BALI EXPRESS, DENPASAR - Riwayat Genta menurut legenda, diawali dari suara keroncongan sapi yang ada di pegunungan Himalaya, India. Suara keroncongan sapi tersebut diyakini mampu mengantarkan permohonan para penggembala kepada para dewa, terutama pada saat sapi sedang menggeleng-gelengkan kepalanya. Benarkah demikian, dan bagaimana di Bali?
Genta bermula dari kepercayaan bahwa suara keroncongan sapi ini mampu menghubungkan permohonan penggembala kepada para dewa. "Hal inilah yang menyebabkan keroncongan sapi itu lalu disucikan dan diberi nama genta sebagai sarana untuk menghubungkan umat manusia di India dengan Ida Sanghyang Widhi," ujar seorang pemangku di Bali, Mangku I Wayan Satra yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (10/11/2016).
Dikatakan Mangku Satra, riwayat genta juga hampir serupa dengan di India. Dikisahkan bahwa ketika Danghyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra yang juga disebut Pedanda Sakti Wawu Rauh, mengadakan perjalanan dharmayatra keliling Bali. Beliau bertemu dengan seorang pengalu (pedagang) yang sedang menuntun kuda. Pada leher kuda tersebut dikalungkan keroncongan yang suaranya sangat merdu dan indah sekali.
Pendeta ini sangat kagum dengan suara keroncongan yang melingkar di leher kuda itu. Saking tertariknya Beliau dengan suara keroncongan kuda tersebut, lalu mencoba memintanya kepada pengalu. Sang pengalu pun merasa sangat berbahagia memenuhi permintaan pendeta itu.
Setelah menerimanya, Pedanda Sakti Wawu Rauh lalu menyucikan keroncongan tersebut. Kemana pun beliau pergi selalu dibawanya dengan tujuan untuk meningkatkan daya batin beliau dalam usahanya untuk menyatukan diri dengan para dewa.
"Keroncongan yang telah suci dan disakralkan itu kemudian dinamakan genta dan diwariskan secara turun-temurun kepada sisyanya," tutur Mangku Satra.
Secara religius, lanjutnya, Genta dipandang sebagai senjata Dewa Iswara yang berkedudukan di arah timur, dengan aksara Sang (Sa), aksara suci pertama Dasaksara.
Sebagai senjata Dewa Iswara, maka genta tersebut sangat disakralkan, dan karena itu tidak boleh dipergunakan oleh sembarang orang. Genta hanya boleh dipergunakan oleh mereka yang sudah mawinten, sudah disucikan secara niskala oleh pendeta.
Dalam setiap upacara yadnya, tentu sering kali didengar adanya suara genta. Boleh jadi tidak banyak orang memperhatikan apa yang dapat diharapkan dari suara Genta itu. “Sebenarnya yang diutamakan dari genta sebagai pengiring pujastawa adalah getaran magis spiritualnya,” urainya.
Sebagaimana sudah dijelaskan suara Genta adalah stana Ida Sanghyang Widhi. Karena itu, bunyi Genta sebenarnya merupakan pertanda, bahwa Ida Sanghyang Widhi sedang berada di tengah-tengah umat. “Kuat lemahnya getaran magis spiritual genta tersebut tergantung dari tingkat kesucian dan kekuatan batin orang yang membunyikannya,” papar Mangku Satra.
Benda ini jika dipegang dan digunakan dengan tangan kiri (bagi Sulinggih berpaham Siwa) bernama Genta. Jika dipegang dan digunakan dengan tangan kanan (bagi Sulinggih berpaham Budha, Red) bernama Bajra.
Dijelaskan Mangku Satra, di masyarakat sering terjadi salah kaprah, banyak yang mengartikan bahwa Bajra adalah bahasa halusnya Genta. Namun, nyatanya benda ini tidak mempunyai ‘bahasa halus’ dan ‘bahasa kasar’ karena benda ini benda sakral dan suci.
Dalam Lontar Kusumadewa disebutkan saat melaksanakan tugas, pemangku patut menggunakan Genta, karena denting suara genta sebagai perwujudan ‘bayu’, ucapan mantram sebagai perwujudan ‘sabda’, dan konsentrasi pikiran sebagai perwujudan ‘idep’ dari konsep ‘Tri-guna’ yaitu hakikat anugerah Ida Sanghyang Widhi Wasa kepada manusia. Anugerah itulah yang patut disyukuri dan dipersembahkan ke hadapan-Nya ketika pemangku memuja Beliau.
Dalam Lontar Prakempa disebutkan, bahwa bunyi, suara mempunyai kaitan erat dengan panca mahabhuta yang masing-masing memiliki warna dan suara, kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi, dan akhirnya membentuk sebuah lingkaran yang disebut pangider bhuana.
Editor : I Putu Suyatra