Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bendera Merah Putih Wajib Dikibarkan Tiap 17 Agustus di Pura Peninjoan

I Putu Suyatra • Jumat, 18 Agustus 2017 | 16:10 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, SAWAN - Apel Upacara bendera di lapangan umum mungkin sudah biasa. Berpakaian nasional, diiringi Lagu Indonesia Raya juga merupakan hal yang lumrah. Tetapi kalau yang ini cukup berbeda. Pengibaran bendera merah putih dilakukan di sebuah pura. Berpakaian adat, dan diiringi persembahyangan. Konon, bendera yang dikibarkan merupakan pawisik dari Maha Patih Gajah Mada. Seperti apa?


 


Hari masih pagi. Jarum jam menunjukkan pukul 07.30 Wita. Lebih spesial lagi, hari ini (kemarin, Red) tanggal 17 Agustus. Bertepatan dengan HUT Republik Indonesia ke-72. Ratusan umat Hindu sudah berkumpul di depan pura Peninjoan, Desa Menyali, Kecamatan Sawan. Lengkap dengan pakaian adat.


Mungkin, bagi sebagian orang mengira itu hanya persembahyangan biasa saja. Namun nyatanya tidak. Sebab, mereka tengah bersiap-siap mengibarkan bendera merah putih di areal Pura Peninjoan. Pengibaran bendera tiap 17 Agustus, itu sudah dilakukan sejak 2005 silam.


Tepat pukul 08.00 Wita, semua pamedek (umat) sudah memasuki areal Pura Peninjoan. Pura yang terletak persis sebelah utara Kantor Kepala Desa Menyali sudah penuh sesak oleh para pelajar. Mulai dari SD, hingga mahasiswa. Tak ketinggalan, prajuru adat, tokoh masyarakat dan ulun desa juga ikut dalam upacara pengibaran memperingati detik-detik proklamasi. Mereka terlihat antusias selama prosesi digelar.


Pamedek pun disiap-siagakan. Layaknya upacara bendera pada umumnya. Mereka berbaris rapi di dalam pura. Lengkap dengan pemimpin upacara. Kali ini, pembina upacaranya adalah Kelian Adat Desa Pakraman Menyali, Jro Mangku Made Anggarkasih.


Sebelum dikibarkan, bendera merah putih yang disimpan di Bale Piasan (tempat penyimpanan, Red), diupacarai terlebih dahulu. Ritual ini menggunakan banten piuning, mengingat bendera itu sangat disakralkan. Tujuannya untuk memohon kelancaran dalam pengibaran, yang dipimpin oleh pemangku pura.


Selanjutnya, tiga orang pelajar langsung membawa bendera itu untuk dikibarkan. Posisi tiang bendera tepat berada di depan pelinggih utama di Pura Peninjoan. Tingginya sekitar 10 meter.


Setelah diikatkan, bendera siap dinaikkan. Meski tengah berada di pura, tetapi pengibaran bukan diiringi oleh kekidungan (nyanyian suci, Red). Melainkan tetap diiringi oleh Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Para pamedek yang hadir semua berdiri.


Sikap hormat terhadap Sang Saka Merah Putih pun juga tak seperti biasanya. Pada umumnya posisi tangan saat menghormat bendera dilakukan dengan mengangkat tangan ala militer. Namun di Pura Peninjoan, saat bendera dikibarkan, para pamedek melakukan sikap panganjali umat atau kedua tangan dicakupkan di depan dada. Pamedek pun ikut menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.


Setelah pengibaran bendera jumbo selesai dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan mengheningkan cipta, untuk mengenang jasa para pahlawan. Para pamedek kembali duduk seperti biasa. Selanjutnya mereka bersiap untuk melakukan persembahyangan bersama.


Menurut Kelian Adat Desa Pakraman Menyali, Jro Mangku Made Anggakasih, pengibaran bendera merah putih di Pura Peninjoan bukanlah tanpa alasan. Tradisi ini diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap Maha Patih Gajah Mada. Konon Pura Peninjaoan ini dulunya bukit yang tinggi sehingga disebut bukit Peninjauan. Dari bukit inilah Maha Patih Gajah Mada dapat melihat pulau-pulau di Nusantara. Itulah alasan kenapa ditancapkan bendera Merah Putih di pura ini.


“Tahun 2005 ada seorang penekun spiritual yang mengaku mendapat pawisik (bisikan gaib, Red) dari Maha Patih Gajah Mada. Penekun spiritual yang bernama Sang Prabu tersebut diminta oleh Gajah Mada untuk membuat bendera merah putih. Setelah dijarit, kemudian berdasarkan penerawangannya bendera itu agar diserahkan ke Pura Peninjoan. Kami pun langsung menerimanya dan menyungsungnya hingga sekarang,” tuturnya usai persembahyangan, Kamis (17/8) kemarin.


Jro Angga tak menampik, sejak diberikan bendera tersebut, pihak Desa Menyali menyanggupi untuk mengibarkan setiap perayaan 17 Agustus, bertepatan dengan HUT RI. Selain itu, setiap pujawali yang jatuh pada Purnama Sasih Ketiga bendera itu juga dikibarkan selama 9 hari.


“Sejak diserahkan tahun 2005 lalu, bendera ini belum pernah diganti. Kami sangat mensakralkan. Tetapi rencananya, di pujawali nanti akan kami buatkan duplikatnya. Karena yang asli benderanya sudah mulai rapuh,” imbuhnya.


Keunikan juga tak berhenti di sana. Lebih lanjut disampaikan Jro Angga, pamedek yang tangkil kerap mengalami kerauhan saat pengibaran bendera. Konon yang merangsuk ke jiwa pemedek itu adalah Maha Patih Gajah Mada. Itu ditunjukkan dengan pawisik yang disampaikan dengan menggunakan Bahasa Jawa Kuna. Masyarakat Menyali pun dibuat semakin yakin akan kehadiran Maha Patih Gajah Mada.


"Dulu yang kerauhan menggunakan bahasa jawa, yang diartikan seperti ini: saya senang sekali di Menyali. Dari dulu sudah ada sabdha untuk bawa bendera ke sini. Dari dulu cari Pura Peninjauan (Peninjoan, Red). Kulo cari ke sana ke mari namanya Puro Peninjauan. Kulo tinggal di Bali sudah suruh antar bendera ke sini. Sekarang sampe bendera ke sini. Dulu kulo ga tau (di mana letak Pura Peninjoan),” ucap Jro Angga menirukan petikan petuah Maha Patih Gajah Mada.


Jro Angga pun berharap, kedepannya agar generasi muda tidak lupa dengan sejarah. Melalui perayaan HUT RI yang dilakukan di Pura Peninjoan ini, antara Dharma Negara dan Dharma Agama tetap selaras dijalankan.


“Kami ingin menanamkan semangat menjaga persatuan, menghargai jasa pahlawan serta cinta NKRI, yang dibalut dengan dharma negara dan dharma agama,” harapnya.


Setelah berkibar selama 8 jam, tepat pukul 16.00 Wita sore, Bendera Merah Putih yang dipercayai warisan Maha Patih Gajah Mada kemudian diturunkan dari tiang bendera. Prosesinya pun hampir sama, yakni diiringi dengan lagu Indonesia Raya. 

Editor : I Putu Suyatra
#pura #buleleng