digunakan sebagai simbol dari api adalah dupa.
Nyala bara dupa yang berisi wangi-wangian atau astanggi dipakai dalam upacara dan untuk menyelesaikan upacara.
Sedangkan dipa adalah api yang nyalanya sebagai lampu yang terbuat dari minyak kelapa, yang merupakan alat penting dalam upacara agama.
Pasepan yang juga api sebagai nyala bara yang ditaruh di atas tempat tertentu atau dulang kecil yang diisi dengan potongan kayu yang dibuat kecil-kecil dan kering.
Biasanya dipilih potongan kayu yang mengeluarkan bau yang harum, seperti kayu cendana, kayu menyan, kayu majegau, dan lainnya.
Suardika menyebut, penggunaan dhupa, api takep dan pasepan biasanya mengeluarkan asap.
Sedangkan penggunaan dhupa biasanya mengeluarkan nyala yang terang, semua sarana api tersebut memiliki makna tertentu.
Ada ditegaskan bahwa dhupa merupakan lambang akasa tattwa, sedangkan dipa merupakan lambang sakti tattwa.
Dalam Wedaparikrama apabila sarana api belum ada dalam upacara agama, maka suatu persembahan dapat dikatakan belum lengkap.
Karena dengan api umat Hindu dapat melaksanakan persembahan atau korban suci dengan sempurna.
Sarana api untuk penyucian, sarana api dapat menghalau roh-roh jahat atau mendatangkan pengaruh-pengaruh yang baik, karena api sebagai pengantar, sebagai pimpinan upacara, dan sebagai saksi pelaksanaan upacara.
“Api sebagai sarana upacara agama yang dipentingkan adalah api yang mengeluarkan asap yang berbau harum dan sangat dihindari penggunaan api yang terbuat dari lilin, oleh karena lilin itu tidak mengeluarkan bau yang harum,” pungkasnya. (*)