BALI EXPRESS, MANGUPURA - Dalam tetandingan suatu rangkaian upakara yang cukup besar umat Hindu di Bali, ada yang dikenal dengan nama banten Bebangkit.
Banten Bebangkit umat Hindu, berasal dari kata Bangkit yang dalam bahasa Bali dapat diartikan sebagai kekuatan kharismatik atau kewibawaan.
Sulinggih umat Hindu Bali, Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran yang saat walaka bernama Ida Bagus Putu Sudarsana mengatakan, bebangkit juga dapat diartikan sebagai prabhawa Sang Hyang Widi yang bersemayam di Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.
“Sehingga, secara nyata kita dapat melihat tentang adanya Tejan Jagat. Tejan Jagat adalah suatu kekuatan yang bersumber dari Teja. Demikian pula dengan dengan umat manusia, kita dapat melihat kharisma orang tersebut secara kasat mata,” ulas Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.
Maka dari itu, lanjutnya, banten Bebangkit merupakan simbol dari kekuatan Teja yang bersumber pada titik zenith pada bumi.
Oleh karena itu, bagaimana pun gelapnya bumi masih ada saja sinar yang berinfiltrasi keseluruh permukaan bumi ini. Demikian juga kekuatan Teja ini bermanifestasi menjadi kekuatan-kekuatan yang bersifat kesenian dan keindahan.
Sehingga kita dapat melihat kenyataan di alam semesta ini, terdapat bebrapa tempat yang mengandung seni sampai bersifat sakral.
Ditambahkan Ida Nak Lingsir, dalam Lontar Tapeni Yadnya dan Pelutaning Yadnya, dijelaskan bahwa banten Bebangkit juga merupakan simbol kekuatan hukum Rta (hukum alam).
Yakni. Dalam setiap perjalanan kehidupan, seseorang akan menjumpai yang namanya suka, duka lara, dan pati. Semua mahluk hidup akan pernah mengalami siklus ini.
"Semua orang pasti pernah saja susah atau pun senang," imbuhnya.
Jika dipandang dari segi Bhuwana Alit, lanjutnya, banten Bebangkit ini merupakan simbol kekuatan kesidhian, memiliki jiwa seni dan dapat merasakan keindahan.
Serta yang tak kalah penting adalah memiliki ambisi, ego, dan ahamkara, karena Bebangkit ini merupakan simbol otak kanan atau Polo Masceti dan sumber kekuatannya berada pada pusar atau nabi.
“Oleh karena itulah pedoman penempatan banten Bebangkit pada banten Ayaban berada di sebelah kanan dari Banten Peras,” urainya.
Selain itu, banten Bebangkit menggunakan daging guling babi.
Karenanya, tujuan dari pembuatan dan persembahan banten Bebangkit adalah sebagai simbol permohonan kepada Ida Sang Hyang Widi agar Beliau menganugerahkan kekuatan kharisma terhadap Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.
Banten Bebangkit memiliki sejumlah komponen jajan, yakni jajan berupa Matahari atau Surya yang merupakan simbol kekuatan widya.
Jajan berupa Bulan atau Candra, sebagai simbol kekuatan kharisma. Jajan berupa senjata Gada adalah simbol kesidhian. Selanjutnya, jajan berupa Ombak sebagai simbol gelombang kehidupan.
Kemudian, jajan berupa Burung Angsa adalah simbol ilmu pengetahuan. Dan, yang terakhir adalah jajan berupa Burung Gelatik yang menjadi simbol keindahan dan kesenian.
Jadi, total ada enam jajan yang digunakan pada banten bebangkit. Namun, sejatinya masih banyak komponen penunjang lainya yang digunakan. ***
Editor : I Putu Suyatra