Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Klenteng Ling Gwang Kiong Singaraja, Didirikan saat Dinasti Qing Berkuasa, Begini Sejarahnya

I Putu Mardika • Sabtu, 2 November 2024 | 03:56 WIB

Klenteng Ling Gwang Kiong di areal Eks Pelabuhan Buleleng
Klenteng Ling Gwang Kiong di areal Eks Pelabuhan Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Klenteng Ling Gwang Kiong, yang berada di dekat Pelabuhan Buleleng di Kota Singaraja, Bali Utara, adalah salah satu klenteng tertua di Bali dan mencerminkan sejarah panjang hubungan perdagangan, budaya, dan komunitas Tionghoa di wilayah ini.

Berdiri sejak tahun 1873, klenteng ini didirikan oleh komunitas Tionghoa yang telah lama tinggal di Buleleng dan memainkan peran penting dalam perdagangan maritim di pelabuhan tersebut.

Kata Ling Gwang Kiong berarti Istana Sumber Sakti. Klenteng ini didirikan bersamaan dengan pemerintahan Dinasti Qing di Tiongkok.

Ling Gwang Kiong didedikasikan untuk Dewa Sam Po Hud, yang dihormati dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa sebagai pelindung pelaut dan pedagang.

Pelabuhan Singaraja, yang di masa kolonial Belanda dikenal sebagai salah satu pelabuhan utama di Bali, menjadi tempat strategis untuk pertemuan berbagai budaya dan peradaban.

Pada akhir abad ke-19, aktivitas perdagangan yang melibatkan pedagang dari Tiongkok, Bugis, dan Eropa berkembang pesat di pelabuhan ini, dan komunitas Tionghoa di kawasan itu membangun Ling Gwang Kiong sebagai pusat spiritual mereka.

Klenteng ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat sosial yang memfasilitasi integrasi komunitas Tionghoa ke dalam masyarakat lokal.

Arsitektur klenteng ini mencerminkan gaya tradisional Tiongkok, dengan ornamen yang kaya dan warna merah dominan yang melambangkan keberuntungan.

Patung-patung naga dan simbol-simbol keberuntungan menghiasi bagian luar klenteng, sementara di dalam terdapat altar utama yang menjadi pusat sembahyang.

Ritual perayaan seperti Imlek (Tahun Baru Tiongkok) dan Cap Go Meh rutin diadakan, mengundang masyarakat sekitar untuk ikut merasakan nuansa budaya Tionghoa yang lekat dengan nilai kebersamaan.

Sejak didirikan, Ling Gwang Kiong telah mengalami berbagai renovasi, terutama pasca zaman penjajahan untuk menjaga keutuhan bangunan dan simbol-simbol historisnya.

Hingga kini, klenteng ini masih aktif sebagai tempat ibadah dan sering dikunjungi oleh warga lokal maupun wisatawan yang tertarik dengan sejarah dan arsitektur tradisional Tionghoa di Bali.

Klenteng ini menjadi saksi bisu perkembangan Kota Singaraja dari pusat perdagangan kolonial hingga kota pelabuhan yang modern, sambil mempertahankan warisan multikultural yang mendalam.

Baca Juga: Delapan Bencana Alam Awali Bulan November di Tabanan, Tujuh Pohon Tumbang dan Satu Peristiwa Tanah Longsor

Di Klenteng Ling Gwang Kiong, beberapa perayaan tradisional besar yang memiliki makna penting bagi komunitas Tionghoa dan masyarakat sekitar dirayakan dengan meriah setiap tahun. Berikut adalah beberapa di antaranya:

Tahun Baru Imlek. Tahun Baru Imlek atau Tahun Baru Lunar menjadi perayaan terbesar dan terpenting di Klenteng Ling Gwang Kiong.

Imlek diadakan untuk menyambut tahun baru dalam penanggalan lunar, dan menjadi momen untuk berkumpul bersama keluarga serta mempersembahkan doa kepada para leluhur dan dewa-dewi.

Perayaan ini biasanya diisi dengan sembahyang bersama, pertunjukan barongsai dan naga, serta pembakaran dupa yang menjadi simbol permohonan berkah dan perlindungan untuk tahun yang akan datang.

Lingkungan klenteng akan dihiasi dengan lentera merah yang melambangkan kebahagiaan dan keberuntungan, menciptakan suasana semarak yang dapat menarik masyarakat dari berbagai kalangan

Cap Go Meh. Perayaan Cap Go Meh yang jatuh pada hari ke-15 setelah Imlek juga menjadi acara penting di Ling Gwang Kiong.

Cap Go Meh menandakan penutupan rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek dan menjadi momen untuk mempererat kebersamaan komunitas melalui sembahyang dan berbagai aktivitas budaya.

Acara ini sering disertai dengan pawai atau arak-arakan, yang menunjukkan warisan budaya Tionghoa, serta persembahan kepada para dewa, terutama Dewi Kwan Im, yang dipercaya melindungi umat dari bahaya.

Hari Kebesaran Dewa Sam Po Hud. Hari besar untuk menghormati Dewa Sam Po Hud, yang dikenal sebagai pelindung pelaut dan pedagang, juga dirayakan di Klenteng Ling Gwang Kiong.

Dewa Sam Po Hud adalah sosok penting bagi masyarakat Tionghoa di pelabuhan Singaraja, terutama mengingat klenteng ini didirikan oleh para pedagang dan pelaut yang memohon perlindungan dalam perjalanan mereka.

Pada perayaan ini, umat membawa persembahan seperti buah-buahan, dupa, dan kue-kue khas Tionghoa untuk memohon keselamatan, rejeki, dan kelancaran.

Festival Peh Cun. Peh Cun, yang juga dikenal sebagai Festival Perahu Naga atau Duanwu, adalah perayaan tahunan yang diselenggarakan untuk menghormati pahlawan Tiongkok kuno, Qu Yuan, serta sebagai simbol pengusiran nasib buruk dan permohonan keberuntungan.

Di Ling Gwang Kiong, Peh Cun dirayakan dengan sembahyang, persembahan, dan pembagian kue-kue tradisional seperti bacang (kue beras yang dibungkus daun bambu).

Ritual ini merupakan bentuk syukur dan harapan akan keselarasan dengan alam dan kelancaran hidup.

Festival Zhong Yuan atau Cioko. Zhong Yuan atau Festival Cioko, yang dikenal sebagai Festival Arwah atau Hungry Ghost Festival, adalah perayaan untuk menghormati arwah leluhur dan roh-roh yang dianggap berkeliaran di dunia.

Pada bulan ketujuh penanggalan lunar, umat di Klenteng Ling Gwang Kiong menggelar sembahyang khusus untuk memohon kesejahteraan bagi arwah yang dianggap tidak memiliki keluarga untuk mendoakan mereka.

Perayaan ini diwarnai dengan persembahan makanan, dupa, dan kertas sembahyang yang dibakar sebagai simbol penghormatan dan pengharapan akan kedamaian bagi roh-roh leluhur.

Hari Kebesaran Dewi Kwan Im. Klenteng Ling Gwang Kiong juga memiliki hari-hari khusus untuk menghormati Dewi Kwan Im, yang dikenal sebagai dewi welas asih dalam tradisi Tionghoa.

Umat akan datang berdoa untuk memohon kasih sayang, perlindungan, dan berkah dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Hari besar Dewi Kwan Im dirayakan beberapa kali dalam setahun dan menjadi momen bagi umat untuk mendekatkan diri dengan nilai-nilai welas asih dan kebaikan yang diajarkan oleh sang dewi.

Setiap perayaan ini tak hanya menjadi momen keagamaan tetapi juga budaya, yang mempererat hubungan komunitas Tionghoa dengan masyarakat lokal di Singaraja.

Klenteng Ling Gwang Kiong, dengan berbagai perayaannya, berperan penting dalam menjaga identitas budaya Tionghoa dan sekaligus memperkaya keberagaman budaya di Bali Utara. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#tionghoa #imlek #pelabuhan buleleng #tiongkok #Ling Gwang Kiong #klenteng