BALI EXPRESS, TABANAN - Pura Dalem Kahyangan Kedaton merupakan salah satu pura di wilayah Kabupaten Tabanan yang keberadaannya sangat penting dan unik. Pura yang berada di areal objek wisata Alas Kedaton ini dikenal memiliki sejumlah perbedaan dibandingkan pura lainnya di Bali.
Berlokasi di Banjar Dinas Lodalang, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, untuk menemukan pura ini sebenarnya tak sulit. Dari Denpasar hanya perlu menempuh jarak sekitar 18 kilometer. Ketika tiba di kawasan objek wisata Alas Kedaton, pemedek yang disambut ribuan monyet, bisa mencari Pura Dalem Kahyangan Kedaton itu dengan menyusuri bagian tengah hutan Alas Kedaton. Karena di dalam hutan yang penuh monyet itulah, pura tua dan penuh sejarah itu berada.
Berbeda dengan pura pada umumnya, Pura Dalem Kahyangan Kedaton hanya terdiri dari jeroan dan jaba tengah. Tidak itu saja, struktur bangunan pura ini juga masih dijaga sebagaimana bentuk awalnya. Hanya saja, pada bagian atas bangunan maupun pelinggih yang berbahan dari ijuk, sengaja dibungkus dengan jaring kawat. Tujuannya tak lain agar atap itu mudah dirusak kawanan monyet penghuni hutan.
Uniknya lagi, pada areal jeroan, posisinya ternyata lebih rendah dibandingkan jaba tengah. Padahal pada umumnya, posisi jeroan biasanya lebih tinggi daripada jaba tengah, terlebih jaba sisi. Keunikan lainnya, pura ini juga memiliki empat pintu masuk. Dimana posisinya berada pada empat penjuru mata angin, yakni di sisi barat, selatan, timur dan utara.
Disamping itu, Pura Dalem Kahyangan Kedaton merupakan sebuah pura kuno. Ini dengan ditemukannya sejumlah peninggalan arkeologi, hingga pura ini ditetapkan sebagai cagar budaya. Diperkirakan pura ini merupakan peninggalan purbakala zaman megalitikum, tepatnya berdiri sekitar tahun 1286 caka. Ini dibuktikan dengan adanya bukti-bukti sejarah berupa lingga semu, arca durga, arca ganesha serta arca naga. Sehingga dipercayai yang berstana di pura tersebut merupakan putra dari Dewa Siwa yakni Ida Betara Gana atau Ganesha.
Sementara untuk areal jeroan pura, terdapat beberapa pelinggih, seperti pelinggih meru, dimana tiga diantaranya merupakan pelinggih utama, yakni Pelinggih Dalem, Kahyangan, dan Kedatuan.
Menurut Jero Mangku Alit Pura Dalem Kahyangan Kedaton, Jero Mangku Ketut Sudira, masing-masing pelinggih utama tersebut memiliki fungsi masing-masing. Seperti Pelinggih Dalem melapor, Pelinggih Kahyangan berdiskusi, dan Pelinggih Kedatuan memutuskan. “Namun secara umum ketiga pelinggih ini dipercaya sebagai tempat untuk memohon kemakmuran, kesejahteraan dan keselamatan, tidak hanya bagi umatnya tetapi juga bagi ternak,” tegasnya.
Terkait pujawali di Pura Dalem Kahyangan Kedaton tersebut. Jero Mangku Sudira menuturkan, ada satu kepercayaan masyarakat akan Pura Dalem Kahyangan Kedaton yang sampai saat ini masih dijalankan. Seperti dalam pelaksanaan pujawali, dimana upacara ini tidak dilaksanakan sampai malam hari. Hal ini tentu tak lepas dari kepercayaan, Pura Dalem Kahyangan Kedaton tak hanya disungsung oleh warga secara sekala, tapi oleh mereka di niskala. “Jadi selain diempon kita umat manusia, pura ini dipercaya juga disungsung oleh yang tidak terlihat. Karena banyak yang punya pengalaman mengenai itu. Dimana setelah krama menghaturkan piodalan, pada malam harinya di pura ternyata tetap ramai. Seperti ada orang yang ngodalin, dan ada suara gong. Padahal krama sudah pulang, dan sebenarnya di pura sudah sepi,” ceritanya.
Karena itulah, dengan pelaksanaan pujawali yang hanya sehari, maka prosesi dilakukan sejak siang hari, dan berakhir sebelum matahari terbenam sekitar pukul 18.00. Pujawali ini dihaturkan secara bergiliran oleh krama dari 12 banjar adat sebagai pengempon pura. Meski pujawali hanya sehari atau pada Anggara Kasih Medangsia, sehari sebelumnya biasanya juga dilaksanakan prosesi pecaruan.
Dalam kesempatan kemarin, Jero Mangku Sudira juga turut menjelaskan mengenai sejumlah pantangan di Pura Dalem Kahyangan Kedaton. Seperti patangan untuk menggunakan api, lampu, bahkan menghidupkan dupa sebagai sarana persembahyangan. Tak itu saja, ada juga pantangan untuk menggunakan kwangen dan penjor, serta jaja gina berwarna merah. Namun untuk kelengkapan upakara harus menggunakan tamiang yang terbuat dari daun pisang mas, serta pujawali cukup dipuput Jero Mangku.
“Sarana upakara yang dipakai ya hanya menggunakan apa yang ada disekitar pura saja. Seperti dedaunan dan tumbuh-tumbuhan,” imbuhnya.
Sedangkan tamiang dari daun pisang tersebut, memiliki makna sebagai penolak bala. Konon katanya pada jaman dahulu pura tersebut digunakan sebagai lokasi persembunyian dan perlindungan. Tak itu saja, dalam mereresik atau bersih-bersih, pantang menggunakan sapu lidi biasa. Namun menggunakan sapu yang terbuat dari lidi daun jaka yang dibuat di pura, atau menggunakan ranting-ranting pohon.
Dan sebelum pujawali dilaksanakan, terlebih dahulu krama melakukan tradisi Ngerebeg. Tradisi ini merupakan suatu prosesi berlari dengan menggunakan sarana, seperti tombak, lelontek, tedung dan sarana lainnya, semisal dedaunan dan ranting. Tradisi ini dilakukan dengan mengeliling areal pura dengan bersorak dan bergembira.
Hanya saja hingga saat ini belum ada babad atau prasasti pasti yang menuliskan atau menceritakan sejarah mengenai pura tersebut. Sehingga apa yang sudah berjalan selama ini, merupakan kepercayaan turun temurun dari para penglingsir atau leluhur terdahulu. “Itu memang kami percayai hingga saat ini,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra