Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mahasiswa KKN UHN Gelar Dharma Wacana, Esensi Ngaben Bukan Kemegahan Melainkan Ketulusan Hati

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48 WIB
NGABEN : Dharma Wacana tentang ngaben massal yang digelar oleh Mahasiswa KKN UHN Sugriwa di Desa Sayan Ubud. 
NGABEN : Dharma Wacana tentang ngaben massal yang digelar oleh Mahasiswa KKN UHN Sugriwa di Desa Sayan Ubud. 

BALIEXPRESS.ID – Upacara Ngaben dalam ajaran Hindu bukan sekadar prosesi pembakaran jenazah, melainkan sebuah perjalanan suci yang sarat makna spiritual untuk menghantarkan atma menuju kedamaian abadi. Pesan tersebut disampaikan Ida Sri Mpu Acarya Nanda dalam Dharma Wacana bertema “Ngaben Merajut Keikhlasan, Menghantarkan Atma Menuju Kedamaian Abadi". Kegiatan itu digelar oleh Mahasiswa KKN UHN Sugriwa di Wantilan Pura Puseh dan Desa Adat Sayan, Desa Sayan, Ubud, Senin (14/7). 

Dalam pemaparannya, Ida Sri Mpu Acarya Nanda menjelaskan bahwa Ngaben merupakan bagian dari Pitra Yadnya, yakni persembahan tulus bakti kepada leluhur dan orang tua yang telah meninggal dunia. "Melalui yadnya ini, keluarga menunjukkan rasa hormat sekaligus keikhlasan dalam melepas kepergian orang yang dicintai, " jelasnya. 

Menurut beliau, yang terpenting dalam pelaksanaan Ngaben bukanlah kemewahan sarana upacara, melainkan ketulusan hati dan pemahaman terhadap makna yadnya itu sendiri. Esensi Ngaben terletak pada upaya membantu perjalanan atma agar terbebas dari ikatan duniawi dan dapat melanjutkan perjalanan spiritualnya dengan damai.

Baca Juga: Rakor Bersama Kepala Daerah Se-Sulsel, Menteri Nusron Tegaskan Perlindungan Lahan Pertanian Jadi Prioritas Pemerintah

Ida Sri Mpu Acarya Nanda juga mengulas tentang konsep Atma Prateka, yang mengajarkan bahwa setiap manusia pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama dalam perjalanan rohaninya. "Karena itu, pelaksanaan upacara tidak perlu menjadi ajang perbandingan status sosial maupun kemampuan ekonomi, " tegasnya. 

Beliau menyinggung praktik Ngaben kinembulan yang kini banyak dilaksanakan masyarakat sebagai bentuk gotong royong dan efisiensi. Dalam pelaksanaannya, setiap keluarga tetap dapat mempersembahkan banten untuk pitra masing-masing, sehingga nilai penghormatan kepada leluhur tetap terjaga meskipun upacara dilakukan secara bersama-sama.

Terkait sarana upacara, Ida Sri Mpu Acarya Nanda menjelaskan bahwa penggunaan petulangan, kajang, maupun perlengkapan lainnya memiliki fungsi simbolis yang sama. Bahkan dalam beberapa pelaksanaan, petulangan dapat digunakan secara bersama, demikian pula kajang yang jumlahnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan upacara.

Beliau menegaskan bahwa tidak ada perbedaan derajat surga berdasarkan besar kecilnya upacara yang dilaksanakan. "Semua atma memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai kedamaian sesuai dengan karma dan ketulusan yadnya yang dipersembahkan oleh keluarga, " imbuh Ida Sri Mpu Acarya Nanda. 

Lebih lanjut dijelaskan bahwa rangkaian Ngaben yang tampak secara fisik merupakan proses pada tataran sekala. Sementara penyempurnaan secara niskala dilanjutkan melalui upacara Nyekah atau Ngeroras yang bertujuan menyucikan serta menyempurnakan perjalanan atma menuju alam yang lebih luhur.

Melalui Dharma Wacana tersebut, Ida Sri Mpu Acarya Nanda mengajak umat Hindu untuk memahami Ngaben secara lebih mendalam sebagai jalan merajut keikhlasan, memperkuat bhakti kepada leluhur, dan menumbuhkan kesadaran bahwa yadnya yang dilakukan dengan hati tulus akan menjadi penghantar terbaik bagi atma menuju kedamaian abadi. *

Editor : Putu Agus Adegrantika
Sumber : adegrantika
ngaben dharma wacana uhn sugriwa