BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pementasan Tarian Wali, Wayang Wong di Pura Pemaksan, Desa Pakraman Tejakula, kembali dilaksanakan bertepatan dengan Wraspati Wuku Dunggulan, atau Manis Galungan, Kamis (25/7). Penampilan tarian sakral yang menggabungkan kesenian Parwa dengan Gambuh ini, menyedot perhatian pamedek yang nangkil di Pura Pemaksan.
Pementasan tarian sakral Wayang Wong ini dimulai sejak pukul 15.30 Wita. Mereka ngayah selama 2,5 jam. Lebih dari 50 pregina Wayang Wong dilibatkan. Alur cerita yang diangkat pun selalu berkaitan dengan Kisah Ramayana. Kali ini, pementasan mengambil lakon Meganadha Melepas Panah Nagapasha.
Menjelang pentas, puluhan pregina berkumpul di wantilan Pura Pemaksan. Mereka wajib mengikuti sejumlah ritual, salah satunya sembahyang, mengikuti upacara pamungkah gedong dan memasang Daun Girang di setiap topeng Wayang Wong. Konon, Daun Girang dipasang karena berfungsi sebagai penolak bala dari gangguan niskala.
Ketua Yayasan Teja Kukus, sekaligus Pregina Wayang Wong, Gede Komang mengungkapkan, Tarian Wayang Wong sudah memiliki agenda pasti untuk dipentaskan, khususnya di Pura Pemaksan, Pura Kahyangan Tiga, dan Pura Dangka Desa Tejakula. Khusus untuk di Pura Pemaksan, selalu dipentaskan setiap setahun sekali (dua kali Galungan), tepatnya Manis Galungan.
Puluhan topeng Wayang Wong ini disimpan di Pura Pemaksan yang diyakini telah ada sejak abad ke- 16. Sehingga diyakini usia topeng ini telah mencapai empat abad. Dikatakan Gede Komang, karakter tokoh topeng pun tidak jauh dari tokoh Epos Ramayana. Sebab, lakonnya senantiasa mengambil Ramayana. Tak heran jika terdpat topeng Sri Rama, Laksamana, Sita, Wibisana, Hanoman, Sugriwa, Rahwana, dan pasukannya serta Kumbakarna yang berusia 400 tahun.
Gede Komang menceritakan, para pregina yang menarikan Wayang Wong itu harus berdasarkan garis keturunan. Artinya, jika para leluhurnya pregina tersebut dulunya adalah penari Wayang Wong, maka keturunannya mulai dari anak cucu dan seterusnya wajib mempelajari dan menarikan Tari Wali Wayang Wong. Ini dilakukan berdasarkan Bhisama (keputusan paruman) yang sudah disepakati para leluhurnya terdahulu. “Tarian ini hanya boleh ditarikan oleh seseorang berdasarkan garis keturunan. Jika leluhurnya terdahulu adalah penari, maka generasi penerusnya wajib ngayah, yakni mempelajari dan menarikan tarian ini," bebernya.
Jika tidak, lanjutnya, maka akan mengalami gangguan, seperti disakiti secara niskala. Sehingga, tidak ada yang berani menolak untuk menarikan tarian ini, jika memang sudah berada di garis keturunan itu. "Tentu saja tarian ini tidak mungkin bisa punah karena sudah pasti ada generasi penerusnya,” ujar Gede Komang kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin.
Bukan itu saja yang membuat tarian ini memiliki nilai magis yang tinggi. Tarian Wayang Wong juga diyakini telah ada sejak abad ke-16. Ratusan topeng tersebut disimpan di Pura Pemaksan, dan hanya dikeluarkan saat akan ditarikan di sejumlah Pura Kahyangan Tiga dan Pura Dangka di Desa Tejakula, ketika digelar piodalan. Namun, jika ingin menampilkan di luar areal pura pada saat festival ataupun pementasan lainnya, maka yang ditampilkan adalah topeng duplikatnya saja. Sedangkan sebelum pementasan di pura, para pregina wajib melakukan persembahyangan rutin dengan berbagai ritual khusus untuk memohon keselamatan dan meningkatkan taksu dari topeng yang dipakai.
“Konon, beberapa seniman cukup punya peran penting dalam kemunculan Wayang Wong ini. Ada I Gusti Ngurah Jelantik, seorang seniman yang datang ke Tejakula pada abad ke-16, serta I Dewa Batan, seniman yang datang ke Tejakula pada abad ke-15," terangnya.
Lebih lanjut Gede Komang mengungkapkan, kesulitan yang dirasakan saat menarikan Tari Wayang Wong ini adalah saat berkomunikasi. Sebab, wajib hukumnya bagi pregina untuk menggunakan bahasa Jawa kuna atau bahkan Bahasa Sansekerta saat masolah.
“Jika tidak bisa dan tidak paham bahasa Kawi dan Sansekerta tentu akan sulit berkomunikasi saat masolah. Selain kemampuan berbahasa Kawi dan Sansekerta, para pregina juga harus lihai menari dan makakawin. Jadi itulah kunci saat pementasan, sehingga benar-benar mataksu,” terangnya.
Pakaian yang dipergunakan saat pementasan Wayang Wong pun telah diatur sesuai dengan pakem. Seperti halnya topeng yang merupakan karakter dari Wayang Wong dengan menampilkan tokoh dalam epik Mahabarata. Semisal Sugriwa, Rama, Laksamana, Wibisana, Punakawan, Rahwana, Kumbakarna, Jembawan Hanoman, dan beberapa tokoh kera lainnya yang membantu Sri Rama dalam menumpas keangkaramurkaan Rahwana hingga kelompok raksasa serta topeng-topeng karakter lainnya.
Selain topeng, ada pula pakaian seperti badong, ampok-ampok, yang dipergunakan saat pementasan. Namun, pakaian Wayang Wong tersebut tak sepenuhnya disediakan di Pura Pemaksan. Bahkan hampir sebagian, para pregina membuat sendiri pakaiannya untuk digunakan saat menarikan tari wali ini.
Meski sebagai tarian sakral (wali), namun pementasan tarian Wayang Wong secara profan (komersil) untuk kegiatan hiburan tetap boleh dilakukan. Hanya saja, topeng-topeng yang ditarikan untuk hiburan tersebut merupakan duplikat dari topeng yang disakralkan. “Kami sering diundang untuk tampil di ajang Pesta Kesenian Bali, di acara-acara pentas seni ataupun di hotel-hotel. Tetap menggunakan topeng, hanya saja yang dipakai saat pementasan itu duplikatnya saja,” pungkas Gede Komang.