Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, S.Sos. M.Pd menjelaskan cinta sering dimaknai sebagai mempermudah segalanya yakni anak tidak boleh sedih, tidak boleh gagal, apalagi kecewa. Padahal, dalam pandangan Hindu, cinta sejati justru bukan menghilangkan proses hidup, melainkan setia menemani pertumbuhan jiwa.
Inilah hakikat parenting dalam Hindu yakni mengasuh bukan sekadar memenuhi kenyamanan fisik anak, tetapi membimbing kesadaran batinnya. Mengasuh dengan cinta dan iman bukanlah sikap memanjakan, melainkan menumbuhkan daya tahan jiwa agar anak mampu menghadapi realitas hidup dengan bijaksana.
Irma memaparkan, dalam ajaran Hindu, anak dipahami sebagai ātman yang sedang bertumbuh. Ia bukan milik orang tua, melainkan titipan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang datang dengan karmanya sendiri, membawa potensi sekaligus pelajaran hidupnya sendiri. Orang tua bukan penguasa jalan hidup anak, melainkan penuntun perjalanan spiritualnya.
Bhagavadgītā memberikan landasan filosofis yang kuat tentang relasi ini. Dalam sloka terkenal Karmanye vādhikāras te mā phaleṣu kadācana (Bhagavadgītā II.47), ditegaskan bahwa manusia berhak atas perbuatannya, tetapi tidak atas hasilnya.
“Dalam konteks parenting, orang tua berhak mendidik dengan penuh cinta dan tanggung jawab, namun tidak berhak menguasai atau menentukan hasil akhir kehidupan anak,” jelasnya.
Cinta dalam Hindu tidak membebaskan anak dari tanggung jawab, tetapi justru menguatkan jiwanya agar mampu bertanggung jawab. Mengasuh dengan cinta berarti memberi ruang bagi anak untuk belajar dari kesalahan, jatuh dan bangkit, sambil tetap didampingi dengan kasih.
Memberi batas dengan welas asih, bukan dengan amarah. Mengajarkan nilai, bukan sekadar kenyamanan. Inilah cinta yang menumbuhkan, bukan memanjakan.
Namun realitasnya, tidak ada orang tua yang selalu sabar. Orang tua juga manusia—bisa marah, kecewa, lelah, bahkan merasa gagal. Dalam Hindu, kondisi ini bukanlah dosa, melainkan ladang latihan spiritual.
Bhagavadgītā VI.6 menyatakan bahwa diri manusia adalah sahabat sekaligus musuh bagi dirinya sendiri. Ketika orang tua marah berlebihan, sesungguhnya yang sedang diuji bukanlah anaknya, melainkan kendali diri orang tua itu sendiri.
“Anak bukan penyebab emosi orang tua; anak hanyalah pemantik. Dalam ajaran Hindu, kemarahan (krodha) disebut sebagai salah satu gerbang kehancuran kebijaksanaan. Maka, diam sejenak saat emosi memuncak adalah bentuk tapa, menarik napas adalah yoga, dan menunda reaksi adalah dharma yang luhur,” ungkapnya.
Ketika orang tua berkata, “Ibu atau Bapak sedang marah, kita bicara nanti setelah tenang,” sesungguhnya ia sedang mengajarkan pengendalian diri yang jauh lebih bermakna daripada seribu nasihat.
Anak-anak hari ini tidak kekurangan nasihat, tetapi sering kekurangan teladan. Dalam Hindu, ajaran iman tidak pertama-tama ditanamkan lewat kata-kata, melainkan lewat cara hidup atau ācāra.
“Anak belajar iman dari cara orang tua berbicara saat lelah, menyikapi konflik keluarga, bekerja, berdoa, dan memperlakukan sesama,” sebutnya.
Bhagavadgītā III.21 menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh mereka yang dianggap teladan, itulah yang akan diikuti oleh yang lain. Dalam konteks parenting, orang tua adalah śreṣṭha pertama di mata anak.
Menurutnya, jika orang tua menyuruh anak sembahyang tetapi dirinya sibuk dengan gawai, iman hanya akan menjadi teori kosong. Jika orang tua berbicara tentang dharma tetapi hidup dengan amarah, anak belajar kontradiksi, bukan nilai. Iman yang hidup tidak diajarkan, tetapi ditularkan.
Menurutnya, ada satu nilai iman yang layak dijadikan kompas utama dalam pengasuhan, yakni bhakti. Bhakti bukan sekadar ritual, melainkan sikap batin yang melahirkan seluruh kebajikan. Dari bhakti lahir hormat, kerendahan hati, tanggung jawab, serta kasih tanpa pamrih.
Bhagavadgītā XVIII.55 menegaskan keutamaan bhakti sebagai jalan yang adi luhung—hanya dengan bhakti seseorang dapat mengenal Tuhan secara sejati. Anak yang tumbuh dalam nilai bhakti akan hormat kepada orang tua tanpa paksaan, menghargai guru tanpa rasa takut, serta mencintai kehidupan, alam, dan sesama.
Keunggulan bhakti dibanding nilai lain adalah kesederhanaannya. Bhakti tidak memerlukan kecerdasan tinggi, tetapi ketulusan hati. Karena itulah, bhakti dapat ditanamkan sejak dini dan bertahan hingga usia tua.
“Orang tua yang menanamkan bhakti sesungguhnya sedang menyiapkan anak menjadi manusia yang tidak hanya berhasil, tetapi juga bermakna,” katanya.
Menjadi orang tua lanjut Irma bukan tentang kesempurnaan, melainkan kesadaran untuk terus bertumbuh bersama anak. Parenting dalam Hindu adalah bagian dari sādhanā, latihan jiwa yang berkelanjutan.
Ketika orang tua mengasuh dengan cinta, mengendalikan diri saat marah, memberi teladan hidup, dan menanamkan bhakti, sesungguhnya ia sedang melaksanakan yadnya tertinggi—yadnya membentuk manusia seutuhnya.
“Jika nilai luhur parenting ini dipahami dan dihayati oleh kita semua, maka ia akan menjadi kompas kehidupan dalam memasuki masa Grahasta Asrama, menumbuhkan kesadaran akan tugas dan peran masing-masing, saling menghargai, serta membangun keteladanan demi keharmonisan keluarga dan masyarakat,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika