Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Jaga-Jaga di Desa Adat Gegelang Bertujuan Netralisir Roh Halus

I Putu Suyatra • Sabtu, 2 April 2022 | 05:11 WIB
KELILINGI PURA: Jero Gede saat mengelilingi Pura Dalem Gegelang. (I WAYAN ADI PRABAWA/BALI EXPRESS)
KELILINGI PURA: Jero Gede saat mengelilingi Pura Dalem Gegelang. (I WAYAN ADI PRABAWA/BALI EXPRESS)
KARANGASEM, BALI EXPRESS - Sebelum dilaksanakannya usaba dalem di Desa Adat Gegelang, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali, masyarakat setempat menggelar tradisi jaga-jaga. Tradisi ini digelar saat rahina tilem sasih kedasa.

Tradisi yang menggunakan sapi tersebut bertujuan untuk menetralisir roh-roh halus supaya tidak menganggu jalannya usaba dalem atau usaba sumping.

Sapi yang digunakan bukanlah sembarangan sapi. Pada tradisi tersebut, diharuskan menggunakan sapi jantan yang sudah disucikan. Penyuciannya dilakukan dengan cara dikebiri dan disucikan selama tiga bulan, sampai sapi yang awalnya berwarna hitam menjadi merah. Bahkan setelah itu, sapi diberi nama jero gede.

Tepat di rahina tilem sasih kedasa, Jero Gede akan dibawa menuju pura khayangan tiga untuk matur piuning. Mulai dari Pura Puseh Telengan, kemudian digiring menuju Pura Dalem Gegelang. Dalam perjalanan, diikuti oleh masyarakat disana, serta diiringi gambelan baleganjur.

Setibanya di pura, sapi tersebut akan mengelilingi pura sebanyak tiga kali, kemudian dicambuk supaya keluar darah. Untuk di Pura Puseh, akan dicambuk dibagian kanan belakang sapi, dan saat di Pura Dalem bagian kanannya.

Bendesa Adat Gegelang, Jro Mangku Ketut Arta menjelaskan, setelah dilakukan matur piuning di masing-masing pura, jero gede akan dibawa menuju perempatan yang ada di Desa Adat Gegelang. Disana sapi tersebut akan dimatikan oleh krama Desa Adat Gegelang.

“Nanti setelah padem (sapi mati), sorenya dilaksanakan caru,” ujar Jro Mangku Arta.

Jro Mangku Arta menambahkan, tradisi jaga-jaga ini sudah ada sejak zaman dahulu, dan terus di lestarikan. Meskipun situasi Pandemi sedang marak-maraknya, tradisi ini tetap berjalan, namun krama- nya dibatasi.

“Kalau ini tidak dikakukan, nanti ini mengakibatkan ada musibah di sini (Gegelang). Karena ini bertujuan untuk ngerahayuang jagat Gegelang,” lanjutnya.

Karena saking banyaknya krama di sana, Jro Mangku Arta membagi dua untuk pelaksanaan tradisi ini. Ada yang bagian ngiringang jero gede, dan ada yang menyiapkan sarana upacara.

“Kalau sekarang Banjar Adat Kaler yang nerima, Banjar Adat Kelod yang nerima bagian upakara,” jelasnya.

Setelah selesai melakukan caru, mulai pukul 18.00 sampai keeeokan harinya pukul 06.00, warga disana tidak diperbolehkan keluar rumah.

“Setelah caru, sorenya jam 6 sore (pukul 18.00) dilakukan penyepian adat sampai besok pagi jam 6 pagi (06.00),” tutupnya. (dir) Editor : I Putu Suyatra
#bali #tradisi bali #tradisi jaga jaga #hindu #tradisi unik #desa adat gegelang