Topeng Sidakarya ikut untuk pengukuhan sempurnanya dan suksesnya suatu upacara, sehingga keberadaannya difungsikan sebagai Tari Wali yang mengiringi jalannya upacara Yadnya.
Seniman Topeng Sidakarya, Nyoman Suardika mengatakan secara filosofi Topeng Sidakarya merupakan sosok Brahmana yang sudah berjasa dan mampu untuk menciptakan kesejahteraan umat Hindu di Bali melalui cerita yang dipentaskan.
Pementasan Topeng Sidakarya dilakukan dalam mengiringi upacara-upacara besar seperti Ngenteg LInggih.
Termasuk dilaksanakan pada akhir dari upacara sebagai simbol kesuksesan atas pelaksanaan jalannya upacara.
Suardika menyebut, salah satu Gerakan ngejuk (menangkap) anak kecil kemudian diberikan uang kepeng, mengandung makna siklus hidup manusia sebagai perwujudan menyembuhkan dan menyejahterakan orang lain.
Baca Juga: Tiga Pelinggih di Ubud Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp250 Juta, Diduga Gegara Ini
“Gerakan menaburkan beras kuning merupakan simbol yang mengandung makna pemberian sesajen kepada roh jahat agar tidak mengganggu manusia,” ungkap Suardika kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Ia menyebut, setiap atribut dari Topeng Sidakarya yang digunakan memang tidak lepas dari makna simbolis.
Menurutnya, topeng Sidakarya sangat mudah dikenali. Karena bentuk topeng yang khas dan memiliki karakterisitik unik, dimana topeng berwarna putih, yakni simbol kesucian.
Hal tersebut mencirikan bahwa Dalem Sidakarya merupakan orang yang memiliki kesucian.
Dalam Tattwa Siwa Siddhanta, warna putih berada di timur, dewanya Iswara bersenjatakan Bajra/Genta merupakan simbol kependetaan dan kebrahmanaan.
Seorang dikatakan Brahmana sudah tentu memiliki tingkat kesucian yang tinggi, dan menguasai ilmu pengetahuan Weda
Selanjutnya, Mata topeng sipit, yakni simbol mawas diri dan selalu memperhatikan segala kondisi baik eksternal dan internal.
Mata sipit sebagai simbol dari tapa, yakni mata setengah terbuka dan terpejam. Dalam yoga, posisi mata yang demikian merupakan lambang dari pengendalian indria dan pemusatan pikiran pada satu titik pusat.
Baca Juga: BRUTAL!!! Kronologi Seorang Pelajar Tewas Tragis Dikeroyok Geng Pemuda Diduga Oknum Perguruan Silat
Menariknya, topeng ini juga memunculkan karakter dengan Gigi jongos. Secara harfiah kelihatannya gigi jongos akan mengurangi ketampatan seseorang.
Namun dalam tipe pakem topeng Sidakarya justru keunikannya terletak pada tipe giginya yang jongos.
Bahkan ada kayakinan, kekuatan atau taksu dari topeng Sidakarya terletak pada giginya. Gigi jongos sesungguhnya adalah simbol dari kesederhanaan, dan lambang kekuatan sebagai penyeimbang.
Gigi yang demikian sangat dekat disimbolkan dengan Tantrik, yang bermakna kekuatan penyeimbang.
Wajah setengah manusia dan setengah demanik, merupakan simbol keseimbangan. Wajah manusia dan demanik merupakan konsep Rwa Bhineda yang mutlak ada dalam diri dan dalam alam makro.
Dua karakter tersebut harus diseimbangkan, dalam artian leburlah sifat demanik (keraksasaan) kedalam sifat dewa sehingga menjadi manusia yang dewata.
“Rambut panjang sebahu, dapat dimaknai sebagai lambang ketidak terikatan dan warna putih rambut simbol dari kebrahmanaan yang menjungjung ajaran kesucian,” imbuhnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika