Menurut Bandesa Adat Kesiman Jro Mangku Ketut Wisna, Kamis (19/1), prosesi dan rangkaian upacara Ngerebong tidak ada yang berbeda dari pelaksanaan sebelumnya. Hanya saja pihaknya meprediksi pelaksanaan Ngerebong tahun ini akan dibanjiri pemedek, termasuk dari luar Desa Adat Kesiman.
“Secara umum rangkaiannya acara sama seperti Ngerebong enam bulan lalu karena sudah ada pakemnya. Cuma yang perlu kami tekankan adalah krama maupun pemedek yang ingin melakukan persembahyangan,” jelas Jro Mangku Wisna di ruang kerjanya.
Untuk mengantisipasi membludaknya pemedek, pihak desa adat telah merancang system, terutama untuk waktu persembahyangan para pemedek. Para pemedek dari Desa Adat Kesiman bisa melakukan persembahyangan di Pura Agung Petilan Pengerebongan dari pagi hingga pukul dua siang. Namun krama yang belum sembahyang dapat melakukan persembahyang di jaba tengah pura.
“Yang datang bukan saja pemedek dari desa, melainkan luar desa bahkan luar kabupaten. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, karena banyak pemedek yang tidak bisa sembahyang, sehingga kali ini bisa sembahyang di jaba tengah dan akan dilayani oleh para pemangku,” jelas Bandesa adat yang akrab disapa JMW itu.
Selain persembahyangan, juga dilakukan rekayasa lalu lintas. Pihaknya mohon maaf kepada masyarakat Denpasar karena saat pelaksanaan Ngerebong jalan protokol W.R. Supratman akan ditutup.
“Kami mohon maaf kepada masyarakat Denpasar karena jalan WR Supratman akan ditutup. Kami butuh ruang terbuka karena banyaknya pemedek yang tangkil. Kami juga sudah koordinasikan dengan pihak terkait,” jelasnya.
Untuk diketahui, tradisi Ngerebong digelar enam bulan sekali, tepatnya pada Minggu Pon Medangsia. Prosesi ini digelar mulai pukul 15.00 Wita dan berakhir sekitar pukul 19.00 Wita. Editor : Nyoman Suarna