BALI EXPRESS, DENPASAR - Tak banyak yang tahu, prosesi manusia yadnya tak hanya sekedar telubulanin, mesangih dan nganten saja. Ada prosesi manusia yadnya lain yang ternyata tak kalah penting sepeti prosesi Warak Kruron, Upacara Ngelangkir, Upacara Ngelungah dan Megedong – gedongan.
Keempat prosesi ini termnasuk jarang ditemui di tengah masyarakat. Pasalnya upacara ini dilakukan hanya bagi mereka yang mengalami keguguran, bayi meninggal sebelum kepus pungsed, bayi meninggal sebelum ketus gigi dan atau keguguran.
Guna meringankan beban masyarakat, Paguyuban Widya Swara dan Griya Gede Manik Uma Jati menggelar keempat upacara manusia yadnya itu dilakukan secara massal di Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, Sabtu (13/10).
Ketua Panitia Pelaksana, Jro Mangku Dharma Wisesa mengatakan, upacara manusia yadnya tak hanya sebatas nelubulanin, mesangih dan nganten saja. Ada beberapa upacara yang harus dilakukan sesuai dengan kondisi yang terjadi.
“Nah, upacara – upacara ini memang tidak semua orang melakukannya. Kenapa? Contohnya upaara Warak Kruron, upacara ini dilakukan hanya bagi mereka yang pernah mengalami keguguran. Baik itu keguguran yang disengaja ataupun tidak. Karena tidak semua orang pernah mengalami keguguran maka itu upacara ini tidak begitu dikenal dikalangan masyarakat umum,” terangnya.
Prosesi yang diikuti oleh 150 peserta tersebut dilakukan di sebelah utara Pantai Mertasari, Sanur. “Pesertanya hari ini ada 150 orang dari berbagai soroh dan berasal dari seluruh daerah di Bali. Intinya melalui upacara manusia yadnya massal ini kami ingin menjawab bahwa prosesi upacara di Bali itu tidak mahal. Yang mahal itu hanya gengsi dan brayanya. Melalui acara ini kita juga ingin meringankan beban masyarakat soal banten dan upacaranya,” tegas Jro Mangku Dharma Wisesa.
Hal senada diungkapkan pula oleh Sulinggih, Ida Mpu Yogi Swara dari griya Uma Jati. Menurutnya prosesi upacara manusia yadnya yang langka ini harus dilakukan. “Ini penting untuk dilakukan karena dampak secara sekala dan niskalanya akan terjadi jika tidak dilaksanakan,” ujar Ida Mpu Yogi Swara.
Dalam rangkaian acara ini terdapat 3 upacara yang menarik dan jarang dilaksanakan yaitu Warak Kruron, ngelangkir dan ngelungah. Ida Mpu menjelaskan Warak Kruron adalah sebuah prosesi pengembalian atman bayi yang tidak sempat terlahir di dunia.
“Jadi bayi yang sudah terbentuk dalam Rahim ibu walaupun bentuknya seperti tokek yang meringkuk, ia tetap memiliki atman. Nah janin yang tak sempat lahir baik itu karena keguguran ataupun digugurkan atmannya harus dikembalikan ke alam suargan. Prosesi pengembalian atman itulah yang disebut Warak Kruron. Namun sayangnya tidak banyak yang tahu prosesi ini harus dilakukan bagi mereka yang pernah mengalami keguguran,” jelas Ida Mpu.
Ia menambahkan jika tidak dilaksanakan, maka atman bayi tersebut akan menganggu kehidupan ayah dan ibunya hingga tutup usia. “Apa akibatnya? Atman janin itu akan mengganggu kehidupan ayah dan ibunya, contohnya ayah dan ibunya akan mengalami sakit berkepanjangan, atau sering mengalami kecelakaan, rejekinya susah. Secara sekala si ibu biasanya akan mengalami kanker rahim karena paska keguguran itu tidak dibersihkan,” terangnya.
Ia menegaskan, prosesi ini bisa dilakukan jika usia kandungan sudah memasuki 2 minggu hingga tiga bulan ke atas. “Minimal usia 2 minggu, kenapa? Karena darah sudah membentuk janin walaupun seukuran biji kacang, tapi secara Hindu atman sudah berada di dalam janin sejak usia 2 minggu kandungan,” terangnya.
Selain Warak Kruron, diselenggarakan juga prosesi ngelangkir, upacara ini ditujukan bagi bayi yang meninggal sebelum kepus pungsed. “Kalau orang dewasa atau anak – anak meninggal kan prosesinya ngaben, nah bagaimana dengan bayi yang baru lahir langsung meninggal? Ibarat belum kepus pungsednya, prosesi yang harus dilakukan adalah ngelangkir ,” terangnya.
Dalam upacara ngelangkir tersebut keluarga harus matur piuning ke Mrajapati dan Pitara Guru . “Inti utama prosesinya adalah memohon izin kepada Hyang Pitara dan leluhur di sanggah merajan. Itu wajib dilakukan bagi mereka yang ingin mengikuti prosesi Ngelangkir. Tujuan dari prosesi ini adalah menyatukan kembali zat panca maha bhuta dan membersihkan sang atman dengan tirta penglukatan rare agar sang atman dapat kembali bereinkarnasi,” terangnya.
Hampir sama dengan prosesi ngelangkir, prosesi ngelungah juga bertujuan untuk mengembalikan usur panca maha bhuta dan menyucikan sang atman agar dapat kembali bereinkarnasi. “Tujuan dan fungsinya sama, hanya saja kalau ngelungah di gunakan untuk bayi yang telah kepus pungsed, namun belum menketus giginya. Bayi bayi yang belum meketus di ibaratkan masih sangat suci, makanya prosesinya agak berbeda seperti orang dewasa dan anak – anak pada umumnya,” terngnya.
Terakhir, Ida Mpu berharap lewat prosesi ini, masyarakat jadi mengetahui dan dapat meringankan beban biaya upacara. “Prosesi – prosesi ini kan memang jarang dikenal dan dilaksanakan di tengah masyarakat. Ada yang memang tidak tahu ada juga yang malu mengakui pernah mengalami keguguran. Nah lewat acara ini kami berharap masyarakat mengerti dan disamping juga meringankan beban biaya karena disini biayanya kita tanggung bersama,” terangnya.
Editor : I Putu Suyatra