BALI EXPRESS, AMLAPURA - Meskipun tergolong pemula dalam urusan ogoh-ogoh, namun Semeton Bukit, Desa Adat Bukit, Karangasem sudah mampu menghasilkan ogoh-ogoh bernilai seni. Nyepi tahun ini, Semeton Bukit mengangkat tema Lubdaka Siwa Loka. Tema yang digagas I Ketut Adi Suantara itu menceritakan perjalanan Lubdaka menghidupi diri dan keluarganya dengan berburu binatang yang menurut Sang Suratma itu adalah kesalahan lantaran Lubdaka membunuh binatang.
“Tetapi dengan dharma, Sang Lubdaka begadang semalaman, merenungi dosa-dosanya pada Siwaratri dianggap sudah menebus dosa yang pernah diperbuat,” cerita Suantara, Kamis (15/3).
Melalui tema ogoh-ogoh itu, Semeton Bukit ingin menyampaikan pesan bahwa sebesar apapun kesalahan yang telah diperbuat, masih ada waktu perbaiki diri. Tidak ada kata terlambat untuk berbenah. “Melihat zaman kaliyuga ini, masih banyak orang menghindar dari kesalahan dengan memanfaatkan keadaan, mengorbankan orang lain untuk kepentingan diri sendiri,” ujar Suantara.
Ketua Semeton Bukit I Nyoman Siki Ngurah mengatakan, tradisi mengarak ogoh-ogoh saat pangrupukan serangkaian Nyepi terbilang baru di Desa Adat Bukit. Itu baru dimulai sejak perayaan Nyepi lima tahun lalu. Perayaan tahu-tahun sebelumnya, tidak ada ogoh-ogoh di sana. Desa Adat Bukit sebatas menggelar upacara pecaruan saat pangrupukan.
Ia menuturkan, awal mula adanya ogoh-ogoh di Desa Bukit berawal ketika melihat perayaan Nyepi dari tahun ke tahun di desa setempat. Katanya hanya sedikit anak muda yang terlibat tawur agung kesanga. Anak muda di desa itu lebih banyak menyibukan diri menonton ogoh-ogoh di tempat lain.
Melihat hal itu, akhirnya dirembugkan dengan prajuru adat, termasuk melibatkan Jro Mangku Dalem. Setelah mendapat persetujuan, baru Semeton Bukit menggarap ogoh-ogoh. Semeton Bukit itu merupakan kumpulan orang-orang dari Desa Bukit, dari berbagai usia, yang secara khusus berkaitan dengan ogoh-ogoh. “Bendesa adat juga masuk dalam struktur Semeton Bukit sebagai penasehat. Tahun pertama Semeton Bukit membeli ogoh-ogoh. Secara bertahap, kami bisa bikin sendiri,” tegas Siki Ngurah, seraya menyebutkan bahwa dana pembuatan ogoh-ogoh itu bersumber dari sumbangan warga Bukit.
“Hampir 90 persen warga Bukit itu secara sukarela ikut nyumbang. Setelah ada tradisi ogoh-ogoh, warga Bukit di perantauan ketog semprong pulang kampung,” imbuh pria yang juga Sekretaris Bapelitbangda Kabupaten Karangasem itu.
Saat mengarak ogoh-ogoh hari ini, pihaknya mengingatkan agar tidak ada teruna atau warga lainnya pesta minuman keras yang bisa memicu konflik. “Dari proses pembuatan kami sudah tekankan, tidak boleh ada minum miras. Termasuk saat mengarak,” tegas Siki Ngurah.
Editor : I Putu Suyatra