BALIEXPRESS.ID- Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali kini tengah berupaya memaksimalkan potensi hutan bambu di bagian utara desa sebagai daya tarik wisata baru.
Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk menarik lebih banyak wisatawan ke Penglipuran, tetapi juga menjadi solusi mengatasi masalah over carrying capacity di pusat desa.
General Manager Desa Wisata Penglipuran I Wayan Sumiarsa menyampaikan bahwa sejak 2022, Desa Wisata Penglipuran telah mulai mengelola hutan bambu sebagai daya tarik wisata baru.
Beberapa fasilitas telah dibangun di kawasan tersebut, seperti sebuah cafe.
Fasilitas terbaru yang diluncurkan pada Desember 2024 adalah jembatan kayu sepanjang 100 meter yang menghubungkan area tengah hutan.
“Sekarang kami sudah melengkapi akses masuk hutan bambu yang lebih estetik berupa jembatan kayu di tengah hutan,” ungkap Sumiarsa ditemui ada Minggu (15/12/2024).
Sumiarsa pun memastikan pembangunan fasilitas pendukung hutan bambu tetap menjaga kelestarian hutan.
Hal ini penting karena bagi masyarakat Penglipuran, hutan bambu memiliki nilai sosial budaya, nilai historis, serta nilai ekonomi yang harus dipertahankan.
Ke depan, pengelolaan hutan bambu ini akan terus ditingkatkan untuk memberikan pengalaman yang lebih beragam kepada wisatawan.
Tidak hanya menikmati keindahan pohon bambu, wisatawan nantinya juga dapat menikmati atraksi tambahan.
Bahkan pengelola Desa Wisata Penglipuran sudah memikirkan mini zoo yang cocok dengan keberadaan hutan.
Rencana menghadirkan mini zoo ini sudah mulai dipertimbangkan oleh pengelola desa wisata.
Namun, untuk mewujudkan ide tersebut diperlukan perencanaan yang matang melalui kolaborasi antara masyarakat, Desa Adat Penglipuran dan pemerintah.
“Kami ingin ada sesuatu agar memberikan pengalaman yang berbeda di hutan bambu,” katanya.
Sumiarsa menegaskan bahwa hutan bambu memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Dari total luas 45 hektare, saat ini baru sekitar 4 hektare yang dikelola secara optimal.
Meski demikian, kawasan ini telah berhasil menarik minat wisatawan untuk berkunjung, yang terlihat dari peningkatan jumlah pengunjung Desa Wisata Penglipuran yang singgah ke hutan bambu.
“Sebelum dikelola dengan baik, sekitar 10 orang wisatawan per hari. Sekarang sekitar 200 orang per hari, lebih banyak wisatawan mancanegara,” bebernya.
Untuk mengelola hutan bambu ini lebih maksimal, Sumiarsa berharap ada dukungan nyata dari pemerintah daerah.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi, mengingat Desa Wisata Penglipuran merupakan penyumbang terbesar pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi sektor pariwisata.
“Kami berharap ada peningkatan kolaborasi, sehingga mampu meningkatkan pelayanan kepada wisatawan,” harapnya. (*)
Editor : I Made Mertawan