Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pepasangan dan Cara Menanggulanginya: Berbahan Tanah Kubur, Dipasang di Pintu Gerbang

I Putu Mardika • Jumat, 30 Januari 2026 | 16:56 WIB

 

Penekun spiritual, Jro Panca
Penekun spiritual, Jro Panca
BALIEXPRESS.ID-Pepasangan merupakan bentuk ‘serangan’ secara niskala yang bersifat negatif dan ditujukan kepada penghuni rumah dari orang yang bermaksud tidak baik.

Umumnya pepasangan dipasang di halaman rumah, sehingga penghuni mengalami kesakitan, ketidaknyamanan bahkan hingga menemui ajal. Lalu apa ciri-ciri rumah yang berisi pepasangan dan bagaimana cara mengatasinya?

Penekun Spiritual, Jro Putu Agus Panca Saputra, atau akrab disapa Jro Panca, mengatakan pepasangan memberikan energi negatif terhadap rumah dan penghuninya karena dikirim orang yang bermaksud jahat. Sehingga harus dinetralisir dengan sejumlah cara.

Pepasangan dibuat dari berbagai macam material. Seperti tanah sema (tanah kuburan), abu dari tulang manusia yang diambil dari pemuun.

Termasuk sarana payuk kedas yang telah dihancurkan, kemudian dikirim oleh orang secara langsung di depan pintu keluar masuk.

Jika pepasangannya hidup, maka dia akan turun sendirinya ke dalam tanah. Tetapi kalau pepasangannya sudah mati, dia akan naik dengan sendirinya sehingga bisa dilihat langsung secara kasat mata.

“Pepasangan, santet, teluh, desti, teranjana itu bekerja menyasar lebah paraning banyu. Artinya akan mencari orang yang secara kekuatan niskalanya lebih rendah. Misalnya orang-orang yang energrnya di bawah, maka dia yang mudah kena,” ungkap Jro Panca.

Biasanya rumah yang memiliki pepasangan, diawali dengan lesatan cahaya masuk ke dalam rumah. Namun, tidak semua orang bisa menyaksikan momen tersebut. Karena prosesnya terjadi sangat cepat, jika lengah maka tidak bisa dilihat.

Selain itu, jika rumah sudah berisi pepasangan, maka penghuni setiap malam sering mendengar suara mirip seperti pasir jatuh di atap rumah.” Itu artinya ada sesuatu yang tidak baik. Bisa sebagai tanda jika pepasangan sudah ada di rumah,” jelasnya.

Tak hanya sering mendengar suara pasir jatuh di atap, rumah yang sudah berisi pepasangan akan memberikan ketidaknyamanan bagi si penghuni. Semula, rumah itu terasa panas, atau gerah meskipun sudah dipasangi AC.

“Kondisi ini akan mempengaruhi penghuninya. Misalnya sering dibuat bingung. Kadang juga sembahyang menjadi malas. Ini efek dari benda-benda itu, karena memang sengaja dikirim untuk menghambat kita berdoa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” paparnya.

Jika indra penciuman si penghuni tajam, maka yang bersangkuta akan sering mencium bau yang tak sedap di rumah. Meskipun sumber bau itu sudah dicari, maka sering tidak ditemukan. Bau busuk tersebut tanpa disadari juga mengundang datanya Lalat Ijo (bangkai) yang masuk ke rumah. Yang lebih parah, kemunculan lulut emas akan menjadi tanda yang sangat signifikan jika di areal pekarangan sudah ada pepasangan.

“Dampaknya adalah si Penghuni rumah, sering sakit kaki. Terkadang masalah kecil di rumah tangga itu menjadi besar, terus ribut sama keluarga. Tidak hanya dengan istri, juga bisa cekcok dengan orang tua,” imbuhnya.

Termasuk yang paling gampang untuk mendeteksi kalau di rumah ada pepasangan adalah sering kehilangan barang-barang yang sedang dicari. Ia menyebut, seperti mencari kunci kendaraan, yang tempatnya sudah jelas, namun tidak ditemukan.

“Nyari sisir padahal sudah jelas tempatnya, tetapi tidak ditemukan. Kalau tidak dicari, kadang ada, itu tanda-tanda ada pepasangan, artinya ada makhluk lain yang mempermainkan, sering menyembunyikan” ungkapnya.

Pepasangan banyak jenisnya. Termasuk level dan tingkatan pepasangan pun ada pengklasifikasiannya. Sehingga dibutuhkan tata cara mengatasi untuk menetralisir kembali pekarangan rumah yang diisi pepasangan.

Dikatakan Jro Panca, penghuni rumah bisa melakukan sejumlah cara agar terhindar dari serangan pepasangan, teluh, desti, dan teranjana yang dikirim orang untuk bermaksud jahat. Sehingga bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya efek yang tak diinginkan.

“Disarankan agar tidur di lantai dengan kasusr. Sebab, santet, guna-guna, dan apapun bentuknya, tidak akan bisa menyerang kita kalau posisinya tidur tidak di ranjang. Karena makhluk tersebut posisinya amusti dari atas tanah, sehingga kita tidak akan kena selama tidur di lantai,” ungkapnya.

Lalu, bagaimana cara jika pekarangan rumah sudah berisi pepasangan? Dikatakan Jro Panca, bisa menggunakan sarana injin atau ketan hitam yang disangrai. Kemudian sarana tersebut ditaburkan di areal pekarangan. Sarana injin yang disangrai bisa meredam energi neatif.

Selain sarana injin, menetralisir pepasangan juga bisa dilakukan dengan sarana air cucian beras (banyu) yang pertama. Air banyu berwarna putih pekat itu kemudian ditambahkan dengan sarana pucuk daun kelor tiga pucuk dan daun ilalang sembilan helai.

Sarana trsebut diikat dengan benang Tridatu. “Saat kita ikat, mohonkan kepada penunggun karang. Puterannya ke kiri, tujuannya peleburan.Ini bisa dilakukan setiap hari, untuk mengantisipasi adanya pepasangan dan memudarkan pengaruhnya” katanya.

Ada juga penggunaan sarana berupa garam wuku. Secara struktur, garam ini berukuran besar dan berbentuk segi empat. Garam ini ditambahkan dengan abu yang diambil dari prapen pande. Selanjutnya diayak, dicampurkan dengan pamor dari batu karang, kemudian dimasukkan ke dalam payuk ari-ari.

Bisa juga menggunakan sarana air campuan di laut dengan air sungai. Cara menuangkannya harus berurutan. “Disana dimohonkan kepada Ida Sang Hyang Widhi agar pekarangan bisa dinetralisir,” kata dia.

Ia menambahkan, mentralisir sarana pepasangan bisa menggunakan sarana banten. Seperti banten prayascita, banten caru eka sata untuk dihaturkan kepada para bhuta dan juga sarana segehan agung.

Pepasangan akan mudah masuk apabila Penunggun Karang menginjinkan. Untuk itu, ia menyarankan agar penghuni rumah senantiasa sering menghaturkan sesajen untuk penunggun karang. Sehingga yang berstana ikut menjaga keselamatan rumah dan penghuninya.

Termasuk juga sikut satak atau ukuran pintu gerbang rumah juga berpengaruh terhadap mudah sulitnya pepasangan masuk ke dalam rumah. “Pepasangan yang kasar biasanya cepat terlihat. Tetapi kalau pepasangan yang halus, maka dia akan lama prosesnya, tetapi dampaknya bisa sangat fatal dan menunggu momen,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#jro panca #serangan #Negatif #Pepasangan