Pura Tanah Enggan di Banjar Juntal, Desa Kaba Kaba, Kediri, Tabanan, konon dibangun oleh raja setelah meditasi. Ada keyakinan khusus bahwa di pura ini tidak perlu lagi menggunakan sulinggih, dan pemangku pun ada pantangannya.
JIKA mendengar nama Kaba Kaba, maka terlintas di pikiran sebuah nama salah satu kerajaan yang pernah berkuasa di Bali. Hingga kini peninggalannya pun banyak, termasuk sejumlah pura tua di wilayah kekuasaan kerajaan.
Pura Dang Kahyangan Tanah Enggan, salah satu yang dibangun oleh penguasa Kaba Kaba. “ Zaman dahulu raja kan suka meditasi. Katanya demi mencapai kejayaan dibangun sejumlah pura. Salah satunya Pura Tanah Enggan,” papar
pemangku Pura Tanah Enggan, Jro Mangku I Made Yerada, kepada Bali Express (Jawa Pos Group) yang ditemui di rumahnya di belakang pura.
Ditambahkannya, ketika itu salah satu tempat pemujaan raja lokasinya cukup jauh. Sang raja konon bermeditasi agar bisa membangun pura yang lebih dekat jaraknya. Namun harus mencari tanah yang bertuah. Berdasarkan hasil meditasi, akhirnya didapat jawaban bahwa pura harus didirikan di sebuah tanah renggang. "Tanah renggang inilah kini menjadi Pura Tanah Enggan. Tanah renggang itu kini sudah tidak ada bekasnya,” ucapnya.
Diakuinya, dahulu bersama Pura Agung, Pura Kroya, dan Pura Tanah Enggan menjadi pura yang utama, sebelum Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem ada. Lantaran keberadaanya lebih awal, Pura Tanah Enggan adalah pura yang sudah tua.
Usai pembangunan Pura Tanah Enggan, lanjutnya, tidak ada yang mau jadi pemangku pura. Raja kemudian meminta leluhur dari Jro Mangku I Made Yerada untuk menjadi pemangku.
Dikatakannya, saat pertama leluhurnya sampai, tidak ada saudara atau kerabat yang membantu, karena tinggal di kawasan itu penduduk asli dari Banjar Carik Padang di Desa Nyambu. Para bangsawan kala itu yang bergelar Gusti menjadi beberapa pangempon pertama di Pura Tanah Enggan. Hingga kini ia, keturunan raja dari Kaba Kaba selalu membantu ketika ada kegiatan di pura.
Sebagai pura cukup tua, piodalannya juga cukup unik. Piodalan diselenggarakan setiap bulan, yakni setiap purnama, sedangkan piodalan besar dilaksanakan usai lima piodalan kecil. Piodalan besar jatuhnya setelah satu bulan piodalan di Pura Agung. Piodalan di Pura Agung sendiri jatuh pada dua purnama setelah Buda Kliwon Pahang. “Memang susah kalau ditanya kepastian piodalan di pura tersebut, sebab tidak memakai patokan wuku ataupun sasih,” terang pria tiga anak itu.
Ketika piodalan, diakuinya, sering ada umat karauhan karena rencang Ida napak pertiwi (turun ke dunia). Ciri pamedek yang kerauhan bisa menirukan tingkah macan hingga anak kolok. “Dari situ kita tahu kalau rencang Ida turun, dan segera dimohonkan air suci (tirta) agar kembali sadar,” ungkapnya.
Ditambahkannya, di Pura Tanah Enggan tidak diperkenankan sorang sulinggih untuk memimpin upacara, seperti mlaspas ataupun makarya besar.
Jro Mangku I Made Yerada menjelaskan, diyakini Ida Ratu Gede Putus yang berstana di Pura Tanah Enggan bermanifestasi sebagai Nak Lingsir (Sulinggih) dan beliau memimpin sendiri upacara besar di pura secara niskala sehingga tidak boleh ada sulinggih yang memimpin upacara besar di pura. “ Sejak dahulu hanya seorang pemangku saja bisa muput upacara. Selain itu, pemangku pun dilarang memakai genta," paparnya. Pantangan ini sebenanya pernah diuji oleh leluhur Jro Mangku I Made Yerada.
Leluhur Jro Mangku I Made Yerada ingin mencoba sekaligus menguji soal pantangan tidak boleh menggunakan genta. Ternyata apa yang terjadi? Genta tidak mau berbunyi, bahkan tangan sang pemangku menjadi kaku.
Rasa penasaran pun timbul, sehingga dilakukan nunas baas (meminta petunjuk).
Dari petunjuk niskala dari orang pintar itu, didapat hasil bahwa Nak Lingsir yang malinggih di Pura Tanah Enggan juga menggunakan genta, dan melarang pemangku ikut menggunakan genta. “Semenjak peristiwa itu hingga sekarang, kalau piodalan tidak memakai genta,” pungkas pria yang jadi pemangku sejak 1997 itu. Ingin nangkil?
Pura ini mudah ditemukan, karena berlokasi di sisi jalan utama Desa Kaba Kaba. Pura ini mempunyai pemaksan sampai 200 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di berbagai wilayah di Bali. Ada sejumlah palinggih di Pura Tanah Enggan, yakni Paliggih Ida Ratu Gede Putus sebagai palinggih utama. Palinggih Ida Ratu Biyang, Ida Ratu Made, Ida Ratu Nyoman, dan Ida Ratu Agung Dewa Ayu Alit. Semua palinggih ada di area utamaning mandala pura.