DENPASAR, BALI EXPRESS - Dalam budaya Hindu dan masyarakat Bali, menanam ari-ari untuk bayi yang baru lahir adalah suatu upacara yang sarat makna.
Upacara ini, yang dikenal sebagai mendem ari-ari, memiliki tujuan penting dalam proses perkembangan janin di dalam kandungan.
Artikel ini akan mengungkapkan makna dan prosesi dari upacara menanam ari-ari, serta pentingnya sarana ritual yang digunakan dalam pelaksanaannya.
Dari upakara banten hingga penanaman ari-ari, setiap langkah dalam upacara ini memiliki tujuan mendalam dalam memastikan kesejahteraan bayi yang baru lahir dalam tradisi Hindu di Bali.
Menanam ari-ari untuk bayi yang baru lahir memerlukan sarana upakaranya. Tujuannya supaya fungsi dan maknanya dapat dilaksanakan dengan baik.
Upacara mendem ari-ari adalah salah satu upacara yang wajib dilakukan oleh keluarga Hindu atau masyarakat Bali, karena ari-ari merupakan bagian penting dalam proses perkembangan janin di dalam kandungan.
Proses mendem ari-ari sebagai simbol dari kekuatan local genius yaitu Kanda Pat. Penanaman Ari-ari memiliki makna dan tujuan untuk menyatukan pertiwi dan akasa guna memberikan keseimbangan perjalanan si bayi.
Selain itu, ada beberapa makna yang terkandung dalam perlengkapan menanam Ari-ari, yakni batu bulitan mengandung makna sebagai permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi agar sang bayi dianugerahi panjang umur.
Pohon pandan duri diwujudkan sebagai buaya putih sebagai penjaga bayi terhadap gangguan yang bersifat black magic. Sanggah Tutuan merupakan simbol dari stananya Sang Hyang Maha Yoni sebagai Dewa pengasuh sang bayi.
Dalam tulisan ini terdapat beberapa sarana ritual upacara saat menanam ari-ari menurut Hindu.
Upakara Banten untuk Ari-ari:
- Setelah ari-ari ditimbun tanah lalu di atas diberi sesajen berupa:
- 4 tanding nasi putih kapelan di atas talenan kecil/daun yang diatasnya berisi tempelan beras dan bunga Jepun Putih (seperti segehan), berulam bawang jahe.
- 4 buah takir berisi air.
- Letakkan segehan ini berkeliling atas-bawah-kiri-kanan.
- 5 tanding canang meider atas-bawah-kiri-kanan-tengah.
- 5 tanding segehan berwarna yaitu:
Hitam letaknya di utara.
Putih letaknya di timur.
Merah letaknya di selatan.
Kuning letaknya di barat
Brumbun letaknya ditengah.
Bila sudah hampir sanikawon/sore jam 18.00/19.00 nyalakan sebuah lilin/lampu dalam (yang penting ada cahaya terang) dan tutuplah ari-ari dengan sebuah kurungan ayam. (Surayin, 2019:9).
Banten Bebuu (Banten Pebersihan)
- Sediakan 1 buah kapar kemudian di atasnya diisi taledan, diatas taledan berisi:
- 1 tanding pabresiyan payasan.
- Coblong dengan padma.
- Tirta dan dupa.
- 1 buah canang
Banten tersebut di atas terlebih dahulu dihaturkan kepada Ida Bhatara Surya untuk memohon pembersihan, lalu campur isi dari pebersihan payasan kecoblong dan percikkan ke Ida Bhatara Surya.
Setelah itu seluruh keluarga dicolekkan tangannya dengan air yang ada di coblong. Terakhir untuk si ibu yang habis melahirkan, air tersebut dibawa sedikit ke tempatnya melahirkan.
Kelahiran bayi ke dunia ini disertai oleh keempat saudaranya antara lain:
- Anggapati
- Merajapati
- Banaspati
- Banaspati Raja (Surayin, 2019:9-10).
Proses Pelaksanaan Upacaranya sebagai berikut :
Tata Cara Menanam Ari-ari (Persiapan Sebelum Menanam Ari-ari):
- Air kumkuman secukupnya
- Boreh gading (dibuat dari beras dan bangle)
- Kelapa muda dan dibelah dua, dan ditulis dengan rerajahan, bagian atas atau penutup dengan “Ongkara” dan bagian bawah dirajah dengan tulisan “Ahkara”.
- Serabut ijuk
- Daun lontar ditulis aksara dasa bayu dengan huruf Bali, bila lelaki tulis “ong ong ah ah 3x” dan bila perempuan tulis “ong ong ung ung 3x”.
- Sebuah ngad dengan panjang 5 cm
- Batu bulitan atau batu hitam dengan diameter 15-20 cm
- Pohon pandan
- Sanggah tutuan beratap ijuk atau kelopak bambu
- Air bersih
- Sebuah kwangen berisi uang bolong 11 kepeng
- Duri-duri, isin ceraken, angged-angged, dan wangi-wangian
Penyelenggaraan Terhadap Ari-ari
Dari rumah bersalin, ari-ari dimasukkan ke periuk ari-ari lantas dibawa pulang. Sampai dirumah oleh ayah si bayi, ari-ari dibersihkan dengan menggunakan sebuah baskom baru/ember baru yang kemudian alat tersebut tidak boleh dipakai lagi.
Si ayah harus mencucinya dengan baik, tidak boleh jijik penuh dengan rasa bahagia dan kasih sayang dengan memakai tangan kanan (kedua tangan dipakai).
Siapkan sebuah kelapa yang besar yang masih ada kulitnya, kelapa yang tua dibuka dan dibuang airnya setelah dipotong 1/2 dan 2/3. Masukkan ari-ari yang telah bersih kedalamnya bersama:
- 1 buah kwangen berisi 11 kepeng uang bolong diletakkan diatas ari-ari.
- 1 potong Ental diisi lukisan wongkara.
- 1 ikat kecil duri-duri (3 macam duri).
Boleh juga diisi pesan-pesan lain dari sang ayah. Dalam hal ini berlaku desa-kala-patra.
Sesudah lengkap lalu kelapa itu ditutup dan dibungkus dengan duk (ijuk), sesudah dibungkus ijuk lalu dibungkus dengan kain putih dan ditanam. (Surayin, 2019:8)
Menanam Ari-ari
Untuk ari-ari bayi perempuan ditanam di sebelah kiri dan bila laki-laki ditanam sebelah kanan dari pintu keluar masuk si bayi tinggal. Ucapan waktu menanam ari-ari tersebut adalah:
“Ong Sang Ibu Pertiwi rumaga bayu, rumaga amerta, sanjiwani angemertanin sarwa tumuwuh si”….” Mangda dirgayusa nutugang tuwuh.”
Selesai ucapan itu barulah ari-ari ditimbuni tanah letakkan di atasnya sebuah batu bulitan, dan ditandai dengan menanam sebuah pohon pandan berduri.
Secara lahiriah hal ini bertujuan agar ari-ari tidak diganggu oleh hewan dan secara rohaniah, bertujuan untuk menolak gangguan roh-roh jahat. (surayin, 2019:10).
Cara perawatannya begini. Mula-mulanya ari-ari itu dibersihkan lalu dimasukkan kedalam sebuah kelapa yang airnya sudah dibuang atau periuk kecil.
Di atas buah kelapa atau pada tutup periuk itu diisi tulisan Ongkara sedang di bawahnya ditulis Ahkara.
Ke dalam kelapa atau periuk itu dimasukkan juga beberapa jenis duri seperti duri terung, mawar dan sebagainya, kemudian dimasukkan juga pinang sirih.
Kelapa itu lalu dibungkus dengan ijuk atau kalau tidak ada ijuk, cukup dibungkus dengan kain puti.
Ari-ari itu ditanam sebelah kanan pintu keluar kalau bayi laki-laki dan disebelah kiri kalau bayinya perempuan (dilihat dari dalam rumah).
Upacara untuk ari-ari ini adalah nasi putih segenggam kecil, dengan garam dan jahe.
Nasi warna merah dengan bawang merah, basi warna kuning dengan kunir, dan nasi yang hitam dengan garam yang dicampur arang.
Setiap malam di atas timbunan ari-ari itu dihidupkan pelita kecil atau dupa.
Kalau ada upacara untuk bayi itu, ari-ari ini tidak boleh dilupakan, demikian juga terhadap Sang Hyang Kumara.
Kalau tempat menanam ari-ari itu tidak ada di tanahnya, dapat juga ari-ari sudah dibungkus itu dibuang ke laut.
Tentunya dengan mengganti mantra nya, tidak menyebutkan “Ibu Pertiwi” tetapi “Hyang Waruna”. (Sudharta, 1993:16).
Editor : I Putu Suyatra