Rupanya di desa ini juga menjadi ditemukan pengrajin tas berbahan Eceng Gondok. Menariknya, tas ini dinamai dengan Tas Sultan.
Adalah Ni Ketut Wiryawati yang sudah bergelut menekuni kerajinan Tas Sultan Enceng Gondok ini sejak 7 tahun silam.
Bahan baku dari eceng gondok ini juga didapatkan dari kawasan Gianyar.
Dikatakan Wiryawati, Tas Sultan Eceng Gondot yang dihias dengan mute bukan hanya sekadar aksesoris yang menawan, tetapi juga sebuah karya seni yang memiliki nilai sosial dan ekonomi yang tinggi.
Keindahan desain dan kualitas pengerjaan yang terperinci menjadikan tas ini sangat menarik dan elegan.
Bahkan, sekali mengirim ke Gianyar dan Denpasar, omsetnya tembus hingga Rp 20-30 juta lebih. “Permintaaannya cukup tinggi datang dari kawasan Gianyar dan Denpasar,” kata Wiryati.
Ia menjelaskan, satu buah tas itu proses pembuatan mulai dari pengisian mute, lem dan pengeringan plus antirayap itu perlu waktu 2-3 hari.
Dalam menopang usahanya, Wiryati juga memperkerjakan sejumlah karyawan.
“Kami melibatkan para pekerja ebagian besar berasal dari Nagasepaha. Mereka merupakan ibu rumah tangga yang kebetulan ada waktu senggang,” ungkapnya.
Sementara itu, Pendamping Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT UMKM) Buleleng, Ni Luh Putu Eka Pradnya, SE, MM menjelaskan Desa Nagasepaha cukup bergeliat dengan usaha Tas Sultan berbahan Eceng Gondok ini.
Selain itu, produk ini memiliki dampak positif yang besar bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga di Desa Nagasepaha.
Dalam proses pembuatannya, mereka diberdayakan untuk menciptakan kerajinan tangan yang tidak hanya indah, tetapi juga meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga.
“Kami melihat, Setiap tas yang dihasilkan bukan hanya mencerminkan kecantikan tradisi, tetapi juga memberikan peluang kerja dan pendapatan tambahan bagi keluarga mereka,” kata Eka yang juga dosen di Manajemen Ekonomi STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini.
Ia menambahkan, dengan meningkatnya permintaan dan apresiasi terhadap kerajinan lokal, keberadaan tas Sultan Enceng Gondok menjadi simbol keberhasilan pemberdayaan ekonomi berbasis kreativitas.
“Kami bangga dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan memajukan produk lokal yang memiliki nilai seni tinggi,” jelasnya.
Melalui produk ini, Eka berharap tidak hanya menghasilkan karya yang memiliki daya tarik, tetapi juga membawa manfaat nyata yang berkelanjutan bagi ekonomi lokal, serta melestarikan budaya dan kerajinan tangan tradisional.
“Setiap tas yang terjual menjadi langkah lebih dekat untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik bagi keluarga-keluarga di Desa Nagasepaha,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika