SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di bawah terik matahari yang menyengat, suara rantai sepeda tua berderit pelan. Sepeda ontel klasik itu dikayuh oleh seorang perempuan paruh baya dengan tangan yang menguning akibat racikan jamu kunyit yang telah ia buat bertahun-tahun. Ia adalah Mbah Jumilah, perempuan tangguh berusia 70 tahun yang telah mengabdikan hidupnya untuk berjualan jamu rempah.
Sejak pagi buta, tepat pukul 03.00, Mbah Jumilah telah bersiap dengan botol-botol jamu yang ia racik sendiri di rumahnya di Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Buleleng. Dengan sepeda ontel kesayangannya, ia menyusuri jalanan kota, menjajakan jamu buatannya kepada para pelanggan setianya. Setiap botol jamu yang ia jual bukan hanya sekadar minuman, melainkan juga warisan tradisi yang ia pertahankan dengan sepenuh hati.
Mbah Jumilah bukanlah sosok yang mudah menyerah. Sejak muda, ia sudah terbiasa berjualan jamu. Ia merantau dari Bantul, Yogyakarta, ke Buleleng, Bali, membawa serta keterampilan meracik jamu yang telah ia pelajari sejak kecil.
“Saya di Jogja dulu jualan jamu juga. Terus ke sini lanjut lagi jualan jamu,” kenangnya.
Ketika pertama kali tiba di Bali, hidupnya jauh dari kata nyaman. Ia tinggal di sebuah gubuk berlantai tanah yang bocor ketika hujan turun. Namun, keadaan itu tidak membuatnya patah semangat. Berbekal niat dan tekad kuat, ia mulai merintis usaha jamu gendong. Dengan langkah kaki yang mantap, ia berjalan keliling kompleks, menggendong wakul berisi botol-botol jamu.
“Sebelum ada sepeda yang jalan kaki. Jamunya, Mbah gendong pakai wakulan,” kata dia sambil mengocok jamu untuk pelanggan.
Kala itu, memiliki sepeda ontel adalah sebuah kemewahan yang belum bisa ia capai. Ia terus berjualan berjalan kaki hingga akhirnya, berkat kerja kerasnya, ia mampu membeli sepeda ontel pertamanya. “Dulu sepeda itu barang mewah. Saya belum mampu beli,” ujarnya.
Sepeda ontel yang ia beli pada tahun 1980-an dengan harga Rp 8 ribu kini menjadi bagian penting dalam hidupnya. Sepeda itu setia menemani hari-harinya, menjadi saksi perjuangan seorang perempuan gigih yang tidak mengenal lelah.
Salah satu keistimewaan jamu buatan Mbah Jumilah adalah kemurniannya. Ia sama sekali tidak menggunakan bahan pemanis buatan atau pewarna sintetis. “Saya buat sendiri. Racik dan tumbuk sendiri. Gak pakai gula buatan, apalagi kodrang (pewarna). Semuanya alami,” ujarnya bangga.
Bahan-bahan rempah yang ia gunakan didatangkan langsung dari Pulau Jawa. Setiap bulannya, ia membeli dalam jumlah besar, memastikan bahwa kualitas jamunya tetap terjaga. Jenis jamu yang ia jual pun beragam, mulai dari kunyit asam, beras kencur, sirih, temu ireng, hingga temulawak. Setiap hari, ia membawa jamu dalam jumlah tertentu, dan tak pernah pulang sebelum jamunya habis terjual.
Kini, setelah hampir 50 tahun berjualan jamu, Mbah Jumilah telah berhasil membangun kehidupan yang lebih baik. Berkat ketekunan dan keuletannya, ia mampu membeli rumah dan dua bidang tanah seluas masing-masing 7 are di Tawangrejo dan Ngasinan.
“Saya bersyukur, dulu rumah saya kurang layak, sekarang sudah jauh lebih baik. Tuhan memberikan saya rezeki lewat jamu,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Meski hidupnya kini lebih mapan, Mbah Jumilah tetap memilih berjualan keliling dengan sepeda ontelnya. Ia enggan membuka toko atau warung karena merasa lebih nyaman berkeliling kota. “Sudah cukup segini saja. Biar saya bisa jalan-jalan juga. Sudah umur,” ujarnya sambil tersenyum. ***
Editor : Dian Suryantini