Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Warga Klungkung Perlu Tahu, Desa di Buleleng Ini Asalnya dari Desa Bungbungan, Banjarangkan

Y. Raharyo • Minggu, 18 Agustus 2024 | 20:46 WIB
Puri Bungbungan, Desa Bungbungan, Banjarangkan, Klungkung, kawitan sebagian warga Desa Penuktukan, Tejakula, Buleleng.
Puri Bungbungan, Desa Bungbungan, Banjarangkan, Klungkung, kawitan sebagian warga Desa Penuktukan, Tejakula, Buleleng.

BALIEXPRESS.ID - Meski terpisah jarak cukup jauh, sekitar 50 kilometer, yakni antara Bali Selatan dan Bali Utara, dua desa ini sebetulnya masih terikat kekerabatan. Yaitu Desa Penuktukan di Kecamatan Tejakula, Buleleng, dengan Desa Bungbungan, di Kecamatan Banjarangkan, Klungkung.

Sebab, asal-usul atau kawitan Desa Penuktukan tidak bisa lepas dari Desa Bungbungan, Banjarangkan. Maka, warga Klungkung perlu tahu kisah menarik dari Desa Penuktukan ini.

Dilansir dari website Desa Penuktukan dan Desa Les, disebutkan bahwa sekitar Abad ke-18, disebutlah sebagai masa kaliyuga. Memang, Bali pada waktu itu pecah jadi sembilan kerajaan yang kerap dipenuhi ketegangan.

Itu setelah Kerajaan Gelgel runtuh diawali dari kudeta di dalam istana oleh sang patih, hingga perebutan dan pembumihangusan Kerajaan Gelgel. Kelak, kelanjutan dari Kerajaan Gelgel memindahkan kerajaan di Semarapura, yang kini disebut Puri Semarapura.

Di tengah ketegangan dan perselisihan tersebut, salah satu simpul kekuasaan, yakni Puri Bungbungan di Banjarangkan, Klungkung, ikut terdampak dari konflik ini.

Akibatnya, salah satu keluarga puri mendapat petunjuk gaib agar meninggalkan puri. Mereka pun memutuskan meninggalkan tempat tinggal mereka.

Mereka, bersama para pengikut setia, berpindah ke Pura Sungsungan Puri (Pura Togoh) untuk bersemedi, memohon petunjuk tentang langkah selanjutnya.

Pewisik di pura tersebut memberikan nasihat untuk meninggalkan negeri dan menuju ke belat gunung.

Dengan tekad bulat, rombongan ini memulai perjalanan panjang melewati hutan lebat dan menyusuri lambung Gunung Batur.

Mereka bergerak hati-hati untuk menghindari deteksi dan akhirnya tiba di tepi pantai utara Pulau Bali, di sebuah alas tutupan. Di sinilah mereka memutuskan untuk berhenti setelah perjalanan yang melelahkan. Mulailah mereka merambah hutan yang berada di wilayah Desa Les, yang pada masa lalu dikenal sebagai Panjingan.

Namun, langkah mereka awalnya mendapat hambatan. Sebab, wilayah tersebut milik Desa Les. Kepada para hulu desa Les, mereka mengaku dari Trah Ksatria yang menyebut dirinya Anak Agung. Juga memohon agar diberikan izin membuat permukiman.

 

Setelah negosiasi, akhirnya pihak Desa Les mengizinkan dengan dua syarat. Syarat pertama, mereka tidak menggunakan kebangsawanan (nyineb wangsa) karena di Desa Les tidak mengenal Triwangsa (kasta) dan dilarang menggunakan bahasa alus atau sorsinggih. Semua dianggap setara di desa ini.

Mereka juag wajib ikut aktif dalam desa pekraman, dan menyungsung pura-pura setempat. Mereka juga tidak membuat pura baru, melainkan satu pura bersama. Sehingga sampai saat ini, desa mereka kelak dalam satu desa pekraman dengan Les.

Dalam perjalanannya, Desa tersebut makin berkembang (menuptupan). Juga datang pendatang lain, seperti dari soroh Pande dan lainnya. Pedusunan ini kelak dinamakan Penuktupan yang dalam perjalanannya mengalami pergeseran nama menjadi Penuktukan hingga saat ini.

Jadi, sampai saat ini, di Desa Penuktukan, para Anak Agung dari Bungbungan itu tidak menggunakan identitas kebangsawanan. Bahkan, mereka juga dimakamkan sama dengan warga pada umumnya. Ini diatur dalam perarem Desa Adat Les Penuktukan.

Meski berada dalam satu desa pekraman, Les dan Penuktukan memiliki desa dinas masing-masing.

Desa Penuktukan yang berada di jalur utara Karangasem-Seingaraja, itu terus berkembang. Berdasarkan Kecamatan Tejakula Dalam Angka 2023, jumlah penduduknya pada 2022 mencapai 5.798 jiwa.

Uniknya, jumlah penduduk Desa Penuktukan lebih banyak dari Desa Bungbungan. Saat ini, jumlah pendudukan Desa Bungbungan berdasarkan Kecamatan Banjarangkan Dalam Angka 2023, pada 2022 hanya sebanyak 3.617 jiwa. ***

Editor : Y. Raharyo
#bali #Desa Penuktukan #tejakula #Desa Bungbungan #sejarah #klungkung #banjarangkan #buleleng