BALIEXPRESS.ID – Suasana pagi yang biasa di kawasan Jalan Raya Sesetan, Denpasar Selatan, mendadak berubah jadi kepanikan, Sabtu (5/7). Seorang tukang parkir I Kadek Agus Juniantara, 38, tiba-tiba ambruk di halaman sebuah toko roti, lalu meregang nyawa di hadapan warga yang belum sempat mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Kejadian tukang parkir meregang nyawa di Sesetan ini pun viral dan memunculkan berbagai spekulasi hingga akhirnya polisi angkat bicara soal penyebab kematian pria tersebut.
Korban I Kadek Agus Juniantara awalnya sedang bertugas seperti biasa di depan toko roti tersebut.
Kasi Humas Polresta Denpasar AKP I Ketut Sukadi menerangkan, saksi mata berinisial NLPS (40), yang hendak masuk ke toko, melihat Kadek Agus tiba-tiba jatuh tersungkur ke depan dan kejang-kejang di tempat.
“Korban jatuh dalam kondisi telungkup,” ujar Sukadi.
Teriakan minta tolong dari saksi langsung mengundang perhatian pegawai toko berinisial IKDWA (27), yang keluar dan mencoba menolong korban.
Saat dibalik, tubuh korban masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Namun tak berselang lama, gerak tubuh itu hilang dan Kadek Agus pun meninggal. Polisi yang datang bersama tim identifikasi segera melakukan pemeriksaan di tempat kejadian.
"Hasil pemeriksaan luar tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Hanya ada luka di bagian bibir, kemungkinan akibat benturan saat jatuh," jelasnya.
Dari hasil penyelidikan dan berdasarkan informasi dari pihak keluarga, korban diketahui memiliki riwayat sakit jantung dan bahkan pernah mengalami kejadian serupa di masa lalu.
Segingga, penyebab kematian korban dipastikan akibat sakit jantung.
Jenazah korban kemudian dibawa ke RSUP Prof. Dr. IGNG Ngoerah Denpasar menggunakan ambulans gratis BPBD Kota Denpasar.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kematian bisa datang kapan saja, bahkan saat seseorang tengah menjalankan rutinitasnya yang paling sederhana.
Polisi menegaskan tidak ada unsur kekerasan dalam kasus ini, murni karena faktor medis. Namun bagi warga yang menyaksikannya, momen tersebut tetap menyisakan rasa syok dan duka. (*)
Editor : I Gede Paramasutha