Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Pemayun di Banjar Tegal, Buleleng; Tempat Nunas Tamba dan Jabatan

I Putu Suyatra • Senin, 13 Desember 2021 | 17:50 WIB
Pura Pemayun di Banjar Tegal, Buleleng; Tempat Nunas Tamba dan Jabatan
Pura Pemayun di Banjar Tegal, Buleleng; Tempat Nunas Tamba dan Jabatan

Di Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pura yang menyimpan banyak cerita unik. Namanya Pura Pemayun. Pura ini juga identik dengan pementasan Tari Baris Demang Demung yang merupakan tarian sakral.


KELIAN Desa Adat Buleleng Nyoman Sutrisna saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) Minggu (12/12) mengatakan, keberadaan Tari Baris Demang Demung di Pura Pemayun berkaitan erat dengan Ki Barak Panji Sakti. Hal itu kian diperkuat dengan adanya keris pusaka yang diyakini warisan dari Raja Ki Barak Panji Sakti.


Pura Pemayun lokasinya persis 400 meter sebelah barat Kantor Bupati Buleleng.  Pura ini memiliki dwi mandala. Di bagian madya mandala hanya terdapat wantilan dan bale pebatan. Sedangkan pada bagian utama mandala terdapat sebanyak 21 gugusan palinggih. Dari puluhan palinggih itu, yang paling menyita perhatian adalah palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji dan Dewa Sakti Bayu.


Dikatakan Sutrisna, ada sejumlah palinggih yang ditemukan di pura ini. Di antaranya  palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji yang diyakini sebagai  altar untuk memuja Dewa Ayu Ngurah Panji. Di dalam palinggih yang menyerupai gedong simpen, sebagai tempat disemayamkan keris pusaka milik Ki Barak Panji Sakti yang sangat dikeramatkan.


“Krama Banjar Tegal itu meyakini, jika keris milik Ki Barak Panji Sakti ini sangat dikeramatkan. Karena memiliki kekuatan magis. Jarang diperlihatkan kerisnya karena tidak boleh sembarangan,” ujarnya.


Selain terdapat palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji, di Pura Pemayun juga terdapat palinggih Dewa Bayu Sakti. Palinggih ini menyerupai singgasana yang tingginya mencapai 6 meter. Posisinya paling tinggi di antara gugusan palinggih, maka terdapat sembilan anak tangga untuk bisa menjangkau palinggih tersebut.


“Palinggih Dewa Sakti Bayu ini mirip seperti singgasana kerajaan. Menurut cerita leluhur, Dewa inilah katanya yang tertua di Pura Pemayun, karena bertahta di atas padmasana, sampai-sampai para pedanda pun mau memujanya, sehingga banyak pejabat atau politisi yang datang untuk memohon jabatan,” ungkapnya.


Selain sebagai tempat memohon jabatan, lanjutnya, banyak krama yang nangkil dari berbagai daerah untuk memohon tamba (obat). Rata-rata mereka yang nunas (memohon) tamba mengalami sakit secara niskala akibat black magic. Tamba tersebut berupa tirta yang diperoleh dari Pura Pemayun yang telah dipasupati.


“Selama ini memang banyak yang nangkil nunas tamba, utamanya yang sakit karena nonmedis. Astungkara juga banyak yang sembuh. Tiang hanya membantu nguningang (menyampaikan). Biar beliau yang memberikan kesembuhan,” tuturnya.


Selama ini, krama Banjar Tegal ini, meyakini, jika di pura ini dapat nunas penerang untuk memohon cuaca tetap terang saat musim hujan. Ini sering dilakukan apabila krama memiliki hajatan seperti upacara Panca Yadnya agar tak diguyur hujan.  “Kalau nunas penerangan di palinggih Dewa Bagus Semar. Astungkara selalu diberkati. Tiang hanya ngawekasang saja,” paparnya. 

Photo
Photo
Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #pura #sejarah pura #buleleng #tempat nunas tamba