Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Aji Kreket (4) : Keputusan Imu dari Panji Alit

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 22 Mei 2021 | 15:07 WIB
Aji Kreket (4) : Keputusan Imu dari Panji Alit
Aji Kreket (4) : Keputusan Imu dari Panji Alit

DENPASAR, BALI EXPRESS-Beragam masalah kesehatan, mulai dari gejala, efek, cara mengobati, dan sarana untuk mengatasi sakit dirangkum dalam Aji Kreket.


Aji Kreket diserikan (dirilis bersambung) diambil dari Buku 'Berbagai Cara Pengobatan Menurut Lontar Usada, Pengobatan Tradisional Bali' yang ditulis oleh I Ketut Suwidja (1991).


Iventaris 2 halaman 4, Keputusan Panji Alit. Hakekat atau kaidah ilmu kesakitan dari Panji Alit. Panji ialah pangeran sebagai lambang dari ketampanan, kecakapan dan keperwiraan seorang putra mahkota yang banyak memiliki pengalaman heroik dan romantik. 


Alit berarti pada waktu sang pangeran masih kanak-kanak. Dan, ini berupa mantra bertujuan untuk melenyapkan sihir penyakit dan perbuatan durjana lainnya. Mantra dan upacaranya di depan Sanggah Kemulan, yaitu tempat pemujaan keluarga menghaturkan seperangkat sajen, dan sebelumnya melaksanakan kebersihan lahir dan batin.


Keputusan I Rare Angon, yaitu bocah cilik juru angon atau penggembala yang mempunyai tuah kesaktian seperti orang tua. Dalam mitologi mempunyai siklus ceritera yang dihubungkan dengan mistik lainnya, seperti Ki Semar, Toalen, Kaki Tua, Ki Sapu Leger. Dianggap sebagai abdi pada dewata (di Bali : Pamangku). 


Berupa mantra bertujuan untuk melenyapkan sihir dan berbagai penyakit dan perbuatan durjana lainnya. Dengan sarana kertas putih bergambar Sang Hyang Siwa, mengucapkan mantra dengan berkonsentrasi (Bali : mamusti) dan dipakai untuk jimat.


Pangiwa Mandori Leges. Pangiwa asal katanya kiwa dengan prefik pa berarti alat dengan mendapat persengauan atau nasalering. Berarti alat ilmu kiri atau black magic. 


Mandori (menuri) Leges yaitu daun menuri (Calotropis gigantean Ait) yang rusak karena dimakan ulat. Inilah juga merupakan pegangan para dukun untuk melenyapkan sihir. 


Meditasinya (Bali : mereh) dengan melipat tangan di dada (Bali : masidakep) di depan sanggah yaitu tempat suci pemujaan sambil memegang padupaan (Bali : pasepan) setelah melakukan mantra pangiwa ini, maka akan terjadilah suasana kegaiban sihir (ekstase) yang merupakan pengalaman pribadi dari si pelaksana. Kebanyakan pada waktu malam hari, baik sedang tidur maupun sadar. 


Apabila sudah, haruslah suasana seperti itu diakhiri dengan jalan mengembalikan unsur-unsur kegaiban itu kedalam tubuh pada kedudukannya semula (mikrokosmos atau bhuana alit, badan wadag). Peristiwa pengembalian seperti ini disebut Pangleswan dengan mantra.


Pameteng, agar orang yang berbuat tidak baik menjadi gelap pandangannya, sehingga tidak melihat arah dan jalan, dengan sarana tanah di jalan simpang empat (perapatan) dan mantra. 



Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#pengobatan #balinese #upacara #hindu #tradisi