Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bukan Tempat Dupa, Ini Makna Caratan Coblong bagi Umat Hindu di Bali

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 11 Februari 2024 | 15:04 WIB

 

Caratan coblong sebagai simbol aksara Ongkara dalam agama Hindu di Bali.
Caratan coblong sebagai simbol aksara Ongkara dalam agama Hindu di Bali.

BALI EXPRESS- Tempat suci umat Hindu di Bali, khususnya yang berbentuk palinggih biasanya terdapat caratan coblong.

Seting kali, caratan coblong itu digunakan sebagai tempat dupa.  Ternyata hal tersebut keliru.

Dalam kepercayaan umat Hindu di Bali, caratan coblong salah satu menghidupkan pelinggih secara niskala.

Dikutip dari video Gama Bali Sesana Wong Bali, disebutkan bahwa caratan coblong sebagai simbol. Hal ini sudah ada sejak zaman dahulu.

“Leluhur terdahulu memainkan linggih aksara, ditakutkan masa depannya nanti, anak cucunya itu tidak terlalu banyak menekuni linggih aksara, maka solusinya terhubung aksara dengan mewujudkan dalam bentuk nyata,” demikian dalam video tersebut.  

Sebagian besar yang memiliki palinggih banyak di antaranya memiliki caratan coblong.

Semacam sebagai tempat caratan peminum, kemudian ada tikeh untuk palinggih.

Hal ini merupakan linggih untuk Ida Bhatara, namun caratan coblong dijadikan tempat dupa.

Caratan coblong ini sebenarnya merupakan perspektif linggih aksara. “Apa itu palinggih dari kajian linggih aksara. Palinggih adalah linggih aksara. Aksara apa yang dilinggihkan di sana, proses dasa aksara menjadi puja, dan eka aksara, yaitu Ong,” tegasnya.

Sementara di Bali bentuk palinggih batu, kayu, dan bentuk boleh beda namun unsurnya sama.

Dalam wujud caratan coblong ini posisi  di kepala. Karena terdapat ruang kosong di sana.

Dasa aksara dalam bentuk keseluruhan, panca brahma, panca tirta, dan panca aksara.

Naik di atas menjadi tri aksara, diwujudkan segi empat menjadi tatakan ini berupa tikeh.

Tikeh sebagai peringkes, ang ung mang, diwakili oleh ketiga benda tersebut (caratan coblong, dan leper).

Kemudian jika disatukan simbol ang ung mang tersebut, tata cara meletakkan caratan coblong yang benar menjadi simbol dari tri aksara ang ung mang.

Diisi air ada unsur penyatuan menjadi dwi aksara, kemudian menjadi ongkara.

Bangunan palinggih disebut rong, berunsur kata ong. “Bagaimana pun bentuknya, memiliki unsur yang sama. Caratan coblong seperti ini, tidak dipisah, diposisikan satu bertransformasi menjadi dwi aksara, sebagai pelengkap, menjadi pelinggih itu hidup,” pungkasnya. (*) 

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #hindu #caratan coblong