DENPASAR, BALI EXPRESS - Kejaksaan Tinggi Bali berhasil mengungkap dugaan kasus pemerasan yang dilakukan oleh KR, Bendesa Adat Berawa, Badung, Bali, terhadap seorang pengusaha berinisial AN. Kasus ini terungkap melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan pada Kamis (2/5).
Selain KR dan AN, Kejaksaan Tinggi Bali juga menangkap dua orang lainnya yang diduga terlibat dalam kasus pemerasan ini.
Identitas kedua orang tersebut masih dirahasiakan.
Dari kasus ini, petugas berhasil mengamankan uang tunai Rp 100 juta sebagai bukti dan dua orang lain yang diduga terlibat dalam kasus ini.
Identitas mereka masih dirahasiakan sementara perannya masih diselidiki.
"Jadi total kami amankan empat orang dalam OTT, KR selaku Bendesa Adat Berawa, AN selaku pengusaha, dan dua orang lainnya yang ada di lokasi saat pelaku bertransaksi," ujar Kepala Kejati Bali Ketut Sumedana.
Dugaan kuat menunjukkan bahwa KR telah melakukan praktik pemerasan ini beberapa kali, dengan menargetkan investor lokal maupun asing.
Kejati Bali terus mendalami kasus KR dan memastikan penyelidikan berjalan secara menyeluruh.
Baca Juga: Alasan Bendesa Adat Berawa yang Kena OTT Kejati Bali Bawa-bawa Nama Adat, Budaya dan Agama
“Tindakan ini dilakukan untuk melindungi reputasi Bali di mata investor internasional, menjaga nilai-nilai budaya adat Bali, dan mencegah terulangnya kejadian serupa,” kata Ketut Sumedana.
Seperti diberitakan sebelumnya, KR berdalih bahwa uang yang diminta digunakan untuk kepentingan adat, budaya, dan agama.
Sementara itu, transaksi pembelian tanah di wilayahnya harus melalui perizinan darinya terlebih dahulu.
Tanpa persetujuan, proses transaksi tidak dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya, termasuk ke notaris.
Kejati Bali mengamankan KR dan AN di Cafe Casa Bunga, Renon, Denpasar saat sedang transaksi dan ngopi bersama.
Terkait penetapan tersangka, Sumedana menyebutkan bahwa hal tersebut akan dilakukan setidaknya setelah proses pemeriksaan selama 24 jam.
Lebih lanjut, Sumedana juga akan menelusuri kemungkinan adanya modus serupa di daerah lain yang memiliki potensi pariwisata. ***
Editor : I Putu Suyatra