BALI EXPRESS, SINGARAJA - Bagi umat Hindu di Bali, lahir pada Wuku Wayang tentu menjadi berbeda.
Bagaimana tidak, umat Hindu Bali yang terlahir di Wuku ke-27 (dari total 30 wuku, Red) wajib hukumnya untuk melaksanakan Upacara Sapuh Leger.
Namun yang menarik, di masyarakat Hindu di Bali, muncul kesan jika Tumpek Wayang yang jatuh pada Saniscara Kliwon memiliki kesan tenget, karena dikaitkan dengan cerita Bhatara Kala, Putra Dewa Siwa yang berwujud raksasa.
Secara mitologis Wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang tercemar atau kotor, karena pada waktu inilah lahirnya seorang raksasa bernama Dewa Kala sebagai akibat pertemuan (sex relation) yang tidak wajar antara Batara Siwa dan istrinya Dewi Uma.
Mereka melakukan tidak pada tempatnya yang disebut kama salah.
Dari karakteristik hari-hari tersebut, masyarakat Bali percaya bahwa setiap anak yang lahir pada Wuku Wayang harus mendapatkan penyucian yang khusus dengan Upacara Sapuh Leger serta menggelar wayang.
Ketut Agus Nova, S.Fil.H M.Ag atau yang akrab disapa Jro Anom mengatakan, Upacara Sapuh Leger wajib dilaksankan oleh seseorang yang terlahir di Wuku Wayang, mulai dari Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu.
“Yang lahir di wuku Wayang, harus Nyapu Leger. Tidak hanya yang lahir di hari Tumpek Wayang saja, baik Redite Wayang hingga Saniscara Wayang” ujar dosen pengajar di STAHN Mpu Kuturan ini, Sabtu (28/7) lalu.
Jero Agus menjelaskan dasar dari pelaksanaan dari Upacara Sapu Leger ini adalah merujuk pada Lontar Kala Purana.
Diceritakan bahwa ketika Ida Batara Siwa bersama Dewi Uma menjalani suatu hubungan sangat romantis, sehingga Dewa Siwa tak mampu menahan hawa nafsunya hingga air maninya jatuh ke Samudra.
Air mani itulah berubah menjadi sosok Raksasa Batara Kala.
“Dalam Lontar Kala Purana, Bhatara Kala diberikan restu oleh Dewa Siwa untuk menadah (memakan, Red) orang-orang yang lahir menyamai kelahirannya, yaitu pada waktu Wuku Wayang, serta orang-orang yang berjalan sandi kaon, kali tepet (tengah hari),” katanya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Selanjutnya dijelaskan, bahwa adik Bhatara Kala yang bernama Hyang Rare Kumara lahir pada Saniscara Kiwon Wuku Wayang.
Hal ini diketahui oleh Bhatara Kala, hingga memohon ijin untuk menyantap adiknya sendiri. Karena takut disantap Batara Kala, akhirnya Hyang Rare Kumara melarikan diri dan mohon perlindungan di mercapada dengan Dalang Mpu Leger, atas bantuan Mpu Leger, Hyang Rare Kumara dapat diselamatkan.
“Karena lapar, Bhatara Kala menyantap sesaji (banten) yang khusus untuk Upacara Sapu Leger. Atas kesalahannya, maka Bhatara Kala menganugrahkan kepada Dalang Mpu Leger untuk menyucikan, serta melukat orang-orang yang lahir pada Wuku Wayang dengan mempersembahkan Wayang Sapu Leger tepat pada waktu Saniscara Wuku Wayang," katanya.
"Inilah asal mula mengapa orang-orang yang lahir pada wuku wayang diwajibkan untuk melakukan ritual Sapuh Leger pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang. Kenapa harus ruwatan Wayang Sapuh Leger? Karena di dalam ritual pementasannya, terdapat puja asta pungku, puja asta sahadewa dan sebagainya,” bebernya.
Disinggung terkait sarana dalam Sapuh Leger, Jero Anom kembali merujuk dalam lontar Kala Purana yang dijelaskan “...Iki maka penauran ri kita, salanlaning pebangkit, den agenep, salwiring wang aweton uku wayang, mwang panebasan weton, yang tan ya manaurutang ri kita sakahyunta Bhatara Kala …”.
Artinya ini sebagai pembayaran kepadamu (Bhatara Kala), saji pebangkit dan pengikutnya, agar genap, bagi semua orang yang lahir Wuku Wayang, serta penebusan kelahiran, jika tidak ia membayar utang kepadamu, semaunya Bhatara Kala.
Jadi melihat isi dari Kala Purana ini, maka yang inti dalam pembuatan bebanten ruwat dalam Wuku Wayang, yakni bebangkit dan sesayut sebagai penebasan baya.
“Sesayut yang dipergunakan seperti Sasayut Sapuh Leger, Sasayut Sungsang Sumbal, Sasayut Tadah Kala, Daksina Penebusan Baya dan Sasayut Lara Malaradan,” ucapnya.
Menariknya, Jro Anom mengungkapkan, apabila kelahiran Wuku Wayang sangat mudah mempelajari ilmu hitam, jika tidak melaksanakan Upacara Sapuh Leger.
“Kelahiran Wuku Wayang energi negatifnya lebih banyak muncul, dan terlalu mudah mempelajari ilmu hitam, jika tidak dilaksanakan upacara Sapuh Leger,” imbuhnya.
Jika dilihat dari sisi umur, lanjut Jro Anom, Upacara Sapu Leger dilaksanakan setelah orang tersebut menginjak dewasa. Artinya untuk laki-laki sudah menunjukkan perubahan fisik, seperti ngembakin (suara membesar), atau sudah pernah mimpi basah.
Sedangkan untuk kaum perempuan sudah mengalami menstruasi.
“Kalau dari segi umur dikisaran 14 tahun keatas. Itu menandakan mereka sudah dewasa, karakternya sudah terlihat,” tegasnya.
Lebih lanjut Jro Anom memaknai secara filosofi, cerita Bhatara Kala sebagaimana yang termuat dalam Lontar Kala Purana memberikan sebuah pesan moral kepada manusia, bahwa hidup manusia selalu dikejar Sang Kala (waktu).
Lahir, hidup, dan matinya manusia selalu dikejar oleh waktu.
“Manusia amatlah kerdil. Manusia tak memiliki daya untuk melawan putaran waktu. Namun ada satu hal yang dapat menyelamatkan hidup manusia dari kesia-siaan karena dikejar waktu, yang dalam cerita Kala Purana digambarkan sebagai wayang : kesenian terkomplit, dengan mengemas unsur tari, tabuh, tembang, dan drama dalam satu pertunjukan. Menikmati wayang, menikmati kesenian. Menikmati kesenian, menikmati hidup” jelasnya.
Di sisi lain, pria kelahiran Desa Kekeran, Kecamatan Busungbiu, Buleleng ini menyebutkan, wayang adalah manifestasinya Dewa Iswara.
Dalam Personifikasinya itu, Dewa Iswara yang bertugas untuk menerangi kegelapan, memberikan pencerahan kehidupan di dunia, serta mampu membangkitkan daya seni dan keindahan.
“Tumpek Wayangmerupakan cerminan dimana dunia yang diliputi dengan kegelapan, manusia oleh kebodohan, keangkuhan, keangkara murkaan. Oleh sebab itu Siwa pun mengutus Dalang turun ke dunia untuk memberikan kekuatan kepada manusia, yang nantinya sebagai mediator di dalam menjalankan aktifitasnya” pungkasnya. ***
Editor : I Putu Suyatra