BALIEXPRESS.ID - Pemkot Denpasar kini menunjukkan langkah serius dalam menangani sampah secara mandiri.
Hal ini terlihat dari upaya penambahan tiga TPS3R di lahan yang dihibahkan Pemerintah Provinsi Bali dan teba modern di sejumlah pasar.
Penambahan fasilitas ini pun diharapkan mampu mengurangi permasalahan sampah sebelum Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) beroperasi.
Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa mengatakan, tiga TPS3R baru ini akan beroperasi dengan mengolah sampah dari Pemecutan Kaja, Sidakarya, dan Sanur.
Selain itu, Pemkot Denpasar juga memaksimalkan fungsi TPS3R di 24 titik desa/kelurahan.
Meski belum dapat mengcover seluruh wilayah, dirinya meyakini permasalahan sampah dapat ditangani dengan pengadaan mesin berskala 200 ton dengan target operasi penuh Mei 2026.
"Selain juga penambahan kapasitas mesin di sejumlah TPS3R yang akan dilakukan bertahap," ujar Arya Wibawa.
Pihaknya menyebutkan, pengolahan sampah terus diupayakan agar tidak menimbulkan permasalahan.
Solusi yang diambil Pemkot Denpasar yakni dengan program teba modern, pengadaan komposter, dan pengelolaan sampah berbasis sumber.
"Kami telah mengintensifkan pengelolaan sampah berbasis sumber rumah tangga dan telah membuat 6.000 teba modern dan akan terus bertambah," ungkapnya.
Arya Wibawa pun mengajak seluruh tokoh termasuk tokoh agama yang ada di Kota Denpasar untuk ikut mensosialisasikan pengelolaan sampah dalam ceramah atau kegiatan keagamaan kepada masyarakat.
Apalagi telah ada arahan Presiden RI agar Kabupaten/Kota di Bali melaksanakan kurve atau gerakan serentak penanganan sampah.
Selain gerakan kurve pihaknya juga telah memasifkan sosialisasi kepada masyarakat tentang tata kelola sampah di masing-masing rumah tangga.
Pemkot juga dibantu pemerintah pusat untuk membangun Fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
"Kami optimis kalau ini terwujud akan meringankan pengolahan dan pengelolaan sampah di Kota Denpasar dan Bali, dengan catatan kita tidak kendorkan program pengelolaan sampah di rumah tangga dan sosialisasi. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi paling lambat pada akhir 2027," paparnya.
Disisi lain, Dirut Perumda Pasar Sewaka Dharma Denpasar, Ida Bagus Kompyang Wiranata menyatakan, telah membangun 40 teba modern yang disebar di 16 pasar yang dikelola.
Hal ini menjawab saran yang diterima tim LH yakni pemilahan, pengadaan mesin pencacah, hingga pembuatan teba modern.
"Untuk teba modern sekitar 40 di semua pasar," ungkap Kompyang Wiranata.
Dalam pengolahan sampah, pria yang akrab disapa Gus Kowi ini mengaku juga bekerjasama dengan pemulung.
Hal ini dilakukan untuk penukaran botol plastik dengan koin yang bernilai Rp 300.
Sementara untuk mesin pencacah sampah saat ini masih dilakukan perhitungan kebutuhan mesin.
“Kalau menaruh satu botol dapat satu koin yang bisa ditukar, nilainya sekitar Rp 300,” jelasnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga