BALI EXPRESS, DENPASAR - Ogoh – ogoh mulai mewarnai tiap sudut di Pulau Dewata. Menyambut Hari Raya Nyepi terasa kurang meriah, bila sosok identik Bhutakala ini tidak ada. Lantas, seperti apa makna dan filosofi dari Ogoh – ogoh?
Tahun Baru kali ini, Saka 1940, Sabtu, 17 Maret 2018, sangat spesial. Bagaimana tidak? Perayaan Nyepi yang berbarengan dengan Saraswati, membuat umat kian meninggi aktivitasnya. Pasalnya, piodalan di sekolah - sekolah harus dilakukan sebelum pukul 06.00, karena setelah itu, giliran Nyepi dengan Catur Brata Panyepiannya sudah harus berlangsung. Meski acara lumayan padat dan ketat, namun semangat untuk mewujudkan Ogoh-ogoh tak pernah surut. Ogoh-ogoh malah terlihat paling siap menyambut Nyepi, berdiri gagah di setiap sudut balai banjar.
Ogoh – ogoh identik dengan tampilan yang menyeramkan, bertubuh besar, bertaring dan mata melotot. Tak jarang, Ogoh ogoh juga ditampilkan dengan wujud setengah binatang ataupun manusia jadi - jadian. Dewasa ini, pembuatan Ogoh – ogoh semakin berkembang mengikuti zaman.
Dahulu, rangka Ogoh – ogoh hanya terbuat dari bambu ataupun kayu. Namun kini, mulai divariasikan menggunakan rangka besi agar tidak mudah rusak ketika diarak. Tak hanya dari segi rangka, dari segi tampilan pun kini lebih variatif. Badan Ogoh – ogoh kini dilapisi dengan sterofoam agar terlihat berisi, lalu dilapisi lagi dengan kertas serta cat, membuat tampilannya bagaikan sebuah karya seni.
Boneka raksasa dengan tinggi tiga hingga enam meter itu, sering kali dibuat dengan biaya yang tak sedikit. Sehingga banyak di antaranya yang merasa tak tega jika usai prosesi, Ogoh – ogoh tersebut harus dibakar. Hal itu sangat disayangkan oleh Guru Besar Institut Hindu Dharma Denpasar (IHDN), Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda . Menurutnya, Ogoh – ogoh merupakan simbol dari Bhutakala yang ada dalam tiap diri manusia. Bhutakala dalam diri manusia disebut dengan sad ripu. “Sad ripu adalah sifat – sifat buruk dalam diri manusia. Biasanya sifat – sifat itu identik dengan sifat raksasa. Maka Ogoh – ogoh pun umumnya menyerupai bentuk raksasa,” papar Mpu Jaya Acharya Nanda.
Pandita yang tinggal di Gianyar ini mengingatkan, prosesi ngarak Ogoh – ogoh adalah simbolisasi pembersihan diri dari segala macam sifat buruk dan mala, pada saat Tilem Kasanga, yaitu masa di mana peralihan antara saat terburuk dan tergelap menuju saat terbaik. “Nyepi adalah saat kita membuka lembaran baru. Di mana kita bisa instropeksi diri, menyadari kesalahan apa yang telah kita lakukan, dan bagaimana kita dapat menjadi lebih baik ke depannya. Maka itu, ketika Pangrupukan prosesi mengarak Ogoh – ogoh itu dilaksanakan. Agar pengaruh sifat raksasa kita dapat diminimalisasi ketika melaksanaka Tapa Brata Panyepian,” paparnya.
Dalam prosesi Pangrupukan, lanjutnya, lima usur Panca Maha Bhuta ,yakni apah, tejo, bayu ,akasa, dan pertiwi dinetralisisasi melalui banten caru serta rentetan prosesi Pangrupukan di tiap pekarangan rumah. “Ketika Pangrupukan, pembersihan dilaksanakan, dimulai dari pekarangan rumah, lingkungan sekitar hingga desa. Nah, pembersihan Bhutakala dalam desa dilakukan dengan mengarak Ogoh – ogoh keliling lingkungan desa. Fungsinya mengusir semua yang buruk, semua mala, dan kesalahan serta penyesalan manusia di masa lalu,”paparnya.
Ogoh – ogoh konon muncul di awal abad XII. Dalam prasasti Mantring A yang berangka tahun 1099 caka atau 1177 masehi, menyebutkan Maharaja Jaya Pangus memerintah dan menyunting seorang putri keturunan China yang beragama Budha. Banyak mitos yang berkembang mengenai asal usul Ogoh - ogoh. Dalam beberapa sumber dikatakan, Ogoh – ogoh dikaitkan dengan zaman Kerajaan Balingkang. Di mana raja dan ratu yang berkuasa, konon memiliki wajah dan rupa yang buruk. Sehingga disimbolisasikan ke dalam Made Agung dan Ratu Ayu. Dari perwujudan barong landung itu, akhirnya menjadi cikal bakal dari bentuk Ogoh – ogoh saat ini.
Di sisi lain, Mpu Jaya Acharya Nanda menjelaskan, sampai saat ini belum ada informasi yang pasti kapan tradisi Ogoh – ogoh mulai berlangsung di Bali. “Memang banyak sumber yang menceritakan asal mula Ogoh – ogoh, namun belum ada sumber jelas, yang dapat dijadikan landasan keberadaan Ogoh – ogoh,” paparnya. (diah tritintya)