3 Fakta di Balik Tradisi Ngaben Unik di Bali: Desa Buwit Tak Bisa Bakar Jenazah, Ada Apa?
I Putu Suyatra• Rabu, 4 Juni 2025 | 14:17 WIB
Setra di Desa Adat Buwit di Kaba-Kaba, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali.
BALIEXPRESS.ID – Pulau Dewata identik dengan upacara Ngaben, prosesi kremasi jenazah yang megah dan penuh makna dalam budaya Bali.
Namun, ada satu desa di Kabupaten Tabanan yang menyimpan misteri Hindu Bali yang tak biasa: Desa Adat Buwit di Kaba-Kaba, Kecamatan Kediri, di mana api enggan menyala saat upacara pembakaran jenazah di Setra Gede (kuburan lama) mereka.
Penasaran bagaimana tradisi ini bertahan hingga kini tanpa api, dan apa rahasia di baliknya?
Di tengah pesatnya perkembangan pariwisata, Desa Buwit masih mempertahankan suasana pedesaan yang kental.
Tokoh Adat Buwit, I Gusti Alit Putu Widana, mengungkapkan keunikan Setra Gede yang telah ada sejak berdirinya desa.
"Kalau di Setra Gede itu tidak bisa menggunakan api untuk membakar jenazah," ujarnya.
Keanehan ini bukan isapan jempol semata; api tak mau menyala untuk sarana sembahyang, bahkan dupa sekalipun.
I Gusti Alit Putu Widana menceritakan bagaimana fenomena ini terbukti nyata saat kebakaran ilalang di samping Setra Gede tidak sedikit pun menyentuh area kuburan, padahal terjadi di musim kemarau.
"Bekas kebakaran pun masih tampak dari pepohonan yang batangnya menghitam di barat Setra Gede," tambahnya.
Namun, ada yang lebih aneh: rokok bisa menyala di sana, tapi tidak dengan dupa untuk upacara.
Misteri di balik tradisi tak boleh membakar jenazah ini, diakuinya, belum terungkap hingga sekarang.
2. Ngaben Tanpa Api: Prosesi yang Berbeda Namun Penuh Makna
Lantas, bagaimana warga Desa Buwit melaksanakan upacara Ngaben mereka? Untuk menyiasati larangan api, prosesi Ngaben di Setra Gede dilakukan dengan cara mengubur jenazah.
Jenazah tetap diusung menggunakan bade dan lembu, lengkap dengan upakara Ngaben lainnya, namun setibanya di Setra Gede, jenazah akan dikuburkan tanpa gundukan atau nisan, melainkan rata dengan tanah.
"Penguburannya persis sama dengan penguburan pada umumnya, cuma bedanya tidak ada gundukan dan identitas atau batu nisan. Jadi, datar saja," jelas I Gusti Alit Putu Widana.
Setelah penguburan, ada bagian yang diambil untuk direka menyerupai bentuk manusia, dilanjutkan dengan prosesi Nyekah hingga Nganyut di sungai.
Sisa bade dan sarana lainnya dibiarkan menumpuk di sisi utara setra, karena secara niskala tidak diizinkan untuk dibakar atau dipindahkan.
Meskipun Setra Gede tidak terlalu luas, lahan tidak pernah kekurangan, meskipun kerap ditemukan sisa tulang belulang jenazah lama saat penggalian lubang baru.
"Kalau sampai itu terjadi kita angkat bekas tulang belulang jenazah yang lama, termasuk bekas bekal yang berbahan plastik. Nantinya kita akan kubur kembali," kata I Gusti Alit Putu Widana, seraya mengimbau warganya untuk mengurangi penggunaan plastik dalam bekal pengabenan.
3. Dua Setra dan Kepercayaan yang Teguh
Karena adanya tradisi Ngaben tanpa pembakaran ini, sebagian warga Desa Buwit memutuskan untuk membuat Setra baru di Banjar Kelakahan Kaja.
Setra ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin melaksanakan Ngaben dengan cara pembakaran, terutama soroh Senggu dan Guru yang memang harus dibakar jenazah keluarganya.
Suasana angker memang terasa di Setra Gede dengan pepohonan tinggi yang mengelilingi.
I Gusti Alit Putu Widana juga menjelaskan bahwa jika ada pohon tumbang di Setra Gede, harus dilakukan upacara Macaru dengan bebek hitam, karena dipercaya menjadi tempat tinggal rencang-rencang di Setra.
Hingga kini, tradisi Ngaben dengan cara penguburan ini tetap dilestarikan. Meskipun pemangku tidak melarang jika ada warga yang ingin mencoba membakar jenazah, risikonya sepenuhnya ditanggung sendiri.
Namun, hingga kini, warga Desa Buwit tak ada yang berani mengambil risiko tersebut.
Kepercayaan akan misteri api yang tak mau menyala ini tetap teguh dipegang, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari keunikan budaya Bali di Desa Buwit.
Apakah ada tradisi unik lain di Bali yang ingin Anda ketahui lebih lanjut? ***