Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

ST Banjar Ambengan Angkat Kisah Sura Bhuta Runtuh

I Putu Suyatra • Rabu, 7 Maret 2018 | 15:28 WIB
ST Banjar Ambengan Angkat Kisah Sura Bhuta Runtuh
ST Banjar Ambengan Angkat Kisah Sura Bhuta Runtuh

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pelaksanaan upacara pangrupukan yang tinggal menghitung hari saja, nampak beberapa STT mengeluarkan ogoh-ogohnya untuk dinilai. Seperti ogoh-ogoh di Banjar Ambengan Peguyangan Kangin, Jalan Cekomaria, Denpasar Utara, terpajang sejak pagi depan balai banjar setempat. Koordinator pembuatan ogoh-ogoh, I Putu Budiantara mengungkapkan pihaknya tidak terlalu berharap menapatkan juara.


Ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) Selasa (6/3), Budiantara mengungkapkan tema ogoh-ogoh itu diambil dari kisah Ramayana. Dalam hal itu bagian cerita yang diambil adalah pada Sura Bhuta Runtuh. “Cerita yang diambil ini Ramayana pada bagian peperangan saat peperangan Suta Banda. Sehingga judul ogoh-ogohnya Sura Bhuta Runtuh Suta Banda Tunggal,” tandasnya.


Dalam kesempatan itu juga pihaknya memilih cerita Ramayana disebabkan ada rasa ingin melestarikan cerita Ramayana melalui karya seni. Yaitu yang dituangkan pada ogoh-ogoh dengan beberapa bentuk, di sana nampak berupa dua buaya dan Sang Bhuta Runtuh sendiri. Selain itu Budi juga mengatakan supaya dapat menonjolkan karakter pada masing-masing tokoh yang ada dalam pragmentasinya nanti.


Proses pembuatan ogoh-ogoh yang lumayan megah itu ia mengaku hanya menghabiskan dana sekitar Rp 15 juta. Bahkkan Budiantara menunjukkan beberapa bagian ogoh-ogoh yang dapat dibongkar-pasang kembali atau disebut dengan sistem knockdown. Setelah penilaian dilakukan oleh tim dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, pihaknya akan membongkar kembali agar bisa dimasukkan ke dalam balai banjar.


“Kalau masalah lomba ya kami memang ikut saja, tetapi untuk juara kita tidak berharap dapat juara. Karena ini kan karya seni, jadi kalau dapat ya bersyukur kalau tidak juga tak masalah. Terpenting kita sebagai generasi muda sudah ikut serta dalam mengembangkan seni dan menjaga cerita yang ada melalui ogoh-ogoh,” jelas pemuda 33 tahun itu.


Dalam pembuatannya, Budi sendiri mengaku membutuhkan waktu sekitar 1,5 bulan dari awal pengerjaan. Dikarenakan bahan-bahan yang dipergunakan ramah lingkungan dan sangat gampang dicari. Saat itu juga dirinya memperlihatkan bagian roda kereta pada ogoh-ogoh yang bergerak sendirinya dengan bantuan dinamo dan genset. Sehingga dapat memperindah hiasan yang dipergunakan.


“Ini semua kan bentuk dari pelestarian budaya juga, baik itu dari cerita yang ada maupun pelestarian karya seni supaya tidak punah. Kalau bukan kita yang melestarikannya siapa lagi, karena kita sebagai generasi muda,” terang Budi.


Seperti yang diungkapkan sebelumnya, oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, IGN Bagus Mataram dirinya juga mengatakan ogoh-ogoh yang dibuat oleh sekaa teruna tersebut dinilai oleh tim penilai dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Dalam kesempatan itu ia mengatakan terdapat 182 ogoh-ogoh yang telah terdaftar ikut lomba. Yaitu yang terdiri atas 48 sekaa dari Kecamatan Denpasar Utara, 38 sekaa dari Kecamatan Denpasar Barat, 38 sekaa dari Denpasar Selatan, dan 58 sekaa dari Kecamatan Denpasar Timur.


“Di sini Dinas Kebudayaan hanya melakukan penilaian terhadap ogoh-ogoh yang sudah dibuat oleh masing-masing sekaa teruna. Bahkan yang diperlombakan juga tidak boleh menggunakan Styrofoam dikarenakan di sana ada proses gotong-royong saat pengerjaannya. Karena di sana ada proses menjaga budaya, dan ada pertukaran pikiran  dalam pembuatannya,” jelas Mataram. 

Editor : I Putu Suyatra
#ogoh-ogoh #denpasar