BALI EXPRESS, DENPASAR - Selain sebagai tempat ayam aduan, guwungan juga digunakan dalam ritual sebagai simbol kandungan seorang ibu. Namun demikian, ada kepercayaan bahwa guwungan juga memiliki sisi magis. Benarkah?
Ada kepercayaan unik seputar guwungan. Salah satunya adalah guwungan memiliki kekuatan magis atau taksu, sehingga tidak boleh diperlakukan sembarangan. Contohnya, dilangkahi, diduduki, atau diletakkan di bawah jemuran pakaian. Konon jika hal itu dilakukan, maka ayam aduan yang ada di dalamnya akan ditimpa sial hingga kekalahan. Oleh karena itu, saat hari suci tumpek kandang, guwungan diisi sapsap sebagai simbol penyucian.
Tidak hanya itu, konon guwungan juga berfungsi sebagai penolak bala. Dengan memelihara ayam menggunakan guwungan tersebut, jika ada makhluk halus, maka niatnya mengganggu akan teralihkan. Pasalnya ketika tiba di pekarangan rumah, si makhluk halus akan tertarik dengan guwungan dan isinya tersebut. Katanya menurut penglihatannya, lubang-lubang pada guwungan tersebut seperti ratusan mata. Dengan demikian di makhluk halus akan berusaha menghitung jumlah mata tersebut, namun selalu gagal sehingga ia akan lupa akan niatnya karena terus-menerus menghitung.
Direktur Pasca Sarjana IHDN Denpasar, Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par kepada Bali Express (Jawa Pos Group) tidak menampik adanya kepercayaan tradisional masyarakat Bali seperti di atas. “Itu sah saja, karena berbagai benda di tengah kehidupan masyarakat Bali yang religius tidak jarang merupakan simbol yang berhubungan dengan kepercayaannya,” ungkapnya. Seperti yang telah dikatakannya di awal, guwungan tersebut merupakan simbol dan penuh filosofi, baik dari bentuk dan bahannya.
Lebih lanjut, Sumadi mengatakan, ayam adalah binatang yang peka. Ketika ada gangguan, ayam biasanya akan mengambil tindakan yang refleks atau dalam Bahasa Bali disebut rengas. Oleh karena itu, secara logika, bisa saja ayam menjadi ‘alarm’ tentang bahaya yang mendekat. Di samping itu, ayam juga merupakan binatang yang banyak dimanfaatkan sebagai sarana upacara. Sehingga memelihara ayam adalah sebuah kebutuhan tradisional masyarakat Bali.
Berkenaan dengan fungsi guwungan sebagai penolak bala, ia mengatakan contohnya saat mengubur ari-ari. Saat ritual menguburkan ari-ari di pekarangan, guwungan digunakan sebagai penutup ari-ari yang telah dikubur dengan beberapa sesajen dan perlengkapan lainnya. Setelah dikubur, di atas gundukan tanah ari-ari tersebut diletakkan batu hitam dan lampu dari minyak kelapa. Biasanya diisi juga brotowali dan pandan berduri. Semuanya kemudian ditutup dengan guwungan. Guwungan yang digunakan dalam hal ini adalah guwungan yang belum pernah digunakan atau sukla.
Jika dikaitkan dengan kepercayaan sebagai penolak bala, Sumadi mengatakan bisa saja. Namun demikian, secara filosofi, guwungan juga bermakna sebagai pelindung. Pelindung yang dimaksud adalah secara sekala dan niskala. Secara sekala, guwungan tersebut akan mencegah binatang yang ingin menggali tempat penguburan ari-ari. Sedangkan secara niskala, jika dieja secara modre, guwungan yang berasal dari kata ‘Guwung’ terdiri dari aksara Gem, Ung, Wang, dan Ang. “Gem bermakna semoga hidup tumbuh dan berkembang dalam ‘Ung’, perlindungan dan tuntunan Ida Sang Hyang Widhi dengan ‘Wang’, selalu berbuat manuju arah yang baik dan suci berdasar semangat dan ‘Ang” kreatif serta inovatif,” ujarnya.
Oleh karena itu, Sumadi menegaskan terkadang banyak benda-benda atau hal-hal yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat Bali. Guna memudahkan pemahaman masyarakat awam, hal-hal yang sarat makna tersebut kemudian dibungkus dengan cerita-cerita yang akhirnya hanya dianggap mitos oleh masyarakat modern. “Oleh karena itu, sebagai generasi yang memiliki pengetahuan, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa hal-hal itu tidak berguna. Cobalah menggali makna yang tersimpan di baliknya dengan mempelajari dan memahami secara lebih dalam,” tandasnya. (habis)
Editor : I Putu Suyatra