Klenteng ini Didirikan 115 tahun silam, tepatnya pada bulan kedelapan tahun 1909. Klenteng Seng Hong Bio adalah salah satu dari dua klenteng penting di Kabupaten Buleleng, selain klenteng lainnya, Ling Gwan Kiong, yang terletak di lokasi berbeda.
Klenteng ini juga dikenal sebagai Tempat Ibadat Tri Dharma (T.I.T.D.) Seng Hong Bio dan berada di sisi timur Pelabuhan Tua Buleleng, di tepi pantai wilayah Tambak Sari.
Ketua T.I.T.D. Ling Gwan Kiong-Seng Hong Bio, Wirasanjaya atau yang juga dikenal sebagai Tjong San, mengisahkan sejarah awal berdirinya Klenteng Seng Hong Bio.
Menurut Tjong San, klenteng ini awalnya merupakan klenteng pribadi, dan pendiriannya berkaitan dengan perjalanan Kapiten Titular Lie Eng Tjie, seorang pejabat Belanda, bersama dua warga Tionghoa, Lie Chang dan Lie Ho, yang datang ke Singaraja karena situasi kekacauan di Tiongkok selama Dinasti Qing akibat Gerakan Yihetuan atau Boxer Rebellion.
Selain melarikan diri dari kerusuhan, Chang dan Ho juga menyelamatkan patung dewa Seng Hong Ya dari kekacauan yang melanda Tiongkok saat itu.
Nama "Seng Hong Bio" berasal dari bahasa Tionghoa yang mengacu pada Dewa Seng Hong Ya, atau dikenal juga sebagai Dewa Kwan Kong, dewa yang dihormati sebagai pelindung kesetiaan, keadilan, dan keberanian.
Dijelaskan Wiransanjaya, di Klenteng ini diyakini berstana Dewa Seng Hong Ya. Beliau adalah dewa pelindung kota yang umumnya dihormati di kota-kota di Tiongkok atau wilayah lain dengan pengaruh budaya Tionghoa yang kuat.
"Dewa ini diyakini oleh masyarakat Tionghoa sebagai penjaga kota, yang berperan melindungi dinding, benteng, dan parit kota dari gangguan roh-roh jahat," jelasnya.
Selain itu, Dewa Kota dipercaya memiliki kekuatan untuk memengaruhi berbagai aspek kehidupan perkotaan, termasuk perkembangan infrastruktur, masalah sosial, bantuan saat terjadi bencana alam atau krisis, serta persoalan pribadi warga.
Kwan Kong adalah sosok yang sangat dihormati dalam tradisi kepercayaan Tionghoa dan diasosiasikan dengan integritas serta kekuatan dalam melindungi umatnya.
Keberadaan klenteng ini menjadi tempat bagi umat Tionghoa untuk memohon berkah, perlindungan, dan keberanian dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta dalam aktivitas perdagangan di pelabuhan.
Pada zaman kolonial, Singaraja adalah pusat perdagangan maritim yang menghubungkan Bali dengan berbagai wilayah di Nusantara dan luar negeri, dan komunitas Tionghoa di Singaraja memainkan peran penting dalam kegiatan ekonomi.
Mereka membangun klenteng ini sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur sekaligus sarana untuk mempererat solidaritas komunitas Tionghoa yang terlibat dalam perdagangan, terutama di Pelabuhan Buleleng.
Arsitektur Klenteng Seng Hong Bio mengikuti gaya tradisional Tionghoa, dengan ornamen khas seperti patung naga, burung hong, dan patung Kwan Kong yang menghiasi bagian utama altar.
Patung-patung ini tidak hanya memiliki nilai estetika tetapi juga simbolis, mencerminkan kepercayaan komunitas akan perlindungan yang diberikan oleh Dewa Kwan Kong dan dewa-dewa lainnya.
Di klenteng ini, perayaan-perayaan besar seperti Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh dirayakan dengan khidmat, melibatkan masyarakat Tionghoa di Singaraja dan sering kali juga diikuti oleh masyarakat sekitar sebagai bentuk apresiasi budaya.
Seiring berjalannya waktu, Klenteng Seng Hong Bio tetap menjadi pusat spiritual dan budaya bagi komunitas Tionghoa di Bali Utara.
Klenteng ini tidak hanya menjadi tempat sembahyang tetapi juga simbol keberadaan dan kontribusi masyarakat Tionghoa dalam sejarah Singaraja.
Meski Singaraja telah berkembang menjadi kota modern, Klenteng Seng Hong Bio terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan sejarah yang kaya, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, dan sebagai simbol keragaman budaya di Bali Utara. (dik)
Editor : I Putu Mardika