Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Akademisi Muda Tampaksiring Siap Mengabdi: Erman Rizky Dewa Suprapta Usung Regenerasi Kepemimpinan Berbasis Budaya

I Putu Mardika • Rabu, 15 Juli 2026 | 10:49 WIB
Akademisi muda asal Banjar Mantring, Desa Tampaksiring, Gianyar, Erman Rizky Dewa Suprapta, S.Pd., M.Pd
Akademisi muda asal Banjar Mantring, Desa Tampaksiring, Gianyar, Erman Rizky Dewa Suprapta, S.Pd., M.Pd

BALIEXPRESS.ID – Sosok akademisi muda asal Banjar Mantring, Desa Tampaksiring, Gianyar, Erman Rizky Dewa Suprapta, S.Pd., M.Pd., mulai menjadi perhatian masyarakat menjelang proses pemilihan Perbekel Desa Tampaksiring.

Dosen Tidak Tetap (DTT) Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja yang akrab disapa Man Lebih ini menyatakan kesiapannya untuk mengabdikan diri sebagai calon perbekel dengan membawa semangat regenerasi kepemimpinan yang tetap berpijak pada pelestarian budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Lahir pada 14 April 1994, Erman merupakan representasi generasi muda Bali yang berhasil memadukan dunia akademik dengan pengabdian di tengah masyarakat. Ia menempuh pendidikan Sarjana Pendidikan Seni Tari Keagamaan Hindu di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) dan melanjutkan studi Magister Pendidikan Agama Hindu di Universitas I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar yang diselesaikannya pada 2022. Saat ini, selain aktif sebagai dosen, ia juga dikenal sebagai praktisi budaya yang konsisten terlibat dalam pelestarian seni tradisi dan penguatan kebudayaan berbasis desa.

Pengalaman akademik tersebut berjalan beriringan dengan kiprahnya di lapangan. Pada 2022, Erman dipercaya oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia sebagai Pendamping Pemajuan Kebudayaan Desa. Dalam peran itu, ia mendampingi masyarakat menggali potensi budaya, memperkuat tata kelola kebudayaan desa, hingga menyusun strategi pelestarian yang berkelanjutan.

Baca Juga: Optimalkan PAD, Pemkab Bandung Gali Strategi Penerapan Web Service ke Kabupaten Badung

Komitmennya terhadap pelestarian budaya juga dibuktikan melalui keberhasilannya menginisiasi rekonstruksi kesenian sakral Baris Dadap di Desa Adat Bukit pada 2025. Program tersebut terlaksana melalui sinergi bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII, desa adat, tokoh masyarakat, dan para seniman. Rekonstruksi itu tidak hanya menghidupkan kembali sebuah tari sakral, tetapi juga membangkitkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga warisan leluhur.

Selain itu, Erman aktif mendampingi pelestarian seni tari wali, khususnya tradisi wewalen topeng yang menjadi bagian penting dalam ritual keagamaan masyarakat Hindu Bali. Baginya, menjaga seni sakral berarti menjaga identitas spiritual masyarakat Bali yang diwariskan turun-temurun.

Berbekal pengalaman tersebut, Erman kini merasa terpanggil untuk mengabdikan diri pada ruang yang lebih luas melalui kepemimpinan di tingkat desa. Menurutnya, keputusan untuk maju sebagai calon Perbekel Desa Tampaksiring bukan didorong oleh ambisi politik, melainkan oleh semangat ngayah dan tanggung jawab moral terhadap tanah kelahirannya.

"Dorongan terbesar saya untuk maju mendedikasikan diri sebagai Perbekel Desa Tampaksiring murni berasal dari panggilan jiwa, yakni semangat ngayah, serta kesadaran akan kebutuhan mendesak terhadap regenerasi kepemimpinan. Saya lahir, tumbuh, dan mengabdi di Tampaksiring. Bagi saya, desa ini bukan sekadar wilayah administratif, tetapi episentrum kebudayaan Bali yang memiliki keluhuran nilai dan harus terus dijaga taksunya," ujar Erman.

Ia menjelaskan, pengalamannya sebagai akademisi sekaligus pelestari seni tari suci memberikan perspektif bahwa pembangunan desa tidak boleh hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga harus memperkuat identitas budaya yang menjadi kekuatan utama masyarakat Tampaksiring.

"Latar belakang saya yang berusaha menyeimbangkan dunia akademik dengan dunia praktis sebagai pelestari seni tari suci atau wewalen membuat saya semakin yakin bahwa kebesaran nama Tampaksiring harus berjalan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Kebudayaan harus menjadi fondasi pembangunan, bukan sekadar pelengkap," katanya.

Menurut Erman, pengalaman ketika dipercaya menjadi Pendamping Pemajuan Kebudayaan Desa oleh Kemendikbudristek RI menjadi titik balik yang memperluas pandangannya mengenai tata kelola pemerintahan desa yang efektif. Ia melihat bagaimana birokrasi yang tertata dan berpihak kepada masyarakat mampu mendorong kemajuan desa tanpa kehilangan identitas budaya.

"Pengalaman itu membuka wawasan saya tentang bagaimana tata kelola birokrasi dan kebudayaan yang cerdas mampu mengubah wajah desa secara signifikan. Dari sana saya belajar bahwa pembangunan desa membutuhkan kepemimpinan yang mampu menghubungkan potensi budaya dengan kebutuhan masyarakat secara nyata," ungkapnya.

Baca Juga: Ratusan Bikers Honda Ramaikan Regional Public Exhibition New Honda Vario EVO 160

Kesadaran tersebut, lanjut Erman, membuatnya tidak ingin hanya berkontribusi melalui dunia pendidikan dan penelitian. Ia merasa sudah saatnya turun langsung mengambil tanggung jawab dalam proses pembangunan desa.

"Kesadaran itulah yang menuntut saya untuk tidak sekadar diam di balik mimbar akademik, tetapi turun langsung mengambil tanggung jawab demi membawa arah pembangunan yang lebih progresif tanpa pernah mencabut akar tradisi luhur yang telah diwariskan para leluhur kita," tegasnya.

Ia menilai, Desa Tampaksiring memiliki modal besar sebagai salah satu pusat kebudayaan Bali. Karena itu, pembangunan ke depan harus mampu menciptakan keseimbangan antara pelestarian nilai-nilai adat, penguatan sektor pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, tata kelola pemerintahan yang transparan, serta pengembangan potensi generasi muda.

Bagi Erman, regenerasi kepemimpinan bukan sekadar pergantian figur, melainkan menghadirkan cara berpikir baru yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan filosofi lokal yang menjadi jati diri desa.

“Sayameyakini bahwa kolaborasi antara pemerintah desa, desa adat, akademisi, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh elemen warga menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
Erman Rizky Dewa Suprapta Desa Tampaksiring akademisi