BALIEXPRESS.ID-Membaca dan menulis adalah passion I Ketut Suweca. Ayah dua orang anak ini mengaku suka membaca sejak masih anak-anak. Ia selalu menyempatkan diri bertandang ke perpustaan atau mengunjungi toko-toko buku hanya untuk bisa membaca buku. Kendati, ia amat jarang membeli buku karena keterbatasan bekal yang didapatnya dari orangtua.
Kebiasaan membaca tidak kunjung kendor sampai kini. Dari kebiasaan melahap bacaan itu kemudian terpikir olehnya untuk menulis. Suweca pun mulai mencoba menulis artikel begitu memasuki dunia pendidikan tinggi sebagai mahasiswa.
Bukannya menulis untuk penerbitan kampus, melainkan menulis di media massa. Artikel pertamanya ternyata bisa tembus di media cetak, dimuat di sebuah koran nasional pada pertengahan tahun 80-an. Dan, sejak saat itu ia terus aktif menulis di samping tetap membaca hingga sekarang.
Sejumlah media cetak baik lokal maupun nasional pernah memuat tulisannya yang lebih banyak berbentuk Opini. Ketertarikannya terhadap kegiatan menulis dan membaca membawanya menjadi penulis dan kolumnis di media kompasiana.com, kompas.com, dan detik.com. Pria ini juga menulis beberapa buku, baik yang ditulis secara mandiri maupun berkolaborasi dengan penulis lain.
Baca Juga: KPK, ART/BPN dan Pemprov Sulut Bergerak Bersama, Tutup Celah Korupsi Pertanahan dan Tata Ruang
Setelah menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Udayana Denpasar pada tahun 2015, pria yang juga pelatih dan penguji beladiri Shorinji Kempo ini pun melibatkan diri sebagainstaf pendidik di perguruan tinggi, dunia yang diimpikannya ketika masih bertugas di birokrasi pemerintahan.
Sejak tahun 2017 hingga kini Suweca mengajar di di Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Mpu Kuturan -- yang kemudian bertransformasi menjadi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan (IMK).
“Tujuan saya terjun ke pendidikan tinggi adalah agar bisa berkontribusi bagi generasi muda bangsa ini dengan ilmu dan pengalaman yang saya miliki. Berharap saya bisa berperan di situ,” katanya ketika diwawancarai Bali Express.
Pria yang doyan pengetahuan tentang manajemen dan pengembangan diri ini mengaku menemukan ketertarikan baru belakangan ini. Apa itu?
“Dulu bahkan hingga sekarang saya suka membaca dan menulis. Dan, setahun belakangan ini saya juga suka “membaca” karakter atau kepribadian orang,” selorohnya sambil tersenyum. Ya, sejak setahun yang lalu Suweca mulai menekuni cara memahami kepribadian seseorang melalui tulisan tangan yang dikenal dengan sebutan ilmu grafologi.
“Grafologi adalah ilmu menganalisis kepribadian individu melalui tulisan tangan. Tujuannya yakni untuk mengetahui karakter seseorang yang meliputi tingkat stabilitas emosi, intelektualitas, konsep diri, motivasi, produktivitas, komunikasi dan hubungan dengan orang lain, pola pembelaan diri ketika menghadapi ancaman, yang bisa dilihat dengan pendekatan grafologi, “ rincinya.
Suweca menceritakan, ketertarikannya pada grafologi berawal dari pertanyaan yang menggantung dalam benaknya sendiri. Ia melihat dan memeriksa tulisan-tulisan tangan mahasiswa hasil ujian mata kuliah. Ia menyandingkan beberapa tulisan tangan mahasiswa dengan perilaku mereka sehari-hari di kelas.
“Ada yang tulisan tangannya tegak, ada yang miring ke kiri, dan beberapa yang miring ke kanan. Ada pula tulisan yang cenderung naik, datar saja, atau menurun. Lalu, ada tulisan yang ukurannya kecil dan besar, tekanannya halus dan tipis, ada juga tekanannya keras pada kertas sehingga nyaris tembus ke bagian belakang atau kertas di bawahnya. Hal ini sungguh menjadi tanda tanya dalam hati saya: adakah kaitan tulisan tangan dengan kepribadian seseorang?” tuturnya.
Seperti orang dengan rasa dahaga mendapatkan air minum, akhirnya Suweca menemukan jawabannya. “Saya searching di internet, apakah ada pengetahuan atau cara yang bisa menjawab pertanyaan ini: kaitan antara tulisan tangan dengan karakter. Dan, ternyata saya temukan, itulah grafologi,“ paparnya bersemangat.
Baca Juga: Pemkab Klungkung Perkuat Sinergi Wujudkan Layanan UHC Berkualitas
Kini, sudah hampir setahun dia belajar ilmu grafologi dari Karohs International Handwriting Analyst melalui perwakilannya di Bandung yang dipimpin oleh psikolog Syibly Avivy A. Mulachela. Founder-nya adalah ahli grafologi terkemuka di dunia, Dr. Erika M. Karohs, yang berpusat di Amerika Serikat.
Karohs International Handwriting Analyst dikenal sebagai institusi yang prestisius dan kredibel dengan standar pembelajaran yang tinggi. Itulah mengapa diberi predikat sebagai intitusi yang menerapkan gold standard dalam pemberian pelajaran grafologi kepada para siswanya di lebih dari 40 negara.
Selanjutnya Suweca menjelaskan bahwa grafologi bisa digunakan untuk mendapatkan insight tatkala hendak mengambil jurusan yang cocok bagi calon mahasiswa, untuk mengetahui kepribadian secara menyeluruh atau aspek tertentu saja. Membantu perusahaan untuk menemukan kandidat yang cocok untuk suatu pekerjaan atau jabatan, melihat bakat dan minat terbesar individu, bahkan membantu menemukan kesesuaian karakter pasangan yang hendak menjalin hubungan yang lebih serius. Semua itu, kata Suweca, bisa dianalisis dari tulisan tangan dan tanda tangan yang bersangkutan.
“Saya belum merasa puas belajar grafologi walaupun sudah berhasil mendapatkan sertifikasi kompetensi Certified Handwriting Analyst (CHA) dari Karohs. Ini ilmu yang sangat menarik, berguna sekaligus menantang. Saya akan terus belajar dan belajar sekaligus membantu dan berkontribusi untuk masyarakat luas dengan bekal ilmu ini,” paparnya.
Terlebih-lebih di kampus Suweca mengampu mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia, Perilaku Konsumen, Budaya Organisasi, dan Pelatihan dan Pengembangan SDM, yang semuanya bisa menjadi fondasi yang berguna bagi dunia grafologi yang ditekuninya. (dik)
Editor : I Putu Mardika