Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Tradisi Mesuang Nyuh di Banjar Munduk Malang, Gadungan

I Putu Suyatra • Kamis, 13 Juli 2017 | 17:05 WIB
Photo
Photo



BALI EXPRESS, TABANAN - Tradisi yang dijalani warga di salah satu Banjar ini memang cukup unik. Berawal dari keterbatasan yang dialami, warga malah bisa menciptakan suatu kegiatan yang kini menjadi tradisi serta mengandung filosofi yang sangat kuat.


Pagi itu hujan turun cukup deras, namun semangat warga Banjar Munduk Malang untuk mengikuti Sangkep (Rapat) Bulanan tak surut meskipun harus basah kuyup menuju Balai Banjar. Tak lupa masing-masing warga membawa lima butir buah kelapa yang kemudian dikumpulkan saat Sangkep berlangsung.


Kau Kewilayahan Desa Gadungan, I Wayan Asung Adi Bawa, yang juga salah satu tokoh adat setempat menuturkan jika kegiatan itu biasa disebut Mesuang Nyuh di wilayahnya yang artinya ‘mengeluarkan kelapa’. Kegiatan itu rutin dilakukan 38 KK warga Banjar Munduk Malang, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan setiap bulannya. Kelapa yang telah terkumpul kemudian akan dijual oleh perangkat Adat dan Dinas dan uang hasil penjualan kelapa akan dimasukkan dalam kas Banjar Munduk Malang.


Menurutnya, kegiatan yang kini bisa dikatakan sebagai tradisi tersebut sudah berlangsung cukup lama di Banjar Munduk Malang. Diawali dengan dibentukan Sekaa Meleseng atau tim Penggalian Dana menjelang Karya Agung di Pura Desa Banjar Munduk Malang. Sekaa Meleseng ini tentunya bertugas untuk menggali dan mengumpulkan dana untuk keperluan Karya Agung, karena Banjar Munduk Malang sendiri tidak memiliki Pelaba Pura.


“Kalau di tempat lain hasil Pelaba Pura biasa digunakan untuk keperluan Karya, sedangkan kami tidak punya Pelaba sehingga ketika aka nada Karya kami melakukan penggalian dana,” paparnya.


Seiring berjalannya waktu, keperluan dana untuk melaksanakan Pujawali di Pura Kahyangan Desa setiap enam bulan sekali tetapi diperlukan sehingga penggalian dana tetap dilakukan. Namun Sekaa Meleseng diganti dengan Sekaa Semal atau Meboros yang artinya berburu. Sekaa ini setiap hari Minggu melakukan perburuan ke tengah hutan, dimana ada Semal atau Tupai yang mati maka disitulah Sekaa akan memetik buah Kelapa sebanyak lima butir.


“Buah kelapa yang dipetik dijual kemudian uangnya masuk kas Banjar, dan Semal yang didapatkan ditukarkan dengan dua butir kelapa kepada warga yang ingin mendapatkan Semal,” imbuhnya.


Untuk menambah jumlah kelapa yang didapatkan, maka setiap KK akhirnya mengeluarkan kelapa sebanyak 5 butir ke Banjar. Namun di tahun 2001, Sekaa Meboros itu dibubarkan karena faktor aktifitas warga yang semakin padat sehingga tinggalkan kegiatan Mesuang Nyuh yang masih dilakukan warga hingga saat ini. “Tradisi Mesuang Nyuh inilah yang masih tetap kita laksanakan hingga saat ini. Setiap bulannya masing-masing KK membawa lima butir kelapa ke Banjar, kemudian uang hasil penjualan kelapa masuk ke kas Banjar untuk keperluan Piodalan,” lanjut Adi Bawa.


Dan dengan uang hasil penjualan kelapa itu, hingga saat ini warga tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun untuk pelaksanaan Piodalan di Pura Kahyangan Tiga di Banjar Munduk Malang, ditambah Pura Ulun Desa, Pempatan dan Prajapati. “Setiap Piodalan warga tidak mengeluarkan uang sepeser pun, jadi ini sangat meringankan beban warga,” tambahnya.


Disamping meringankan beban warga, tradisi Mesuang Nyuh merupakan wujud kebersamaan dan kerukunan, karena setiap bulannya warga berkumpul di Banjar mengumpulkan kelapa serta memanfaatkan potensi alam yang ada dimana sebagian besar warga Banjar Munduk Malang memiliki pohon kelapa di kebunnya.


Bagi warga yang tidak mengeluarkan kelapa pada saat Sangkep bulanan tidak akan dikenakan denda melainkan hanya harus membayarkan uang sesuai dengan harga lima butir kelapa. “Misalnya saat bulan itu harga kelapa Rp 3.000 ya harus membayar Rp 15.000, karena mungkin saja saat itu kelapa milik warga itu sedang tidak ada buahnya,” sambungnya.


Menurutnya, meskipun tradisi itu berangkat dari keterbatasan yang dihadapi oleh Banjar Munduk Malang, namun tradisi itu tetapi dilestarikan oleh pihaknya untuk selalu menjaga kerukunan dan kebersamaan. “Kalau dibayarkan dengan uang langsung setiap bulannya Rp 15.000 sampai Rp 20.000 saya rasa itu tidak begitu berat, hanya saja kami ingin tetap melestarikan tradisi agar kebersamaan dan kerukunan kami terjaga, serta bagaimana kami memanfaatkan potensi alam yang ada,” pungkasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#covid19 #bali #gratis #pandemi #denpasar #tabanan