BALI EXPRESS - Ketika bayi dilahirkan, maka dia akan memiliki empat saudara yang disebut dengan Catur Sanak.
Keempat saudara si bayi ini merupakan wujud nyata saat seorang ibu melahirkan bayinya ke dunia. Akan tetapi dalam wujud abstrak, keempat saudara ini tidak dapat dilihat.
Namanya pun berubah-ubah sesuai dengan pertumbuhan si bayi.
Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd mengatakan, pada lontar Kanda Pat Bhuta juga dicantumkan nama bayi, sebulan setelah lahir dari perut ibu.
Sebelum menerima asi dari si ibu, bayi memiliki nama Sang Kama Ngambi.
Kemudian setelah bayi pertama kali mendapat asi dari ibunya disebut Sang Sinunganing Pamangan Empelan.
Ketika sang bayi mulai bisa memakan nasi, disebut Sang Dumasratna.
Kemudian saat kepus pungsed atau putus tali pusar, maka dibut Sang Mengtas Titi Jati. Umumnya terjadi antara waktu 1-3 minggu.
Pada saat bayi mengetahui bapak dan ibunya disebut Sanghyang Panon Pandeleng.
Baca Juga: Sloka 10 Kitab Suci Sarasamuscaya: Reinkarnasi dan Tujuan Spiritual dalam Ajaran Hindu
Selanjutnya sangyang Waya-wayahan ketika bayi bisa belajar tengkurup.
Kemudian Sanghyang Eta Eto pada fase bayu terlentang dan menangis.
Sanghyang Japa Mantra pada saat bayi sedang dalam masa yang sangat aktif khususnya mulai berbicara
Sanghyang Kundi Swara saat bayi sudah mulai jelas berbicara.
Sanghyang Guru saat bayi sudah mulai bisa belajar duduk.
Sanghyang Pakiryya Kirya, bayi sudah mulai bisa berjongkok.
Sanghyang Wunggat Unggit Kawenang saat bayi mulai mengerti namanya tidur.
“Sanghyang Tangun Siddhi saat bayi baru belajar berdiri. Sanghyang Kumanega Hening, bayi sudah mulai berdiri kokoh,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna