Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Parade Ngelawar se-Bali Turut Lestarikan Babi Hitam, Nyoman Parta : Lawar adalah Pusaka Rasa yang Patut Dirawat

I Dewa Gede Rastana • Minggu, 29 Juni 2025 | 23:18 WIB
UNIK : Parade Ngelawar se-Bali yang diinisiasi anggota DPR RI I Nyoman Parta, Minggu (29/6/2026).
UNIK : Parade Ngelawar se-Bali yang diinisiasi anggota DPR RI I Nyoman Parta, Minggu (29/6/2026).

BALIEXPRESS.ID – Dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, sebuah kegiatan unik dan penuh semangat pelestarian budaya digelar di Wantilan Pura Dalem Guwang, Sukawati, Gianyar, Minggu (29/6/2025).

Parade Ngelawar se-Bali ini diinisiasi oleh anggota DPR RI I Nyoman Parta dan menjadi ajang perdana yang menghadirkan kuliner khas Bali dengan sentuhan kreativitas lintas daerah.

Kegiatan yang berlangsung meriah ini diikuti oleh 47 tim, masing-masing terdiri dari lima orang peserta. Tidak ada batasan usia maupun latar belakang dalam keikutsertaan, karena parade ini dibuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya. Bahkan, seluruh peserta mendapat uang pembinaan dari panitia.

Menariknya, seluruh bahan baku berupa babi organik disiapkan langsung oleh panitia. Peserta ditantang untuk mengolahnya menjadi sajian lawar dengan ciri khas daerah masing-masing. Tujuannya tak lain adalah untuk melestarikan kuliner tradisional Bali yang sangat beragam dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

“Ini pertama kalinya kegiatan parade ngelawar digelar, dan kami ingin menjadikannya ajang untuk memperkenalkan kekayaan kuliner lokal yang dimiliki masyarakat Bali,” ujar Panitia Parade Ngelawar, Angga.

Kreativitas dan cita rasa para peserta dinilai oleh juri profesional, di antaranya Chef Ron dan Manik, finalis MasterChef Indonesia (MCI). Mereka memilih 10 tim terbaik sebagai pemenang favorit berdasarkan orisinalitas, teknik memasak, dan penyajian yang mencerminkan identitas daerah masing-masing.

Anggota DPR RI I Nyoman Parta
Anggota DPR RI I Nyoman Parta

Menurut I Nyoman Parta, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan memasak, karena Parade Lawar se-Bali ini menjadi panggung penghormatan terhadap warisan kuliner Bali yang kaya, penuh makna, dan sarat filosofi. Parade ini diharapkan menjadi wadah untuk merayakan kekayaan rasa sekaligus menelusuri akar budaya yang melekat dalam tradisi lawar.

“Hari ini kita bukan sedang mencari siapa yang membuat lawar terenak. Kita sedang belajar mengenali kembali akar budaya kita, bahwa lawar adalah pusaka rasa yang patut kita rawat bersama,” ungkap Parta. 

Terlebih, ia menyebutkan setiap tim membawa versi khas lawar dari daerah masing-masing, lengkap racikan bumbu, hingga filosofi unik di balik proses pembuatannya.

Keragaman bahan menjadi daya tarik tersendiri dalam parade ini. Ada yang menggunakan bungkil embung, nangka muda, daun tunga, bahkan buah sukun sebagai campuran. Dari sisi bumbu pun tampil cita rasa khas daerah, mulai dari bumbu pedas Karangasem hingga kelembutan rasa khas Buleleng.

Lawar dari berbagai tim dalam Parade Ngelawar se-Bali.
Lawar dari berbagai tim dalam Parade Ngelawar se-Bali.

Teknik pengolahan pun tak kalah bervariasi. Beberapa tim masih mempertahankan tradisi lawas dengan menggunakan daging babi mentah seperti yang dilakukan di Banjar Tewel, Guwang, dan Batuyang. Di daerah lain, daging direbus lebih dahulu sebelum diolah menjadi lawar.

“Semua adalah lawar, yang membedakan hanya cara pandangnya. Bumbunya, teknik memasaknya, dan rasa lokal yang dibawa oleh tangan pembuatnya itulah yang membuat tiap lawar istimewa,” jelas Nyoman Parta.

Salah satu peserta yakni tim dari Forum Perjuangan Driver Pariwisata Bali, Julius menyebutkan jika Ngelawar merupakan bagian dari beryadnya serta melestarikan warisan leluhur. Sehingga ia bersama rekan-rekannya merasa tertantang untuk mengikuti kegiatan tersebut. "Lawar adalah warisan sejarah peradaban zaman sekitar abad 9, yaitu Bhairawa Tantra dan sampai saat ini masih lestari. Lawar tidak hanya makanan konsumsi, namun juga persembahan," ungkapnya.

Parade ini menjadi bukti nyata bahwa kuliner Bali tidak hanya lezat, tetapi juga mengandung nilai sosial, spiritual, dan budaya yang perlu terus dijaga lintas generasi. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#parade #rasa #babi #ngelawar #i nyoman parta #hitam #lawar