Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dharma dan Anti-Bullying Warnai MPLS SMPN 4 Tegallalang

Putu Agus Adegrantika • Senin, 13 Juli 2026 | 17:21 WIB
PENYULUHAN : Penyuluhan Agama Hindu di SMPN 4 Tegallalang. 
PENYULUHAN : Penyuluhan Agama Hindu di SMPN 4 Tegallalang. 

BALIEXPRESS. ID – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 4 Tegallalang tahun ini berlangsung berbeda, Senin, (13/7). Selain mengenalkan lingkungan sekolah dan tata tertib kepada peserta didik baru, kegiatan tersebut juga diisi dengan penguatan karakter melalui ajaran Hindu, khususnya nilai Tri Kaya Parisudha, Catur Paramita, serta edukasi pencegahan bullying.


Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, hadir sebagai narasumber untuk memberikan pembekalan kepada para siswa baru. Mereka mengajak peserta didik memahami pentingnya menjalankan Dharma dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun dalam pergaulan di era digital.


Dalam pemaparannya, para penyuluh menegaskan bahwa Dharma merupakan landasan hidup yang mengajarkan nilai kebenaran, kebajikan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut dinilai penting ditanamkan sejak dini agar para siswa mampu membangun hubungan sosial yang sehat dan harmonis.

Baca Juga: Beri Catatan Kritis, Fraksi Golkar DPRD Badung Setujui Pertanggungjawaban APBD 2025


Penguatan karakter juga diberikan melalui ajaran Tri Kaya Parisudha, yakni berpikir yang baik (Manacika), berkata yang baik (Wacika), dan berbuat yang baik (Kayika). Selain itu, siswa juga dikenalkan pada nilai Catur Paramita yang meliputi Maitri (persahabatan), Karuna (kasih sayang), Mudita (simpati terhadap kebahagiaan orang lain), dan Upeksa (sikap bijaksana serta toleran).


Penyuluh Agama Hindu Ni Wayan Ekayanti menegaskan bahwa tindakan perundungan atau bullying bertentangan dengan ajaran Dharma. Menurutnya, perilaku mengejek, merendahkan, maupun mengucilkan teman tidak bisa dianggap sebagai candaan biasa karena dapat menimbulkan dampak psikologis yang mendalam bagi korban.


“Melalui Tri Kaya Parisudha, siswa diajak mengendalikan pikiran, ucapan, dan tindakan agar tidak menyakiti orang lain. Jika nilai ini diterapkan dengan baik, maka budaya bullying dapat dicegah sejak dini,” ujarnya.


Sementara itu, Ida Ayu Kade Ratnawati mengingatkan pentingnya menjaga tutur kata dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ucapan yang santun dan penuh penghormatan tidak hanya mencerminkan karakter seseorang, tetapi juga menjadi kunci terciptanya suasana belajar yang nyaman dan harmonis di sekolah.


Ia mengajak seluruh siswa menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman, ramah, dan menyenangkan bagi semua. Ia menekankan pentingnya membangun semangat kebersamaan, toleransi, dan saling menghargai sejak hari pertama memasuki lingkungan sekolah.


Senada dengan itu, Dayu Ratna mengingatkan bahwa perundungan saat ini tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui media sosial. "Karena itu, para siswa diharapkan mampu menerapkan nilai Tri Kaya Parisudha saat berinteraksi di ruang digital dengan menghindari komentar negatif, ujaran merendahkan, maupun tindakan yang dapat melukai perasaan orang lain, " imbuhnya. 


Sementara Kepala SMP Negeri 4 Tegallalang, Ngakan Putu Suwendra, mengapresiasi kegiatan edukatif yang diberikan oleh para Penyuluh Agama Hindu Kemenag Gianyar. Menurutnya, pembentukan karakter merupakan bagian penting dalam dunia pendidikan.

Melalui pemahaman Dharma, Tri Kaya Parisudha, dan Catur Paramita, para siswa diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, berempati, serta mampu menjadi pelopor terciptanya lingkungan sekolah yang harmonis dan bebas dari bullying.*

Editor : Putu Agus Adegrantika
#smpn 4 tegallalang #mpls